Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Kejadian 1:14-23 Urutan Penciptaan Dalam Alkitab Hari Ke Empat dan Ke Lima

Pengantar oleh penulis

Artikel yang ke dua , artikel yang mempelajari kita Kejadian 1:24-23, mempelajari urutan penciptaan. Saya sangat bersyukur dapat kembali penulisan dan menyelesaikan artikel yang kedua. Harapan saya melalui artikel yang kedua ini, Anda dapat melihat kemuliaan Allah melalui pengharapan yang ada di dalam Injil yang saya tuliskan pada poin yang terakhir.

Kita akan mendalami, bahwa makna utama dari penciptaan menyadarkan kita akan kehidupan dan kemuliaan Allah. Betapa kecilnya diri kita dan betapa besarnya Allah kita yang telah menciptakan dunia yang kita tempati sekarang. 

Bahkan menyadarkan bahwa diri kita, bukanlah penguasa kehidupan yang ada dalam diri sendiri. Allahlah pemilik kehidupan, Allahlah yang menciptakan. Segala kemuliaan hanya bagi Allah sampai selama-lamanya.

Judul sebenarnya tulisan ini: Kemuliaan yang dinyatakan melalui ciptaan lain

Selamat membaca salam saya  Agung Raditia.W

Hari-hari berikutnya dari realitas kebesaran dan kemutlakan kuasa TUHAN.

Urutan penciptaan dalam Alkitab, pada artikel sebelumnya saya telah menuliskan dengan urutan penciptaan hari pertama sampai hari ke tiga, dengan judul “Allah yang berfirman maka semuanya jadi.” 

Baca Juga: Urutan penciptaan pada hari yang ke 1-3 Allah yang berfirman

Dunia yang telah Anda dan saya tempati saat ini merupakan mahakarya yang detail dari tokoh utama sumber kehidupan. Ia yang telah merancang semuanya dan menjadikan semuanya dan ketika Allah melihat apa yang Ia ciptakan. “semua itu baik.”

Bagaimana kita merenungkan atau kejadian 1:14-23 menjadi renungan? Membawa kita pada pengertian akan Injil yang lebih dalam. Kemuliaan Allah yang menjadi sangat hina, memberikan kita arahan, bahwa kehidupan kita hanya akan menemukan makna ketika Kristus yang adalah Allah menjadi pusat kehidupan. 

Artikel kali ini, kita akan merenungkan bahwa setiap urutan penciptaan, dalam konteks ini hari ke-4 dan ke-5. Kita dapat mengenal sifat Allah, memberikan hati kita alasan yang logis untuk mengucapan syukur dan hati yang terpaut untuk memuliakan TUHAN. 

Lalu kita akan bersama merenungkan, satu poin di mana setiap kemuliaan yang Allah nyatakan, pada akhirnya Ia juga menyatakan integritas. Ketika sang pelukis kehidupan mengikat janji kepada manusia, Ia sendiri yang akan bertindak dan melaksanakan-Nya, untuk membawa ciptaan yang segambar dengan Dia kembali masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Sehingga inilah poin-poin yang akan kita pelajari atau renungkan bersama;

  • Penciptaan hari ke empat, keteraturan Allah yang mahakuasa memberikan kepada kita pengertian bahwa mahakarya yang indah menunjukkan kepada kita kemuliaan-Nya.
  • Pada hari yang ke lima, Allah menciptakan isi dari alam yang indah, sehingga alam tidak sunyi sepi tetapi dihiasi oleh keindahan dari kehidupan yang memancarkan kemuliaan-Nya.
  • Pada akhirnya kemuliaan, menjadi sangat hina (di dalam Kristus), memberikan kepada Anda dan saya pengharapan untuk menikmati kemuliaan-Nya sampai selama-lamanya.

Urutan Penciptaan Dalam Alkitab Hari Ke Empat dan Ke Lima Kejadian 1:14-23

1. Penciptaan hari ke empat, Keteraturan Allah.

Mari bersama kita belajar, apa yang saya dimaksudkan dengan keteraturan, merupakan sifat Allah. “Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian.” Kejadian 1:14-15 (TB), cakrawala adalah langit atau angkasa.

