Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Saat Teduh Ibrani 3:13 Ayat Alkitab Tentang Saling Menasehati

Renungan Saat Teduh Ibrani 3:13 Ayat Alkitab Tentang Saling Menasehati

Ibrani 3:13 (TB) Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.

“Sebagaimana dosa berkuasa atas kematian, kasih karunia dapat berkuasa melalui kebenaran sampai pada hidup kekal melalui Yesus Kristus Tuhan kita. Kasih karunia Allah lebih kuat daripada kuasa dosa, dan Anda lebih dari pemenang melalui Dia yang mengasihi Anda. ini adalah perkataan yang pasti. Mereka yang menerima kekayaan kasih karunia telah berkuasa dalam hidup ini melalui Yesus.” ~ Andrew Murray, The Throne of Grace.

Manusia yang mati secara rohani, hanya memerlukan Yesus, ia tidak akan membutuhkan nasehat. Namun, untuk mencapai kesuksesan di dalam dunia, mencapai cita-cita hidup sesuai dengan standar dunia. Ia membutuhkan nasehat, disiplin, dan kerja kerasa. Semua ini didapatkan dari nasehat yang bijak, di mana memaksa diri untuk dapat terus terbiasa dengan kehidupan. 

Anda tidak membutuhkan Yesus untuk sukses, Anda tidak membutuhkan Yesus untuk kaya di dalam dunia. Anda hanya perlu bangun dari tempat tidar Anda dan berpikir lebih kerasa apa yang harus Anda kerjakan? Anda harus memulia. Sekarang. Saya serius dengan ini, Anda sekarang mungkin berpikir saya aneh.

Biar saya jelaskan, jika Anda percaya Yesus dengan agenda Anda untuk menjadi sukses dan mencapai kenikmatan dunia. Jujur kepada Anda, Anda tidak sedang menyembah Yesus, Anda tidak sedang menginginkan pribadi Yesus. Tetapi Anda sedang menyembah pencapaian Anda, Anda sedang menginginkan pencapaian Anda, Anda sedang menyembah berhala diri Anda sendiri. Anda harus betobat dari iman yang dangkal kacau dan mematikan seperti ini. Saya harap Anda panas dan merasa tidak nyaman ketika merenungkan apa yang saya tulis ini, karena berhala Anda sedang diganggu, sedang terancam.

Namun, jika Anda orang Kristen Anda memiliki iman yang sejati. Anda membutuhkan Yesus bukan agar Anda kaya dan sukses. Meskipun semua itu bisa saja menjadi bagian kehidupan Anda, namun dengan kepercayaan bahwa Kristus jauh lebih indah, lebih mulia dan lebih berharga dari semua harta kefanaan yang ada saat ini. Anda akan memiliki pengertian, bahwa pencapaian Anda adalah kasih karunia. Dan Anda akan memakai setiap kelebihan itu untuk mengembangkan pelayanan yang berpusat pada jiwa-jiwa yang harus dibawa bertumbuh dalam Yesus.

Saya mengajak Anda untuk masuk ke dalam maksud dari penulis surat Ibrani, ini bukanlah nasehat yang berdasarkan/berlandaskan hikmat manusia yang berdosa. Saya ingin tegaskan, bahwa nasehat yang akan kita pelajari sekarang adalah nasehat yang berpusat pada Kristus, pada Injil, pada kepercayaan akan kehidupan baru yang telah ada di dalam Kristus. Tidak ada yang lebih penting dari hal ini, yaitu di dalam Kristus.

Mengapa nasehat berdasarkan Injil sangat penting? Mengapa hal ini harus kita lakukan kepada diri  sendiri dan orang lain? Maka saya menjawab pertanyaan ini dengan dua pernyataan. Yang akan bersama-sama kita renungkan dan bagaimana hal ini dapat menjadi penerapan praktis untuk kehidupan Kristen kita, Kekristenan sejati yang semakin mencintai Kristus dari hari ke hari.

Pertama, Anda harus mengerti betapa berbahayannya dosa, kekerasan hati yang diakibatkan oleh natur manusia yang adalah memang cinta dosa.

