Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Yakobus 2:18-26 Iman Tanpa Perbuatan

 Renungan Yakobus 2:18-26 Tentang Iman Tanpa Perbuatan

Ayat Alkitab Yakobus 2:18-26

Judul Renungan Iman Tanpa Perbuatan

Yakobus 2:26 (TB) Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikianlah jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Seperti hidup tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan, demikianlah hidup tanpa makna dan benar-benar tidak berarti. Hidup hanya sekedar hidup dan hidup untuk hidup karena masih bernapas. 

Beberapa orang menginginkan kehidupan yang lebih mudah ketika percaya kepada Yesus, karena hanya dengan percaya maka keselamatan menjadi milik mereka. Demikianlah pemikiran tentang iman Kristen, yang benar-benar salah dan tidak mengarahkan seseorang kembali menyembah Allah dan memuliakan Allah karena rasa kagum yang teramat sangat.

Asal Anda percaya saja, maka Anda selamat, Anda dapat mengucapkan beberapa doa, maka Anda akan mendapatkan kehidupan kelak dan masuk ke dalam sorga. Ini masalah besar, demikianlah Yakobus menantang orang-orang percaya pada masa itu, penerima surat. “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dan perbuatan-perbuatanku.” 

Iman yang mati adalah iman yang tidak menghasilkan buah yang baik dan benar. Buah yang tidak memuliakan Allah, buah yang merusak nama baik Allah. Iman yang mati akan selalu  menjadi batu sandungan  dan iman yang mati adalah iman yang mencemarkan Kekristenan. Membuat nama Yesus tidak dikenal dan tidak dimuliakan. Kasih karunia murahan yang tidak menghasilkan pertobatan dan murid-murid yang setia pada Kristus.

Kita bersama-sama belajar, ciri dari iman yang mati, lebih mendalam lagi. Ada beberapa ciri;

1. Iman yang sama seperti iman setan

Yakobus 2:19 (TB) Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga gemetar. 

Bagaimana kita dapat melihat iman kita secara spesifik? Maka kita harus mengerti iman  yang mati. Iman yang salah dan tidak ada artinya, iman yang menunjukkan betapa dalamnya pemberontakan manusia dan hanya layak untuk dibinasakan.

Tujuan poin ini, untuk membawa Anda memikirkan. Tentang iman seperti apa yang seharusnya Anda miliki? Saya menjelaskan kepada Anda gambaran langsung dari iman setan, di mana setan juga ternyata memiliki iman terhadap Allah. Tetapi ima yang bagaimana?

Apa yang kita percaya benar-benar mempengaruhi cara hidup kita. Iman kita haruslah berbeda bukan hanya dengan iman setan, tetapi juga berbeda dengan iman orang-orang dunia yang tidak mengenal Kristus. Iman yang mati, iman yang tidak pernah menghormati Allah dan iman yang tidak mencintai Allah. Karena pada dasarnya iman yang mati adalah iman yang mencintai diri sendiri dan memuliakan diri.

Kita harus mengerti bahwa iman setan adalah pernyataan yang nyata akan keberadaan Allah yang kudus. Mereka bahkan lebih dulu melihat Allah, bukan hanya melihat. Mereka adalah mahluk ciptaan Allah di mana mereka melayani Allah dan melihat kemuliaan Allah dan kengerian dari murka Allah yang adil. Setan mempercayai semua ini, setan bahkan gemetar. Demikianlah Yakobus menjelaskannya.

Kita dapat melihat, ketika Iblis ketakutan melihat Yesus ketika Yesus sampai di Gerasa. Matius 5:6-7 (TB) Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

Demikianlah setan pun percaya akan keberadaan Allah, bukan hanya itu, ia tunduk pada Kristus, ketika ia melihat Yesus dan memohon untuk tidak dihukum oleh Yesus. Lalu apa yang  membuat iman yang demikian mati. Ini adalah iman tanpa kepedulian, ini adalah iman yang mementingkan diri sendiri dan kemuliaan diri, dan keuntungan bagi diri sendiri.