Benda-benda yang Allah ciptakan ditempatkan di cakrawala, inilah yang menunjukkan kepada kita hari-hari, masa-masa dalam kehidupan, setiap tahun yang terus berlalu, matahari yang mengelilingi bumi. Benda besar yang indah pada malam hari yaitu bintang-bintang dan bulan.

Pada siang hari matahari, memberikan pancaran sinar yang menghidupkan tumbuhan. Memberikan kepada kita satu manfaat yang dapat dinikmati oleh tubuh jasmani pada pagi hari. Benda-benda itu memberikan kepada kita, pengertian akan terang yang adalah sumber kehidupan. Dimana hal ini jika direnungkan kembali, sedang memberitakan kemuliaan yang menciptakan matahari dan benda-benda lain.

Kita tahu bahwa, pada hari yang pertama, Allah menciptakan terang tanpa adanya benda penerang, tanpa adanya benda yang akan menunjukkan kepada kita waktu dan musim kehidupan. Segala sesuatu terjadi dengan tidak teratur, karena secara mata jasmani kita, kita belum dapat melihat sesuatu yang ada pada terang yang Allah ciptakan sebagai satu definisi yang logis bagi pikiran.

Terang tidak memiliki tempat untuk dikenal, terang yang bersumber dari Allah. Diciptakan untuk menunjukkan kepada kita sumber dari kehidupan, di mana saat ini kita dapat menikmati terang, di mana kita dapat hidup. 

Hal itu bukan karena sinar matahari yang menyehatkan sehingga kita hidup, bukan itu penekanan dari sinar matahari. Tetapi melalui peristiwa di mana terang ada, tanpa adanya matahari, menunjukkan kepada kita kesempurnaan dari pemeliharaan Allah, Dialah sumber kehidupan. 

Bahkan ketika matahari telah kita lihat dan sebagai definisi yang Allah nyatakan sebagai benda penerang, kejadian ini tetap sama. Menunjukkan kepada kita Dia Allah yang berkarya secara teratur dan detail.

Allah menunjukkan kepada kita, satu karya yang indah, yaitu benda penerang yang dinamakan matahari. Ia ciptakan pada hari ke empat. Di mana Anda saat ini berada, untuk berimajinasi bersama Allah melihat Allah yang mahakuasa itu, meciptakan dengan sempurna mahakarya.

“Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.” Kejadian 1:16-19 (TB)

Mahakarya yang dapat membuat kita berkata, “WAW” saat melihat keindahan matahari terbenam. Saudaraku, sadarilah keindahan pribadi yang menciptakan ini semua. Jauh lebih indah dalam kemuliaan-Nya, dari pada apa yang kita lihat melalui cahaya merah saat matahari terbenam. 

Tidakkah Anda ingin memuliakan Allah melihat kejadian yang dahyat ini, tidakkah Anda ingin melihat Dia dan menginginkan Dia saja. Tidakkah Anda merenungkan, saudaraku mari bayangkan kemuliaan Allah. Sama seperti apa yang pemazur ungkapkan.

Ungkapan ini lahir dari renungan akan penciptaan dunia ini, “Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu saatnya terbenam.” Mazmur 104:19 (TB) tidak bisa kita tidak kagum, jika melihat dunia ini, tidak bisa kita tidak merenungkan kebesaran Allah. Jika kita sadar betapa unik, teraturnya, dan semuanya berada di tempat yang seharusnya ia berada. Inilah yang dapat dikatakan karya yang diciptakan dengan sempurna.

Penjelasan tentang ayat ini, sangat jelas dari kutipan berikut ini, “1:14-19 Pada hari keempat barulah Tuhan menetapkan matahari, bulan dan bintang-bintang di langit sebagai alat penerang dan alat untuk menetapkan sistem penanggalan.” 

Lalu berikut dijelaskan secara khusus pada ayat 14, “Jadilah benda-benda penerang. Kata Ibrani, “meõrõt” berarti benda-benda penerang. Melalui benda-benda penerang ini bumi menerima cahaya yang diperlukan untuk mempertahankan hidup. 