Kedua, bagaimana saya menasehati diri saya dengan Injil dan bagaimana kehidupan saya diubahkan oleh injil dan bagaimana orang lain baik orang percaya dan tidak percaya dapat mengerti Injil dari kehidupan saya.

Saya berdoa kiranya kedua poin, di atas membawa Anda pada kehidupan yang lebih lagi mengasihi Kristus, ingin selalu mengenal bahkan menikmati Kristus dan siap untuk selalu melayani Kristus. Apapun pekerjaan Anda.

Renungan Saat Teduh Ibrani 3:13 Ayat Alkitab Tentang Saling Menasehati

1. Dosa tidak sedang bercanda

Beberapa orang dengan bahagia bercanda dengan candaan yang cabul, beberapa orang dengan bahagia menyebutkan hal-hal yang tidak pantas. Beberapa orang yang mengaku seorang hamba Tuhan, masih hidup dalam keserakahan, kemunafikan, ingin dihormati dan dihargai. 

Beberapa orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Seorang suami tidak mengasihi isterinya tetapi selalu saja menyalahkannya. Seorang isteri tidak pernah menghormati suaminya yang saleh. Mereka semua ada dalam perbudakan dosa, hati dan perasaan yang ditawan oleh kuasa kematian.

Seorang anak muda tidak pernah menghormati orang lebih tua, dengan gampang ia menyakiti, menyalahkan orang tuanya. Beberapa orang bunuh diri karena tidak menemukan kepuasan, sehingga ia mendefinisikan bahwa dirinya sedang kosong. Padahal kekayaannya melimpah. 

Saudaraku, dosa adalah kematian, dosa adalah kengerian. Orang-orang percaya yang menjadi permasalah utamanya. Mereka mencintai beberapa dosa tetapi membenci beberapa dosa yang tidak menjadikan diri mereka nyaman dan terhormat. Orang percaya, baik itu Anda dan saya, seringkali berdosa, meminta pengampunan untuk diselamatkan dari hukuman dosa, ketidaknyamanan dosa.

Tetapi, kita tidak ingin diselamatkan diri dosa, dalam diri kita dan kehendak kita, kita masih mencintai dosa tersebut. Inilah yang terjadi pada orang Israel, yang menjadi contoh oleh penulis surat Ibrani. Di mana orang Israel memberontak terhadap Allah, mereka tidak suka dengan perbudakan, tetapi mereka cinta perbudakan di tanah Mesir. Mereka ingin kembali ke sana.

Berkali-kali mereka menyalahkan Tuhan, berkali-kali mereka ingin kembali ke tanah perbudakan. Berkali-kali kehidupan mareka ada dalam kemarahan yang melawan Allah. Mereka sangat mencintai dosa mereka di tanah Mesir, dosa di mana mereka hidup tanpa aturan dari Allah, hidup dalam penderitaan namun tanpa penyertaan kepada kasih Allah yang mendidik. 

Mereka cinta dengan segala kebebasan mereka yang di mana semua itu ada dalam cengkraman Mesir sebagai gambaran yang baik untuk melihat dosa yang mencangkram anak-anak Tuhan hari ini.

Mungkin Anda berpikir, ya Israel pada waktu itu memang keras kepala, tegar tengkuk. Saudaraku, Israel pada masa itu adalah gambaran nyata dari jenis hati dan pikrian Anda, ya itu adalah gambaran yang baik untuk menujuk ke wajah Anda yang seringkali tidak sadar bahwa Anda juga seorang yang cinta dosa dan seringkali enggan untuk bertobat dan Anda membela diri Anda sendiri. 

Saudaraku, seringkali saya mendapati diri saya menyesali pertobatan saya, saya di dalam aturan Allah juga seringkali jatuh dalam pemikiran yang sama seperti Bangsa Israel. Saya seringkali ingin kembali kepada kehidupan lama saya di mana saya menikmati perbudakan dosa tanpa saya sadar bahwa saya sedang diperbudak. Ini menyedihkan, baiklah Anda bersama saya muak, benci dan benar-benar merah terhadap pemikiran yang kotor, memberontak dan melawan Allah semacam ini.