Saudaraku, Anda bisa saja berkata bahwa Anda percaya kepada Yesus, percaya bahwa Yesus sanggup menyelamatkan Anda. Tetapi iman tersebut adalah iman yang mati, karena tujuan Anda percaya Yesus adalah  untuk masuk ke sorga, untuk menerima kesenangan kekal, untuk mendapatkan yang Anda inginkan.

Secara alami, semua manusia beriman kepada Allah sesuai versi mereka masing-masing untuk masuk kerajaan sorga. Tetapi yang menjadi pertanyaa saya. Apakah Allah menginginkan hal yang demikian sehingga Yesus disalibkan? Apakah salib hanya akan menghasilkan iman mati dan yang berpuas diri untuk memenuhkan keinginan diri sendiri, yaitu kebutuhan untuk mati masuk sorga.

Iblis menyembah Yesus, karena ingin dipindahkan ke babi-babi, dengan kata lain. Yang iblis inginkan terjadi adalah kehendaknya, keselamatannya. Ia sadar ia tidak berkuasa, maka ia memohon dan menyembah agar apa yanng menjadi keinginannya dikabulkan. Inilah iman yang mati, berpusat pada diri sendiri. Bukan pada Sang Pencipta.

Lalu kita dapat memperhatikan iman yang mati dari orang-orang yang bukannya tidak percaya kepada Allah. Tetapi mereka adalah orang-orang yang menyembah Allah, melayani Allah dan melakukan semua hal secara rohani untuk Allah tetapi tidak pernah memiliki hubungan dengan Allah. Mereka tidak pernah menginginkan kehadiran Allah yang sejati dan berkehendak. Yang mereka lakukan adalah menyembah Allah sesuai kehendak mereka, Allah hasik ciptaan  pikiran.

Iman yang mati adalah iman yang tidak pernah benar-benar menjadikan diri seseorang itu milik Allah secara utuh. Kalau pun ada kebaikan yang dapat ia kerjakan. Apa yang ada di kedalaman dirinya, semua itu bukan untuk menyenangkan Allah, mau pun untuk memuliakan Allah dan memperkenalkan Injil Yesus. semua perbuatan baik itu agar ia dikenal, dihormati dan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ini adalah jenis iman yang mati, meskipun baik.

Bukankah setan dengan kepercayaannya kepada Allah bahkan gemeta, dapat melakukan sesuatu yang baik. tetapi benar-benar tidak memuliakan Allah, tidak memikirkan Allah dan bersekutu dengan Allah. Karena esensi dari setan adalah pemberontakan.

Ketika iman Anda dan saya, Yakobus samakan dengan iman setan. Seperti yang telah saya jelaskan, demikianlah kita gemetar akan kemuliaan Allah, tetapi pada saat  yang sama hati kita, cinta kita, pikiran kita dan semua hal tentang diri kita, tidak pernah menjadi milik Allah.

Baiklah teguran dari Yakobus berikut menyadar kita, “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? (Yakobus 2:20). Ini adalah panggilan untuk bertobat, di mana Anda dan saya mengakui bahwa kepercayaan kepada Kristus tanpa perubahan cara pandang, tanpa perubahan watak, tanpa adanya kemuridan yang sejati. Adalah iman mati dan menghina nama Allah.


2. Iman yang tidak bertindak

Perintah utama dalam Kekristenan adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. semua ini dapat terjadi ketika Anda dan saya, mengasihi Allah lebih dari apa pun. Iman yang mati adalah iman yang tidak sama seperti iman-iman tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

Iman yang tidak sama seperti iman Abaraham, dan Rahab. Kedua tokoh yang Yakobus ambil, mewakili jenis iman yang taat kepada Allah dan iman yang mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Abraham karena taat kepada Allah akhirnya memberikan kepada Allah harta berharga yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Ketika Allah memberikan perintah kepadanya untuk mempersembahkan Ishak (Yakobus 2:21), Abraham menuruti hal itu. semua ini menunjukkan suatu tindakan yang berakar pada kepercayaan kepada Allah, ketundukkan kepada Allah.