Benda-benda penerang tersebut berfungsi untuk menguasai pagi dan petang (ay. 16), menjadi tanda musim, dan menerangi bumi. Kisah ini menjelaskan bahwa Allah membuat benda-benda penerang ini dan kemudian menempatkan benda-benda tersebut pada tempatnya. Menurut cetak biru Allah, matahari, bulan dan bintang semuanya dijadikan untuk melaksanakan kehendak-Nya yang khusus.”

“Perhatian kepada matahari dan bulan telah meningkatkan semangat penjelajahan luas angkasa. Para astronot Amerika dan Rusia dengan gagah berani menjelajah luar angkasa. Mereka menegaskan bahwa  keindahan alam semesta sangatlah mempesona.”1

Lalu saya sangat menyukai penjelasan yang akan saya kutip pada bagian yang terakhir ini;

“Amatilah, benda-benda penerang di langit adalah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Dan kesemuanya ini adalah buatan tangan Allah.” Penjabaran di bawah ini, merupakan penjelasan dari tafsiran yang saya kutip.

Matahari adalah terang terbesar dari semuanya, besarnya lebih dari sejuta kali dibandingkan bumi, lampu yang paling mulia dan berguna dari semua lampu di langit, contoh yang mulia dari hikmat, kuasa, dan kebaikan Sang Pencipta, dan berkat yang tak ternilai bagi makhluk-makhluk di dunia bawah ini. 

Marilah kita belajar dari Mazmur 19:2-7 bagaimana memberi Allah kemuliaan karena nama-Nya, sebagai Pencipta matahari. 

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya;  hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya.” Mazmur 19:2-6 (TB)

Kemuliaan Allah diceritakan oleh alam semesta, hal ini yang dikenal dengan wahyu umum. Bahkan kemuliaan Allah yang dipancarkan oleh karya ciptaannya. Akan mematahkan argumentasi dari orang-orang yang tidak percaya jika Allah itu ada. Karena hati mereka yang kagum kepada ciptaan, akan bertanya, bagaimana mungkin suatu keindahan dapat ada tanpa ada yang menciptakannya atau tanpa adanya kemuliaan. “Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; i  tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya.” Mazmur 2:9 (TB).2

Setelah kita memperhatikan setiap kutipan yang saya ambil dari orang-orang terdahulu. Kini kita dapat mengerti bahwa memang. Dunia ini pada dasarya sedang memancarkan kemuliaan Allah. Dia yang menunjukkan keteraturan yang memang merupakan diri-Nya demikian.

2. Penciptaan hari ke lima, hiasan alam. 

Allah sumber kehidupan pada hari yang ke tiga telah menciptakan tumbuhan, semuanya telah terjadi sesuai dengan apa yang telah Allah sendiri pikirkan. Namun semua kehidupan yang ada di dalam diri pepohonan yang menghiasi alam atau dunia saat ini belumlah cukup.

"Pada hari kelima Allah mendatangkan kehidupan dari ketiadaan. Jika binatang-binatang (ikan dan burung) Allah melihat burung-burung da binatang-binatang dala, air, Ia memberkati mereka, dan mengatakan bahwa itu adalah baik."3

Yang terdengar hanya hembusan angin, belum adanya kicauan yang menyatakan bahwa ada kehidupan di bumi, belum adanya pergerakan di laut. Sangat sunyi, seolah-olah tidak adanya kehidupan pada masa itu, alam yang indah sebagai tempat yang baik Allah ciptakan untuk kehidupan, namun masih sunyi.

Maka sesuai dengan kekuasaan untuk meciptakan jenis kehidupan yang tidak hanya diam dan memberikan keindahan tanpa adanya pergerakan, tanpa adanya karakteristik yang dapat memiliki kehendak dengan insting, maka Allah mencipkan mahluk hidup untuk menghiasi cakrawala dan menghiasi pepohonan. “Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala." Kejadian 1:20 (TB)

Ketika saya merenungkan kejadian ini, dimana Allah telah menciptakan burung-burung yang beragam. Menunjukkan kepada kita satu lagi karya yang membuat kita akan tercengang. Jika Anda berasal dari desa sama seperti saya, Anda akan mengerti bahwa pada pagi hari. Adalah waktu yang indah untuk menikmati kemuliaan Allah melalui ciptaan secara khusus melalui ragam kicauan ciptaan Allah pada hari yang ke lima.