Saya sangat yakin, kita semua memiliki natur yang sama, bahwa dosa sangat menarik. Mengapa semua ini bisa terjadi, mengapa kita seringkali menyembah berhala diri kita, kerinduan kita bukan Tuhan, mengapa? Paling tidak ada 2 hal yang mendasarinya, Anda dapat menambahkannya;

  • Pertama, kekeran hati, yaa kita keras hati. Inilah yang harus kita lihat dan kita doakan setiap saat tentang diri kita. Kekerasan kepala, hidup yang melihat keindahan fana sebagai keindahan yang sejati. karena kekerasan hati inilah Anda tidak mau membaca Alkitab, bangsa Israel tidak benar-benar taat pada Firman Allah, mereka munafik, mereka takut kepada Allah bukan karena cinta, tetapi karena mereka mencintai diri sendiri. Dan mereka enggan untuk didik oleh Allah maka mereka takut dan menghindar dari Allah.
  • Kedua, sih jahat ular tua yang tidak suka kita percaya kepada Allah, dia yang sama berkotbah kepada bangsa Israel untuk membuat patung lembu emas. Dia yang sama saat ini berkotbah kepada Anda sehingga Anda lebih memilih untuk tidak percaya kepada Allah, tidak berpenyerahan pada kasih karunia dan hidup dalam kepercayaan kepada Yesus semaunya Anda. Anda lebih percaya diri Anda sendiri dan mengandalkannya.

Dosa tidak pernah bercanda, dosa akan selalu mengintai, lihatlah kecenderungan Anda, renungkanlah itu siang dan malam. Teruslah berdoa untuk kematian dosa dan bencilah dosa sebagaimana Allah membenci dan muak pada pendosa dan dosa. menyesalah sama seperti Allah menyesal menciptakan manusia, karena manusia jahat, manusia, diri Anda tidak layak dan hanya layak binsa. Begitulah dengan saya.

Saudaraku, dosa tidak pernah bercanda, dosa selalu serius untuk membawa jiwa kita kepada kebinasaan. “Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk  ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.” Ibrani 3:18-19, Anda dapat juga membaca dan merenungkan Yohanes 3:36, untuk pemebelajaran lebih lanjut untuk poin ini.

Keresahan pembaca..

Mungkin Anda bertanya, judul renungan ini tentang menasehati sesama, mengapa yang dijelaskan malahan tentang dosa. Baiklah saya akan menjawab keresahan Anda, begini, saya tidak ingin Anda menjadi penasehat Ajaib yang gila hormat dan berpusat pada pikiran, filsafat, dan perasaan Anda yang berdosa. Maka saya sebelum Anda menasehati sesama Anda, saya ingin Anda mengerti satu hal penting bahwa diri Anda juga pendosa. 

Anda tidak pantas samasekali, menasehati sesama Anda dan nasehat Anda berdasarkan hikmat Anda. Tidak pantas. Anda harus menasehati sesama Anda berdasarkan Injil dan untuk mengerti Injil Anda harus mengerti betapa berdosanya diri Anda sehingga Anda dapat melihat dan menikmati betapa indah dan berharganya Injil. Sehingga Injillah yang menjadi pusat hidup Anda dan Anda menasehati sesama untuk mengajak mereka kembali kepada kehidupan yang berpusat pada Kristus. tidak dapat kurang dan tidak dapat lebih. 

Sekarang untul lebih jelas tentang pembahasan ini, mari kita masuk ke poin ke dua.

2. Saya dan nasehat saya dan menasehati diri saya

Kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, Anda orang Kristen, Anda orang percaya. Anda dan saya termasuk orang-orang yang menerima bagian di dalam Kristus (Ibarani 3:14). Bagian yang seperti apa itu? Pribadi Yesuslah bagian kita yang percaya kepada-Nya.

Injil adalah tentang Allah yang lebih dulu datang kepada manusia. Injil adalah tentang apa yang Allah kerjakan untuk menyelamatkan manusia. Injil adalah tentang Kristus dan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa, di dalam kekudusan-Nya dan kebenaran-Nya yang sejati dan mutlak. Ia tidak pernah berdosa, Ia dikasihi oleh Allah yang sebagai anak yang berkenan dan selama hidup-Nya memang demikian adanya.

