Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Kristen Tentang Menjaga Hati; Saya Seharusnya Tidak Mendengarkan Kata Hati

Cara Menjaga Hati Menurut Alkitab; Saya Seharusnya Tidak Mendengarkan Kata Hati

Amsal 4:23 (TB) Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Pengkhotbah 9:3 (TB) Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusia pun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

Pengkhotbah 9:3 (BIMK) Jadi, nasib yang sama juga menimpa mereka semua. Dan itu suatu hal yang menyedihkan sebagaimana juga segala kejadian di dunia. Selama hidupnya hati manusia penuh kejahatan, dan pikirannya pun penuh kebodohan. Lalu tiba-tiba ia menemui ajalnya.

Cara terbaik untuk menjaga hati, karena dari sanalah sember dan kehidupan dapat terlihat. Orang jahat, karena hatinya jahat, orang munafik karena hatinya munafik, orang bebal karena hatinya bebal. Dan orang yang berpusat pada hati dan mendengarkan kata hatinya pasti tersesat dan semakin jauh dari Allah. 

"Orang yang benar, karena Ia cinta pada firman Kristus."

“Abaikan kata hati dan marilah kita mendasarkan kehidupan pada Alkitab”

Saya tidak sedang memberitahukan anda untuk berbohong dan menyembuyikan apa yang ada di dalam hati. Justru sebaliknya kita harus jujur, di hadapan Tuhan apa yang ada di hati kita, keraguan, kejahatan, sakit, dan segala yang jahat.

Jika Anda memiliki seseorang yang dapat dipercaya dan mampu membawa anda pada nasehat yang berpusat pada Kristus, ceritakan isi hati anda kepada orang tersebut. Seperti orang tua rohani yang saleh dan benar-benar cinta Tuhan dan Alkitab.

Baca Juga: Renungan Markus 7:30-37

Salah satu alasan mutlak mengapa saya tidak ingin mendengarkan kata hati saya, terlebih dalam hal mengambil keputusan yang besar untuk masa yang akan datang. Karena hati saya pembohong. 

Keputusan seperti menikah dengan siapa? Seperti pelayanan di mana? Atau saya harus bekerja apa? Semua ini jika didasari pada hati, akan sangatlah rapuh. Ini adalah keputusan yang harus digumulkan dan dibawa kepada Allah dan belajar untuk berproses dan menjadi sangat Alkitabiah ketika mengambil keputusan.

Mungkin selama ini, kita mendengarkan kata-kata yang cukup populer dan ini menyenangkan. Yaitu percayalah pada diri sendiri, jangan pernah dengarkan apa kata orang. Hidupmu adalah kamu yang bertanggung jawab. 

Semua ini baik jika didengarkan, baik jika dikerjakan dan baik ketika setiap keputusan tersebut menghasilkan kesuksesan bagi diri kita. Tetapi apakah esensi dari kehidupan adalah mencapai kesuksesan seperti apa yang dunia ini tunjukkan? Dalam konteks Kekristenan saya bertanya kepada anda.

Cara Menjaga Hati Menurut Alkitab; Saya Seharusnya Tidak Mendengarkan Kata Hati

Mengapa kata hati tidak dapat dipercaya?

Tentang hati, Alkitab memberitahukan kita bahwa hati manusia pembohong, hati manusia licik dan dari hati itulah muncul segala hal yang jahat. (Yeremia 17:9; Markus 7:21-23). Ini adalah fakta yang mengejutkan. Hati sangat pandai berdusta dan menyembuyikan setiap kesalahan yang ada pada diri kita sendiri.

Itu mengapa begitu banyak argument logis yang seringkali dipakai untuk bersembuyi dari kebenaran dan menikmati kecemaran.

Yeremia 17:9 (TB) Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

Markus 7:20-23 (TB) Kata-Nya lagi: ”Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Hati manusia tempat di mana terciptanya segala kebejatan dan akar dari pemberontakan setiap perbuatan dosa. Hal-hal najis berasal dari sana. Hati sangat tersembunyi dan selalu mencari alasan untuk dapat tetap membenarkan diri di hadapan Allah dan manusia.

Saya beberapa kali menjadi seseorang yang mudah marah, saya mudah tersinggung dan sangat gampang merasa tidak nyaman ketika seseorang banyak bertanya kepada saya. Lalu saya dengan baik dan ramah menyampaikan alasan bahwa saya lelah. 

Tetapi baik itu memiliki alasan atau tidak, semua fakta tentang diri saya merupakan cerminan dari isi hati saya. Apa yang Yeremia katakan bahwa hati adalah pendusta. 