Kicauan burung, yang akan memanjakan telinga. Akan memberikan kepada Anda kepuasan tersendiri yang tidak sama seperti ketika Anda hidup di kota. Suara ini bagaikan pemberi energi untuk diri, pikiran akan menjadi tenang dan puas. Belum lagi jika Anda memelihara ayam.

Melalui kejadian 1:20 ini saya merenungkan ternyata. Setiap suara yang pada pagi hari dimulai dari jam 3 pagi dimana, ayam-ayam jantan mulai berkokok. Hal inipun menunjukkan kepada Anda dan saya satu realita akan kemuliaan dari Sang Pencipta. Jujur tidak pernah sedikitpun saya selama tinggal di desa terganggu ketika para ayam ini berkokok ketika pagi hari dimulai.

Selalu ada ketenangan, selalu ada kepuasan untuk melihat kehidupa dari sudut pandang yang berbeda. Hiasan alam yang mengiasi dahan pepohonan pada pagi hari adalah para ayam yang menjadi peliharaan.

Kita seperti disambut oleh kemeriahan dan kehidupan lain yang Allah ciptakan hanya memiliki insting untuk hidup. Tetapi semua ini sungguh mecerminkan kereatifitas yang menghasilkan mahakarya, bukan hanya bermanfaat tetapi bermakna yang dalam untuk mencerikan kemuliaan Allah.

Jika Anda pernah melihat matahari terbenam, lalu di antara tanah dan carawala yang telah memerah baik di ketinggian maupun yang tidak terlalu tinggi. Berterbangan burung-burung, di mana mereka kembali ke sarangnya masing-masing, kejadian ini benar-benar memanjakan mata, hal ini juga akan memberikan perasaan senang ketika melihat kejadian semacam ini. Kembali lagi kita melihat keteraturan Allah yang menciptakan keindahan alam dengan segala hiasan yang pada akhirnya kita dapat mengerti betapa mulianya Allah kita. 

Anda tentu pernah melihat sebuah lukisan, sebuah hasil foto yang memberikan gambaran yang telah saya tuliskan di atas. Yaitu keindahan sekelompok barung melintasi carawala. Inilah penciptaan hari ke lima, menciptakan kehidupan yang menjadi hiasan.

Sekarang kita beralih ke ikan-ikan di dalam air, pada awalnya air masih kosong sangat sunyi. Bagaikan akuarium yang tidak perpenghuni. Bagaikan sebuah tempat yang telah diciptakan untuk ditempati. Tetapi tidak ada yang menempati.

Namun pada bagian ini, Allah telah merencanakan jenis mahluk yang akan hidup di air. Ketika Allah menciptakan segala jenis binatang di dalam air yang berkeriapan ini, saya kembali lagi memabawa Anda pada imajinasi saya.

Ikan bukan hanya soal bergizi dan dapat dimakan, mari kita lihat ikan-ikan dan binatang lainya ini dari sudut pandang bahwa semua ini diciptakan untuk menunjukkan keindahan dan semakin memperindah keadaan di bawa air.

Keindahan inilah yang Allah ciptakan, ketika saya melihat hasil karya dari fotografer yang khusus untuk mengabadikan kehidupan di bawa laut. Mungkin saya belum pernah melihatnya secara langsung. Tetapi ketika melihat gambar tersebut, ada rasa puas di dalam diri saya. Saya sedang memang satu realitas keindahan dari sebuah gambar yang menunjukkan tempat tertentu di mana di situ, hidup juga mahluk hidup yang menghiasi kehidupan di bawah air. 

Saudaraku mari pikirkan ini! Apa yang saya jelaskan di atas? Saya sedang mengajak Anda untuk melihat kemuliaan Allah lebih dalam lagi. 

Bahkan menikmati setiap kemuliaan yang untuk itu Anda dan saya diciptakan (kita untuk memuliakan Allah). Kemuliaan yang dilihat dari sudut pandang ciptaan yang dapat manusia definisikan, dapat manusia lukis, lihat dan nikmati.

