Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Lukas 10:25-37 Saat Teduh Tentang Siapakah Sesamaku Manusia?

Renungan Lukas 10 25-37 Saat Teduh Tentang Siapakah Sesamaku Manusia

Judul Renungan; Siapakah Sesamaku Manusia?

Ayat Alkitab Lukas 10:25-37 

Lukas 10:28 (TB) Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”

Lukas 10:36-37 (TB) Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Perikop ini dimulai dengan pertanyaan untuk mencobai Yesus, oleh seorang Ahli Taurat. Di mana ia ingin mengetahui, pengajaran seperti apa yang Yesus anut untuk memperoleh hidup yang kekal. Sebenarnya pertanyaan ini muncul untuk mencari-cari kesalahan dari Yesus, untuk menemukan celah kesesatan dari pengajaran Yesus, namun ketika Yesus kembali bertanya dan orang tersebut menjawab.

Bahwa kehidupan kekal, didapatkan hanya ketika seseorang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan dengan segenap kekuatan dan akal budi. Lalu mengasihi sesama seperti diri sendiri. Lalu Yesus menjawab, “perkataanmu itu benar; perbuatlah demikian maka Engkau akan hidup.” 

Seorang Teologi, berjuta teori, tidak dapat menjadi orang yang benar-benar penuh kasih. Anda bisa saja menghafal berjuta kebenaran, bahkan semua kebenaran itu mengendap di kepala Anda dan banyak lagi pengetahuan teologis yang ketika Anda berargumen hal itu dapat menjadikan Anda sangat mulia, terlihat pandai dan penuh dengan rapa-rupa hikmat. Tetapi kehidupan Anda tanpa kasih, Anda tidak mendapati diri Anda memperhatikan sesama Anda untuk memberikan suatu perhatian yang memuliakan Allah.

Paling tidak demikianlah komentar saya, ketika membawa ayat 28. Dan ini jelas gambaran dari Anda dan saya, ya Anda mungkin bukan seorang teolog, Anda mungkin bukan seorang yang mempelajari firman. Tetapi apakah Anda bisa berkata bahwa Anda dapat lepas dari dosa yang satu ini, yaitu dosa di mana Anda enggan untuk mengasihi sesama, karena memang demikianlah natur Anda.

Kita semua pendosa, kita memiliki natur yang sama seperti ahli Taurat yang sedang mencobai Yesus, namun mari bersama-sama di dalam natur kita yang terus dikikis oleh kebenaran Injil Yesus Kristus. kita bersama-sama mempelajari bagaimana Yesus menampar seorang ahli kitab, seorang roahaniawan yang terkenal dikalangan Yahudi. 

Dengan memberikan kepada kita satu cerita, cerita yang sempat menyadarikan saya. Bahwa saya setiap saat harus berdoa agar saya penuh belaskasihan kepada sesama dan mengabaikan semua teori yang sedang saya pelajari. Karena bagi Allah, satu jiwa sangatlah berharga, bahkan sorga bersorak ketika adanya pertobatan yang sejati, ketika kelahiran baru terjadi atas diri manusia (Lukas 15:17).

Dimulai dari ayat 30-35. Yang menjadi penekanan saya pada renungan kita kali ini, untuk memberikan kepada kita dua poin. Pengertian yang mendalam dari perkataan Yesus yang ada di ayat 37. Tentang, “Siapakah sesama manusia dari antara ketiga orang di dalam cerita.” Dan “Perbuatlah demikian.”

Renungan Lukas 10:25-37 Saat Teduh Tentang Siapakah Sesamaku Manusia?

1. Ini adalah panggilan untuk mengikuti Yesus

Di dalam cerita, tentang orang Samaria yang dianggap rendah oleh orang-orang Yahudi, orang-orang yang tidak terhitung sebagai bangsa yang kudus, umat pilihan Allah. Karena mereka semua adalah bukan orang Yahudi yang alami tetapi hasil pernikahan orang Yahudi dengan bangsa kafir.