Sebagai anak muda, saya mendapati hati saya, beberapa kali ketika saya tertarik pada lawan jenis saya, saya berbohong pada diri sendiri dengan mengatakan bahwa, “saya cinta pada dia, saya mengasihinya.”

Padahal saya sedang jatuh cinta pada diri saya sendiri dan mencari kesenangan dari lawan jenis saya. ketika membukakan dosa ini, saya merasa saya adalah orang paling celaka. Tetapi puji Tuhan Roma 8:1-2 sangat menghibur dan memberikan pengharapan kepada saya yang pendosa ini.

Jika dunia mengajarkan kita untuk percaya pada hati kita, tetapi ketika kita mempelajari Alkitab kita akan menemukan bahwa hati tidak dapat dipercaya.

Dunia mengajarkan untuk percaya pada diri sendiri, mimbar gereja yang tidak berpusat pada Alkitab, akan menghibur anda dengan mengatakan, “percayalah pada kata hati anda, yakini itu dan kerjakan apa yang anda inginkan, jika berhasil jangan lupa berikan milik Tuhan.”

Ini mengerikan, oleh karena fakta inilah, sekarang saya menuliskan artikel ini dan memerintahkan anda untuk tidak percaya pada hati anda, untuk jujur pada diri sendiri dan kembali pada Kebenaran yang mutlak yang berasal dari Alkitab.

Alkitablah yang dapat dipercaya

Kekristenan anda dan saya, seharusnya menjadi sangat Alkitabiah tidak ada yang lebih penting dari kebenaran ini. Dan ini adalah perintah. Kita harus hidup dengan sangat Alkitabiah. Terutama dalam hal pengambilan keputusan. Saya mengajak anda merenungkan ini sekarang.

Hal yang mengerikan dalam kehidupan Kristen bukanlah penindasan dan penderitaan hidup. Tetapi kehidupan yang tidak Alkitabiah, miskin secara rohani, pondasi iman yang rapuh bahkan didasarkan pada hati. Ini sangat berbahaya. Kita harus benar-benar menjadi Alkitabiah.

Karena fenomena masa kini, kita yang enggan untuk mempelajari Alkitab maka kita harus mulai mempelajarinya. Karena esensi dari apa yang dapat kita pelajari di Alkitab merupakan perjalanan kita untuk mengenal Pribadi yang sungguh jujur pada kita dan Ia mengasihi kita.

Dialah yang layak didengarkan, Dia menyatakan kita berdosa tanpa harapan. Dan di dalam Dia adanya harapan. Karena Dia telah memberikan diri-Nya untuk menerima semua kutuk dosa dan dosa kita, oleh kasih karunia kita diampuni ketika kita mengaku dosa kita ketika kita betobat. Untuk kita hidup dalam terang dan tidak mengikuti kata hati yang menyesatkan.

Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Firman Tuhan dapat dipercaya, karena faktanya semua hal yang manusia rencanakan akan berakhir pada makna yang bias (Pengkhotbah 1:13; 2:22). Tidak ada arti dan benar-benar hampa. Manusia gagal untuk menemukan kepenuhan yang hanya bisa didapatkan melalui kehidupan yang mendengarkan Firman Tuhan. Melakukannya dan hidup taat kepada Firman.

Setiap kita diciptakan untuk kemuliaan yang berasal dari Tuhan, maka hanya ketika kita mendengarkan apa yang Tuhan katakan melalui Alkitab, kita menemukan kejujuran hidup. Sebab hikmat berasal dari-Nya, sebab kebijaksanaan yang sejati adalah Tuhan sendiri.

Ia adalah pelita ketika kegelapan itu datang, kita ada di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, pada saat yang sama. Sumber dosa adalah hati kita, maka dari itu tidak ada tempat bagi Kristen yang Alkitabiah untuk menjadikan hati sebagai pusat dari kehidupan.

Hanya Dia, Yesus yang telah disalibkan dan bagi kita, Dialah yang layak menjadi pusat kehidupan kita, sebab di dalam Dia ada kehidupan dan kemenangan atas dosa. Ini tentang Injil Yesus Kristus yang menjadi pondasi iman kita dan yang benar-benar dapat kita percayai.