Saya belajar hal yang sangat tidak terduga dari ayat 20, bahwa kepuasan dalam TUHAN sangatlah sederhana, ketika kita telah percaya dan hidup dalam Yesus seharusnya merenungkan hal-hal ini setiap hari. Allah akan selalu membawa kita pada kebahagian yang bukan seperti dunia ini tawarkan yang pada akhirnya membuat kita serakah.

Bagaikan menikmati segelas kopi di pagi haru, bahkan kita menikmati segelas kopi tersebut. Demikianlah segelas kopi itu memancarkan kemuliaan Allah yang menjadi kebutuhan jiwa kita untuk kita muliakan sampak selama-lamanya.

Allah memperjelas yang menjadi rencanana-Nya, “Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak." Bekembangbiaklah, hal ini memberikan kepada kita siklus kehidupan, kemurnian dari ekosistem alam, dimana semuanya berjalan dengan baik. Aitr yang mengalir memberikan kehidupan bagi para burung. Kejadian 1:21-22 (TB)

Sinar matahari, memberikan kecerian dan nyayian yang merdu pada pagi hari. Pantulan cahaya yang dicerminkan diri beningnya air sungai yang jernih. 

Bahkan ikan-ikan yang ada di lautan melompat-lompat ke permukaan seolah-olah sedang bersukacita dan menikmati kehidupan, dimana ia diciptakan bukan sekedar sebuah ekosistem yang menjadi siklus kehidupan. 

Lebih dari itu setiap ciptaan yang bernyawa memancarkan kemuliaan Allah yang Mahakuasa. Allah yang merancang semuanya, dari permuliaan pada waktu bumi belum berntuk. Dan kini bumi sudah memancarkan keindahan. 

Jauh lebih indah dari pada bumi yang sekarang, bumi yang pengap dan penuh polusi. Tetapi sadarilah masih ada sisa-sisa keindahan itu sampai hari ini, seharusnya hal-hal sederhana ini memberikan kepada kita kekuatan dan sukacita untuk selalu memuliakan kemuliaan Dia saja.

Sebelum kita  masuk ke kari berikutnya atau hari ke enam, dan sebelum kita masuk ke poin dimana saya ingin membawa Anda pada satu pernyataan yang Alkitab beritahukan kepada kita, membuat hati ini bersedih.

Kita belajar tentang ekosistem, dimana burung-burung memakan setiap buah yang Allah sediakan dari pohon-pohon. Lalu burung-burung ini bermigrasi, lalu burung-burung ini membuang kotoran. Sehingga setiap biji yang telah dimakan akan menjadi kehidupan baru yaitu pepohonan baru. 

Ketika hutan-hutan terbakar, burung-burug inilah yang menjadi petani alami. Petani yang menebarkan benih, bahkan tanah dapat menciptakan sendiri, dapat menyimpan setiap biji-biji yang menjadi kehidupan yaitu tumbuhan.

Melalui poin ini, saya hanya ingin mengungkapkan segala pujian dan kemuliaan hanya bagi TUHAN dari dahulu sampai selama-lamanya. SOLI DEO Gloria

“Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.:" Kejadian 1:23 (TB) maka inipun berlalu, hari kelima telah berlalu, bumi kini telah menjadi tempat yang indah dan menunjukkan kepada kita ada kehidupan di bumi. Saatnya kita akan melihat pada artikel berikutnya apa yang Allah akan kerjakan, apa yang akan Ia ciptakan

Baca Juga: Kejadian 1:26-31 ; 2:1-7 Ciptaan yang semakin menggabarkan atau memancarkan kemuliaan Allah (MASIH PROSES PENULISAN)

Penciptaan hari ke enam diceritakan pada ayat 24-25. Pada bagian ayat-25 “Allah melihat bahwa semua itu baik.” Maka definisi Allah inilah yang akan menjadi dasar kita untuk merenungkan poin yang ke tiga. Mari kita lanjutkan.

3. Kemuliaan yang menjadi hina.

Orang ateis tidak mempercayai adanya TUHAN, mereka tidak percaya karena bagaimana mungkin. Hal-hal yang baik tentang Allah, seperti yang saya jelaskan berdasarkan urutan penciptaan hari ke empat dan ke lima. Lalu diakhir pada ayat 25 bahwa “semua itu baik.”