Ketika Yesus, menjadikan seseorang yang tidak dipandang oleh Masyarakat, justru dialah tokoh utama dalam cerita tersebut. Dan cerita tersebut menjadi satu tema besar yaitu tentang seorang Samaria. Hal ini memberikan gambaran jelas kepada Anda dan saya, bahwa Yesus sedang menunjukkan, bahwa identitas suku, bangsa, agama, budaya kita, tidak akan begitu saja menjadikan kita orang-orang yang berbelaskasihan.

Semua hal yang ada di dunia, apa pun yang dianggap baik dan benar oleh manusia, semua itu pasti bertentangan denga napa yang baik da benar bagi Allah. Jika bagi guru-guru Yahudi orang Samaria adalah orang najis, bagi Allah orang Samaria adalah berkat yang menjadi kemuliaan bagi nama-Nya.

Bukankah ini panggilan bagi semua orang yang diijinkan mengenal Kristus sejak dari lahir, bukankah ini panggilan bagi Anda dan saya yang sadar betapa najisnya kehidupan kita, betapa kita adalah orang-orang berdosa yang seringkali merasa sangat rendah dan tidak berguna. Sehingga kita bekerja keras untuk diterima oleh dunia.

Ketika Yesus, menunjukkan cerita indah dari belaskasihan, seorang yang bianggap najis, hal ini memberikan pengertian yang mendalam. Bahwa mausia yang najis, manusia yang mati di dalam dosa. ketika Kristus ada di dalam dia, maka orang tersebut akan menjadi manusia yang memberkati banyak orang, seseorang yang memberikan hidupnya bagi kemuliaan Allah.

Panggilan untuk seorang Ahli Taurat yang tinggi hati, panggilan untuk Anda dan saya yang menganggap diri adalah orang benar. Untuk bertobat dan melihat kembali kepada kasih yang sangat besar dari Dia yang telah berbicara secara langsung kepada Ahli Taurat, Dia yang bukan hanya menunjukkan sebuah Cerita dari kasih. Tetapi Dia yang telah naik ke atas kayu salib, untuk memberikan kepada Anda dan saya hari ini tentang definisi kasih kepada sesama kita manusia.

Yesus adalah kasih sejati, Dialah yang memberikan diri-Nya sebagai korban yang sempurna untuk membebaskan kita dari dosa. Dari pemasalahan terbesar kita, yaitu keberdosaan kita, sehingga hanya Yesus yang dapat menyelesaikan masalah itu.

Ketika kita menerima kasih yang begitu besar dari Allah di dalam Kristus. Pada saat ini kita mengikuti Dia, Yesus memanggil kita untuk mengasihi Allah dan sesama. Dengan memberikan diri-Nya bukan sebagai teladan saja, tetapi Allah yang memberikan kuasa kepada kita, kebenaran kepada kita serta kekuatan. Sehingga kita mampu mengikuti Dia, mengasihi Dia dan menjadikan diri kita milik-Nya sampai selama-lamanya.


2. Ini adalah panggilan untuk seperti yang Yesus lakukan

Ketika pengetahuan teologi, tidak berpusatkan kepada Kristus yang Maha tinggi, Dia yang pengasih dan dipenuhi keadilan secara sempurna. Maka pengetahuan tersebut tidak akan pernah benar-benar mengubahkan hati, mengubahkan cara pandang untuk semakin rendah hati dan mengasihi sesama.

Kita sebagai manusia, memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, membenarkan diri sendiri, dan menyalahkan sekitar dan apa yang terjadi dan itu menyusahkan perasaan dan pikiran kita maka pada saat itulah kita menunjukkan secara jelas kecenderungan yang suka menentingkan kebenaran diri sendiri. 

Begitulah yang dilakukan Ahli Taurat yang telah bertanya kepada Yesus, ia ingin menyalahkan pengajaran Yesus, ia ingin Yesus menunjukkan pengajaran-Nya. Di mana ia dapat menunjukkan kesalahan dari pengajaran Yesus. Dan memberitahukan kepada orang banyak bahwa ia adalah Ahli Taurat, ia orang benar. Yesus sedang mengajarkan pengajaran yang tidak sesuai dengan Taurat Musa.