Yakobus 2:23 (TB) Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran.” Iman yang sejati akan selalu berbuahkan tindakan yang mentaati Allah. (Anda dapat membaca cerita ini di Kejadian 22:1-14).

Anda dan saya percaya kepada Yesus, kita diselamatkan bukan hanya dari kutuk dosa tetapi juga dari kebiasaan berdosa yang salah. Dosa yang saya maksudkan bukan hanya perbuatan yang benar-benar tidak memuliakan Allah, seperti makan yang berlebihan, kemalasan, suka menunda, dan hal yang membuat diri semakin tidak memuliakan Allah. Hal-hal yang berpusat pada kesenangan diri sendiri.

Iman yang mati adalah iman yang tidak mematikan setiap kecenderungan yang secara alami ada di dalam diri setiap kita. Kita berkata percaya Yesus tetapi tidak pernah melihat kedalaman diri, hal-hal yang telah terbentuk, terkonsep dan membuat kita terbiasa melakukan hal-hal seperti yang telah saya jelaskan. 

Memang, iman yang sejati akan selalu berproses meninggalkan setiap kecenderungan alami di dalam diri. Tetapi pada saat yang sama Anda dan saya harus terus-menerus menyelidiki  diri hati kita, apakah kita telah taat kepada Allah, apakah kita memberikan semua kehendak kita kepada Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Yakobus 2:24 (TB) Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Karena iman yang sama seperti iman Abraham adalah kehidupan yang menyerahkan kehidupan kepada Allah secara utuh dan percaya Allah dapat melakukan sesuatu yang kita tidak dapat kita lakukan demikianlah iman Abraham, iman yang mengasihi Allah dengan segenap akal budi dan hati.

Yakobus 2:25 (TB) Dan bukankah demikian juga Rahap, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembuyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (Anda dapat membaca cerita ini di Yosua 2:1-21).

Kita akan melihat, bagaimana iman yang menyelematkan, adalah iman yang mengasihi sesama. Iman yang mempercayai janji Tuhan dan memberikan diri untuk dijadikan salah satu dari umat Allah. Rahab, ia adalah salah satu tokoh iman karena percaya pada janji Allah dan akhirnya ia dan keluarganya diselamatkan dari pembantaian di kotanya.

Saudaraku, iman yang hidup adalah iman yang bekerja untuk sesama, iman yang memperdulikan sesama dengan mengingat janji Allah dan Allah yang adalah pemilik kehidupan. Lebih dalam lagi tentang iman yang demikian Anda dan saya dapat mengerti di dalam Injil. Di mana Kristus memberikan diri-Nya untuk menjadi milik kita dan kita dapat dibebaskan dari murka Allah yang kekal dan mengerikan.

Sehingga, iman yang berpusat pada Kristus, adalah mengenakan kasih Krstus yang telah disalibkan. Di mana setiap kita menerima Kristus yang adalah satu-satunya kehidupan dan bagian kehidupan yang utuh dan sempurna menjadi milik berharga kita, iman yang hidup adalah iman yang berasal dari Allah di dalam Kristus untuk melakukan kehendak Yesus (Efesus 2:8-10).

Iman yang mati, iman yang benar-benar tidak peduli sesama, tidak peduli pada kehendak Allah dan tidak memperdulikan apa yang Allah inginkan atas hidupnya. Tetapi ia adalah seseorang yang beragama Kristen dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamatnya. Hidupnya adalah miliknya dan tidak pernah menjadi milik siapa pun selain ia dan apa yang ia inginkan. 