Saudaraku mari kita berpikir realitas yang ada dihadapan kita, ketika saya menulis artikel ini keadaan dunia sedang kacau karena adanya pandemi Korona. Setiap hari artikel berita menuliskan berbagai kabar buruk tentang negara kita Indonesia bahkan dunia.

Dari yang terkecil hingga yang membuat hati kita ikut merasakan sakit ketika mendengar, membaca, dan melihat kabar buru yang tidak ada habisnya. Apakah Alkitab sedang berdusta? Ataukah agama hanyalah mitos yang diagung-agungkan? Kita merindukan kedamaian, kita merindukan kehidupan yang dapat menikmati dimana untuk itulah kita ada.

Mengapa? Semua penderitaan yang ada dihadapan kita tidak pernah berakhir, mengapa? Walau kehidupan terasa nyaman-nyaman saja, lalu pikiran kita mulai berimajinasi, hati kita merasakan perasaan yang tidak nyaman. Inilah bosan, hidup tanpa penderitaan kita bosan yang pada akhinya lahirlah penderitaan.

Kita hidup dalam siklus yang ketika dipikirkan sangat-sangat menyedihkan. Kita hidup penuh masalah, lalu menikah inipun masalah hadir. Memiliki anak bagaimana masalah semakin besar, dan pada akhirnya tingkat kebosanan dalam hidup hadir yang membuat diri kita mau mati saja rasanya.

Kita menjadi tua, hidup hanya melaksanakan siklus kehidupan agar tetap bertahan hidup dalam keamana dan aman. Lalu pada akhirnya hal yang kita takuti, rasa aman yang dulu ada kini hilang ketika kita sudah tua. Lalu apa makna dari semua ini, lalu bagaimana mungkin Allah yang mulia dan indah dapat kita percaya. Jika realita yang ada di hadapan kita begitu mengerikan. 

Bagaimana mungkin Allah mengijinkan kelaparan, mengijinkan bencana alam, mengijinkan orang baik tertindas dan orang jahat tetap sehat dan gemuk. Bagaimana mungkin Allah yang baik membiarkan semua ini?

Apakah Anda mulai meragukan Allah? Apakah Anda ingin menjadi ateis? Apakah Anda juga merasa bahwa Allah tidak benar-benar ada atau jia Ia ada Ia tidak peduli.

Saya akan membawa Anda kembali ke Alkitab. Karena bagi saya semua pertanyaan. Yang ada dipikiran kita, dimana setiap hal yang kita pertanyakan. Sebenarnya kita sedang mendeklarasikan bahwa kita lebih pantas menjadi tuhan. Karena jika saja kita memiliki kuasa lebih kita berimajinasi saya akan lakukan ini agar dunia ini lebih baik.

Untuk mengawali Injil (kabar baik, saya mengutip “Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatua.” Amsal 25:2 (TB) saya menyelidiki walaupun dunia dipenuhi penderitaan, saya mendapati kemuliaan Allah tetaplah ada dan Ia selalu nyatakan dalam kehidupan. Kemuliaan ini dinikmati, ketika Anda ada di dalam Kristus.

Masalah terbesar manusia

Saya menikmati kehidupan, ketika melihat apa yang Alkitab nyatakan tentang ‘DOSA’. Semua penderitaan dunia ini hanya bisa dijawab dengan satu kata yaitu dosa. Saya tidak menyatakan bahwa Allah menghukum manusia walaupun itu benar Allah membenci dosa dan Allah akan membinasakan orang berdosa.

Tetapi marilah kita melihat kabar yang lebih buruk lagi, ketika melihat isi hati kita, ketika melihat realitas dosa yang menguasai kehidupan kita, ketika hidup kita dibawa untuk mengerti Injil Yesus Kristus.

Dosa adalah kematian rohani (Efesus 2:1), kematian yang membuat manusia tidak dapat lagi melihat kemuliaan Allah. Manusia sendirilah yang telah membuat dunia ini menjadi sangat tidak indah, pikiran dan hati yang berpusat pada diri sendiri.

Manusia memutuskan segala sesuatu atas dasar diri pemikirannya. Maka kita melihat sejarah perang. Kita menderita harus bekerja keras, bumi mengeluarkan semak duri, pria harus berpeluh untuk dapat pekerjaan. Realita dari bumi yang Allah kutuk.