Tetapi, mari kita perhatikan orang Samaria yang menjadi tokoh utama di dalam cerita  Yesus, di mana ia memberikan kepada kita pengertian jenis kasih kepada sesama. Sehingga kita tahu, ketika Yesus memberikan perintah kepada Ahli Taurat tersebut, ini adalah perintah untuk melakukan seperti yang orang Samaria yang telah menyelamatkan nyawa orang yang baru saja dirampok tersebut.

“Perbuatlah demikian” perintah dari Yesus, ini adalah undangan untuk menjadi sama seperti Yesus, menjadi seseorang yang tidak datang untuk mencari kesalahan tetapi mengasihi. Memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menderita karena dirampok oleh dosa mereka.

Saudaraku, ketika Yesus disalibkan, Ia menunjukkan kepada kita arti kasih yang begitu besar, begitu mengagumkan dan begitu sempurna. Di atas kayu salib Ia menerima semua hukuman dosa kita, Ia menerima semua hal yang selayaknya kita terima tetapi Yesus menerima semua itu, sehingga ketika Yesus memberikan perintah untuk, kita berbuat seperti yang orang Samaria itu lakukan kepada sesama. 

Maka pada saat inilah panggilan untuk bersama-sama dengan Yesus mengasihi dunia, memberitakan kabar kesukaan besar bagi dunia, bahwa Yesus datang sebagai Pribadi yang layak menerima semua kehidupan manusia, semua penyembahan manusia dan semua kehidupan manusia. 

Ia tidak menuntut, tetapi Ia mengundang kita dan ketika kita telah masuk ke dalam undangan-Nya, menerima Dia sebagai Tuhan atas alam semesta dan pribadi kita, maka kita dibawa untuk menjadi serupa dengan Kristus, mengasihi jiwa-jiwa, mengasihi sesama manusia dan menjadi orang-orang Kristen yang hidup untuk berdoa bagi keselamatan jiwa. 

Pertumbuhan jiwa manusia untuk semakin mengenal Yesus dan hidup dengan kemenangan yang sejati atas dosa. Ini adalah panggilan mengikuti Dia untuk menjadi semakin serupa dengan Dia, karena inilah tujuang Kekristenan kita, menjadi satu dengan Kristus, di mana kita mampu mengasihi sesama manusia, seperti Yesus mengasihi kita yang juga pendosa.

Sebelum menutup renungan ini, ijinkan saya menasehati Anda sebagai saudara seiman yang telah disatukan di dalam Kristus dan kita terus berjalan direl-Nya Kristus. Jadi begini, saya mengajak Anda untuk berdoa bagi diri Anda sendiri, untuk hati dan pikiran Anda yang seringkali tidak menginginkan Allah. Bedoalah agar keduanya menginginkan Allah saja dan keindahan-Nya dan kekudusan-Nya.

Selanjutnya berdoalah bagi diri sendiri, untuk diajarkan oleh Yesus setiap hari. Untuk belajar dari Yesus tentang kasih-Nya kepada Anda, mintalah kemampuan seperti kemampuan Yesus untuk kita dapat mengasihi sesama kita. Jika Yesus dapat mengampuni kita yang berdosa, kita pasti Yesus mampukan untuk mengampuni saudara kita yang paling berdosa untuk kita ampuni, kasihi dan membawa Dia kepada Injil Yesus Kristus. Berdoalah untuk hal yang penting ini.

Baca Juga:

Terakhirnya, injinkan saya menerintahkan kepada Anda, berdoalah dan mintalah agar Roh Kudus terus memenuhi hati Anda, sehingga Anda tetap hidup dalam kasih dan sukacita sejati dari Allah di dalam Kristus saja.

Tuhan Yesus, Engkau yang telah disalibkan, mencurahkan darah-Mu. Ampuni aku yang berdosa ini, aku yang seperti Ahli Taurat, di dalam hatiku seringkali aku menyalahkan Kristus, menyalahkan keadaanku di mana Engkau menempatkan aku saat ini. Engkau saja yang menguduskan aku dan memampukan aku untuk terus mengikuti-Mu. Dan semakin serupa dengan Kristus saja. Dan mampukan aku untuk mengasihi sesamaku seperti Kristus mengasihi aku. Di dalam nama Yesus. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Lukas 10:25-37 Saat Teduh Tentang Siapakah Sesamaku Manusia?"