Hal praktis untuk mempercayai Alkitab yang dapat anda dan saya lakukan

  • 1. Pelajarilah Alkitab, tidak ada hari tanpa membaca dan merenungkan Alkitab! Selalu ada waktu, maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak membaca dan mempelajari Alkitab, karena HP anda selalu ditangan. Alkitab akan selalu membawa kita pada perenungan Injil yang menyegarkan menyadarkan identitas dan hidup bertobat setiap hari.
  • 2. Hiduplah dalam komunitas Kristen yang sehat, mereka yang setia pada Alkitab dan tidak mencari keuntungan diri sendiri dari Alkitab! Tanpa komunitas kita lemah.
  • 3. Hafalkan ayat Alkitab, karena pikiran dan hati haruslah diisi dengan firman Tuhan. Kita dapat bersaat teduh dengan ayat-ayat yang kita hafalkan tanpa membaca kembali Alkitab, biarlah di dalam pikiran kita ada firman Tuhan.
  • 4. Belilah buku-buku rohani dan bacalah untuk pertumbuhan iman anda. Kita harus belajar dari banyak orang saleh, puji Tuhan, Ia menganugerahkan berkat-Nya melalui buku-buku rohani, orang-orang yang telah bergumul bersama Tuhan, marilah kita belajar melalui buku-buku yang mereka tulis dan kita semakin mengenal TUHAN melalui buku yang kita baca.
  • 5. Latihlah diri untuk selalu melakukan hal baik untuk diri sendiri dan orang lain. Anda dapat memulainya dengan bangun pagi dan olahraga. Kita harus membuat disiplin-disiplin kecil bagi diri sendiri agar selain bertumbuh secara rohani, kita juga memiliki keahlian untuk menjadi berkat bagi sesama. Tidak ada cara lain, selain membiasakan diri kita, kiranya Roh Kudus memampukan kita. 

Berdoa untuk melihat keindahan Injil

Daniel Nealon di dalam sebuah arikel di Core Christianity yang berjudul, “Why You Shouldn’t Listen to Your Heart” yang menginspirasi saya menulis artikel ini, Ia menuliskan; 

Hati kita bersukacita hanya karena Yesus, Dialah yang melakukannya. Ketika kita melihat kepada Dia, yang telah tertusuk hati kita yang kotor dan penuh dosa kenajisan, kita akan menemukan penghiburan yang menyegarkan jiwa. Sebagai pendeta Presbiterian Skotlandia, Robert Murray M'Cheyne pernah berkata, “Untuk setiap pandangan pada diri sendiri, lihatlah Kristus sepuluh kali. Dia sangat cantik.” 

Hanya ketika kita melihat keindahan Kristus maka kita dapat hidup, tidak lagi mengindahkan hati kita, kita dengan jelas merasakan dan mengerti setiap fakta hati kita yang jahat. Dan bergumul dalam doa kita untuk terus melihat kasih karunia yang nyata dari Allah di dalam Yesus yang telah disalibkan.

Baca Juga: Renungan Refleksi diri

Inilah doa saya bagi anda yang sekarang membaca tulisan ini. Sama seperti yang Paulus doakan bagi Jemaat di Efesus. 

Efesus 1:18-23 (FAYH)  

Saya berdoa supaya hati Saudara dipenuhi dengan terang, sehingga dapat memperoleh pengertian mengenai masa depan yang telah disediakan-Nya bagi Saudara. 

Saya ingin supaya Saudara menyadari bahwa Allah telah diperkaya, karena sebagai milik Kristus kita telah diberikan kepada-Nya!

Saya berdoa supaya Saudara mengerti betapa besar kuasa-Nya untuk menolong mereka yang percaya kepada-Nya. 

Kuasa yang besar itulah yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di tempat kehormatan di surga, di sebelah kanan Allah, jauh di atas semua raja, pemerintah, penguasa, diktator atau pemimpin mana pun. 

Ya, kehormatan-Nya jauh lebih mulia daripada kehormatan siapapun juga di dunia ini atau di dunia yang akan datang.

Allah sudah menempatkan segalanya di bawah kaki-Nya dan menjadikan Dia Kepala tertinggi dari jemaat, yang merupakan tubuh-Nya, dipenuhi oleh diri-Nya sendiri, Pencipta dan Pemberi segala sesuatu di segala tempat.

Doa 

Engkaulah pemilik hidup kami, ketika kami benar-benar percaya dan telah dilahirbarukan. Maka dari itu, tawanlah terus hati kami pada kemuliaan dan keinginan-Mu. Untuk kami selalu saja berjalan tidak lagi mendasarkan segala sesuatunya pada hati kami yang sesat, tetapi pada Alkitab yang adalah mutlak benar, mutlak firma-Mu dan yang membawa kami pada terang kehidupan untuk menjadi berkat bagi banyak orang, dalam nama Yesus Tuhan kami yang indah. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Kristen Tentang Menjaga Hati; Saya Seharusnya Tidak Mendengarkan Kata Hati"

 Klik Gambar di Bawah Untuk Memberikan Persembahan

 

Klik gambar untuk mendapatkan sumber 
daya renungan berpusat pada Injil