Konsekuensi dosa sangatlah serius, kita harus menyadari hal ini, karena tidak ada satupun dari kita yang luput dari kehidupan yang berdosa. Kecenderungan kita dari sejak lahir hingga dewasa adalah berdosa karena kita hidup dalam dosa.

Pengharapan yang dinyatakan

Lalu adakah kita dapat menikmati kemuliaan, sekarang mari kita masuk pada poin yang akan menjelasakan kemuliaan yang telah menjadi hina. Manusia yang telah memusuhi Allah, manusia yang pada dasarnya membenci Allah.

Allah yang menciptakan dunia, Allah yang mulia. Kita dapat menemukan Ia telah menjadi hina di dalam manusia Yesus. Yesus menjadi manusia, ditimpakan kepada-Nya semua murka hukuman dosa. "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Roma 4:7-8 (TB).

Yesus adalah kemuliaan Allah yang menjadi hina, Ia diolok oleh orang berdosa, Ia diludahi. Tubuh-Nya diremukkan. Semua kubusukkan, semua penderitaan, semua dosa kita, semua murkan keadilan Allah terhadap kita yang mau menjadi tuhan atas diri sendiri diberikan kepada Yesus, Yesus hancur sehancurnya. 

Kematian Yesus dan kebangkitan-Nya merupakan harapan terindah yang membawa kita orang-orang percaya untuk kembali kepada definisi Allah, “ALLAH MELIHAT SEMUA ITU BAIK.” Dari sini kita dapat mengerti bahwa kebaikan yang ada di dalam Kristus merupakan pengharapan akan kehidupan kekal yang puas bersama Allah. Tidak ada yang tidak baik, ketika Allah mendefinisikan hal itu baik, walau kehidupan Kristen harus mati menajdi martir sebagai pemberita Injil.

Sudaraku inilah inti dari yang ingin Alkitab sampaikan kepada Anda dan saya. Yaitu Yesus yang menaruh semua kemuliaan-Nya. Ia menjadi sangat hina dan bahkan mati sebagai penjahat. Dimana semua itu seharusnya menjadi milik Anda dan saya, kita layak untuk menerima semua hukuman yang ditimpakan kepada Yesus. (Filipi 2:1-11)

Sekarang saudaraku, kepercayaan kita pada Yesus membawa kita kembali ke poin 1 dan 2 untuk menikmati setiap kemuliaan Allah. Melihat dunia yang sudah rusak, masih ada sedikit keindahan yang tersisa dan itu semua memancarkan Allah sendiri sebagai pencipta mahakarya indah yaitu bumi yang saat ini kita tempati.

Iman yang dianugerahkan kepada kita, memampukan kita untuk dapat percaya kepada Yesus, kita bertobat dan menyatakan bahwa diri kita bukanlah tuhan. (Galatia 2:20), jadi sekarang saudaraku untuk menutup artikel ini.

Ada seruan pertobatan, ada seruan untuk percaya kepada Yesus, untuk dapat kembali melihat setiap kemuliaan yang untuk itu Anda dan saya diciptakan, untuk itu kita hidup, menikmati kemuliaan dan kekudusan Allah dalam Yesus Kristus sampai selama-lamanya.

Kiranya Allah Roh Kudus membukakan kepada Anda pengertian yang lebih mendalam lagi akan Injil Yesus Kristus. Dan menikmati kemuliaan Allah melalui perenungan melihat keindahan ciptaan yang memancarkan kemuliaan-Nya. AMIN

_________________________________________________

Daftar Buku Bacaan:

1John J. Davis “Eksposisi Kitab Kejadian” (Malang: Gandum Mas) hal. 66

2Matthew Hendry, Tafsiran Kejadian” (Surabaya: Momentum) hal. 20-21

3John Hagee, “Penyataan Kebenaran” (Jakarta: Yayasan pekabaran Injil Imanuel) hal. 17

Tafsiran Alkitab Wycliffe

Posting Komentar untuk "Renungan Kejadian 1:14-23 Urutan Penciptaan Dalam Alkitab Hari Ke Empat dan Ke Lima"