Memasuki kehidupan baru dengan iman yang sejati oleh Injil Yesus Kristus.

Saudaraku, bagaimana sekarang dengan Anda? apakah iman Anda mati? Apakah iman Anda hidup? 

Saya mengajak Anda bersama-sama melihat kepada Injil Yesus Kristus. Injil adalah Yesus, Injil adalah Allah yang mengawalinya, Injil adalah kehendak Allah dan kekuatan Allah dan saya teramat yakin tidak ada keselamatan di luar Injil. Dan tidak akan pernah ada kasih kepada Allah dan sesama di luar Injil.

Injil di mulai dengan penggilan Allah kepada manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. “Adam di manakah engaku.” Panggilan itu diulangi oleh Yesus kepada keempat penjala ikan, “mari ikutlah Aku.” Injil dimulai dari Allah yang mencari manusia dan menunjukkan kebesaran kasih dan keadilan. Sehingga Anda dan saya yang menerima kasih Allah dijadikan umat Allah yang dikasihi untuk melakukan kehendak Allah.

Pada akhirnya Firman itu menjadi manusia, Firman itu adalah Allah dan Ia bernama Yesus Kristus. Disalibkan dan ditimpakan semua murka Allah, Ia yang kudus dan suci menjadi dosa karena semua dosa manusia pendosa ditimpakan kepada Yesus.

Saudaraku, Injil adalah panggilan untuk bertobat dan beriman hanya kepada Yesus, yang artinya memberikan keseluruhan hidup kita kepada Dia karena hanya Dia yang mampu mengasihi kita dan menyelamatkan kita dari kutuk dosa dan mengubahkan kita sehingga kita membenci dosa.

Hanya ketika Yesus di dalam kita dan kita di dalam Dia dan Roh Kudus ada bersama-sama kita setiap hari. Maka pada saat itulah anugerah itu benar-benar nyata. Anda dan saya  disadarkan akan dosa, kita bukan hanya menyesali dosa, kita juga tahu dosa adalah pemberontakan kepada Allah dan dosa selalu membuat kita tidak memuliakan Allah dan berpusat pada diri sendiri.

Kita melihat kepada Yesus yang disalibkan dan menginginkan Dia sehingga kita dimampukan untuk menjadi sama dengan Dia. Kita percaya kepada Yesus, karena Yesus adalah Tuhan yang mengasihi kita karena makna salib yang mendalam menancap di dalam hati dan pikiran. 

Injil yang menjadi pusat dari perenungan kita untuk selalu menginginkan Kristus dan Kristus dikenal oleh sesama kita melalui kehidupan Kekristenan kita yang penuh kasih kepada sesama, sama seperti kasih Yesus kepada kita sebagai prbadi yang berdosa tetapi mendapatkan belas kasihan Allah.

Kita haruslah melihat iman yang hidup adalah buah dari iman kepada Yesus, iman kepada Sang Injil. Buah dari diri yang telah disalibkan bersama-sama dengan Yesus dan melepaskan aku dari kehidupan jiwa yang untuk memuliakan Allah dan mengenakan Yesus saja. Sebab kita adalah milik Yesus. Inilah yang Yakobus maksudkan ketika Ia menuliskan pasal 2:1, “Saudara-saudara sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”

Allah yang kudus, Allah yang mulia dan penuh atas diri-Mu sendiri. Segala kemuliaan dan sembah hanya bagi-Mu. Di mana Engkau yang telah menebus dan memberikan diri Kristus menjadi penebus yang sempurna. Memberikan kepada kami, yang percaya iman yang hidup, iman yang sejati dan iman yang mengasihi Allah dan sesama. Terimakasih Tuhan untuk anugerah, berkat terbesar ini dan aku menemukan diriku bersuka dan dipenuhi di dalam Engkau saja sampai selama-lamanya. Di dalam nama Yesus. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Yakobus 2:18-26 Iman Tanpa Perbuatan"