Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hancurnya Kepercayaan Diri

Hancurnya Kepercayaan Diri

Setelah saya lulus SMK (2017) saya sangat percaya diri bisa menyelesaikan kuliah saya tepat waktu dan menjadi seorang gembala. Saya memulai perjalanan saya dalam nama Tuhan Yesus dan dengan segala pengetahuan teologi yang saya pelajari pada waktu SMK dan saya telah menyelesaikan pembacaan Alkitab saya setidaknya 3 kali dari Kejadian sampai Wahyu.

Kepercayaan diri saya meningkat ketika saya sampai di sekolah Seminari, saya terus belajar dengan semangat, menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu. Saya olahraga setiap hari sabtu pagi, berlari 30 menit. Dan saya merasa saya telah memiliki hidupan saya dan kehidupan yang baik, masa depan yang indah telah ada dalam genggaman tangan saya.

Sampai akhirnya, hari ini 01 Mei 2024 hampir 7 tahun kemudian saya menyimpulkan bahwa Yesus sangat suka menjatuhkan harga diri, kepercayaan diri dengan cara yang sangat halus, indah dan menyakitkan. Saya hari ini masih mengerjakan tugas akhir kuliah. Anda tahu, bahwa saya tidak menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. Apakah itu menghancurkan saya? Di sisi lain, menhancurkan saya, saya kehilangan kepercayaan diri saya, harga diri saya, dan saya kehilangan diri saya sendiri.

Ada saat-saat di mana saya berpikir untuk mengakiri hidup saya, ada saat-saat di mana kehidupan saya begitu tanpa harapan dan saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya percaya diri bisa melakukan segala hal yang baik untuk masa depan yang indah dan membanggakan keluarga dan orang tua saya. Namun realitasnya, saya seperti berdiam di tempat dan tidak ada kemajuan. Dan suara untuk menyerah begitu jelas. Ada di dalam kepala saya.

Sampai hari ini, saya menyimpulkan bagaimana Kristus membawa saya pada kasih karunia. Tanpa kehancurkan kepercayaan diri, saya akan terus menjadikan kemampuan saya, diri saya sendiri sebagai tuhan dan tidak menyerahkan hidup saya pada kasih karunia. Dan saya tidak akan bisa melihat kebesaran kasih karunia yang begitu indah dan nyata menyertai saya.

Seperti yang Paulus tulisakan kepada jemaat di Korintus, dalam kelemahan dan ketidakberdayaan hidup. Kasih karunia makin nyata. Hari-hari ini saya belajar merenungkan kasih karunia lebih lagi, berdoa untuk sebuah kesabaran dan kasih kepada sesama yang semakin besar. Saya belajar untuk memiliki hati seorang gembala yang penuh kasih dan tidak cepat menghakimi dan bereaksi terhadap suatu kejadian. Saya perlu belajar untuk terus memusatkan perhatian saya pada kasih karunia Tuhan. 

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Kor. 12:9-10)

Sama seperti Paulus yang dibuat buta dan harus melarikan diri dari pengejaran orang-orang yang ingin membunuhnya. Agar ia dapat belajar untuk mempercayakan dirinya kepada Kristus, kita juga perlu belajar untuk menjadi buta dan bodoh, tidak berdaya hingga runtuhnya kepercayaan diri kita. Sehingga hanya Kristus saja yang menjadi kemegahan hidup kita, kita bergantung pada-Nya, untuk kehidupan yang melayani Dia, kita bergantung pada-Nya untuk kematian dosa-dosa kita, kita bergantung pada-Nya untuk melakukan segala  sesuatu yang baik bagi sesama.

Lembah kelam yang Anda dan saya alami hari ini, membawa kita semakin melihat keindahan Kristus yang menyala begitu terang. Saya mengundang Anda terus merenungkan Injil bagaimana Yesus disalibkan karena menerima hukuman dosa kita, Yesus mengalami maut yang paling mengerikan. 

Bukan karena dosa yang Yesus lakukan, melainkan karena dosa kita, karena pelanggaran kita, karena segala pemberontakan kita yang begitu besar terhadap Allah. Agar kita diperdamaikan dengan Allah, Yesus merelakan diri-Nya, untuk menjadi dosa, agar kita yang hari ini percaya, menyerahkan hidup kita untuk Dia, bertobat dari dosa setiap hari. Diberikan makna yang indah dalam hidup, bahkan dalam kegagalan yang paling menyakitkan, kasih karunia begitu nyata.

Ini bagaikan minyak yang menyalakan api, untuk terus hidup bagi Kristus untuk terus menjadi lebih rendah hati, lebih bergantung pada kasih karunia, untuk terus menyalibkan diri dalam   penderitaan yang harus diterima selama masih hidup. Anda dan saya dipanggil untuk memberitakan Injil, sebelum kita berjalan di jalan pemberitaan Injil. Ada begitu banyak kejadian yang harus kita lalui dan itu membentuk kita.

Hari ini saya bersyukur karena Yesus menghancurkan harga diri saya, menghancurkan harapan saya untuk bergantung pada manusia, menghancurkan masa depan saya dan menghancurkan kepercayaan saya pada diri sendiri. Dan masih memakai orang-orang yang terkasih untuk menolong saya menyelesaikan tenggungjawab saya. Agar saya belajar untuk benar-benar bergantung pada kasih karunia dan bagi Dialah segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.