Yesus yang meminum cawan murka Allah, Yesus yang menerima semua hukuman dosa manusia. Semua dosa ditimpakan kepada-Nya, sehingga Yesus seolah-olah pendosa besar, Yesus menjadi dosa karena semua dosa Anda dan saya. Di atas salib Yesus  menerima semua murka kekal Allah. Dia  yang kudus menjadi hina karena Anda dan saya yang sangat hina, Anda dan saya yang adalah pendosa besar. 

Tetapi, karena kasih karunia yang begitu besar, sehingga Yesus memberkan diri-Nya yang mulia untuk pendosa besar. Pendosa besar itu diselamatkan dari kutuk hukuman dosa, dibebaskan dari murka Allah yang kekal. Di bebaskan dari perbudakan dosa yang mengerikan dan menekan. Di bebaskan dari kegelapan pakat. Menjalani jalan yang dipenuhi cahaya Injil. Bukankah ini kabar baik, bukankah inilah yang harus memenuhi hati dan pikiran kita setiap hari/setiap saat.

Ketika Injil meresap di dalam keidupan Anda, ketika Injil menjadi pusat dari hidup Anda, merenungkan Injil dan melihat karya salib. Sebagai satu-satunya berita yang paling berharga. Anda akan menemukan diri Anda dipenuhkan dengan Firman yang sejati. Belaskasihan yang dibutuhkan pendosa besar seperti Anda, Anda temukan di dalam Injil.

Menasehati diri dengan Injil, berarti melihat betapa berdosanya diri, betapa tidak layaknya Anda maupun saya mendapatkan belakasih. Tetapi pada saat yang saya, hati bergetar ketika memandang kepada salib Kristus. Di mana semua hukuman dosa ditimpakan kepada-Nya dan Dia menerima semua hukuman Anda dan saya.

Pada saat inilah, kita menikmati ayat yang menjadi dasar perenungan kita, yaitu menasehati sesama kita. Orang percaya, untuk membawa mereka juga hidup di dalam Injil. Hidup untuk merenungkan Injil, hidup untuk dapat menikmati Injil, karya keselamatan yang dianugerhakan di dalam Yesus.

Injil merubah hati dan cara pandang, Injil tidak mengubah tingkah laku, tetapi Injil menjadikan orang yang berpenyerahan pada Injil dan menasehati dirinya sendiri dengan Injil setiap hari. Di mana saat teduh pembacaan Alkitab, membawa ia kepada kasih Allah dan murka Allah terhadap dosa.

Orang tersebut, akan muak dan membenci dosa, bukan karena dosa tidak membuat Dia nyaman. Tapi karena dosa adalah pemberontakan melawan Kristus. saudaraku bagaimana mungkin Anda menyakiti orang yang Anda cintai. Begitu juga dengan cinta Anda kepada Kristus, ketika Anda sadar betapa besarnya cinta Kristus kepada Anda, maka Anda akan berpenyerahan pada cinta ini dan diubahkan oleh cinta ini.

Baca Juga:

Roh Kudus yang ada di dalam kitalah yang akan membawa kita terus ke dalam, kuasa nasehat, nasehat yang berpusat pada pemberitaan Yesus Kristus yang disalibkan dan bangkit. Dan sekarang ada bersama-sama dengan orang-orang yang telah Ia tebus dengan darah yang mahal.

Tuhan, Bapa yang berkuasa, pencipta semesta. Di dalam kehidupan yang selalu membawa aku menjauh dari Injil. Kehidupan yang selalu membawa aku pada nasehat-nasehat kosong hasil dari pikiran pendosa. Tolong aku untuk berdiri teguh di atas Injil Sang Batu karang, sehingga hati dan pikiranku dipenuhi oleh Injil dan hati yang dipenuhi oleh Injil. Aku mampu membawa Injil kepada saudara-saudara seiman dan di tengah ketidak mengertian orang percaya akan keindahan Injil, mampukan aku bersabar untuk memberitakannya. Roh Kudus-Mu. Aku yakin bersamaku. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Saat Teduh Ibrani 3:13 Ayat Alkitab Tentang Saling Menasehati"