Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Filipi 4:4 Perintah Untuk Bercukacita Senantiasa

Renungan Filipi 4:4 Perintah Untuk Selalu Bercukacita Senantiasa

Filipi 4:4 (TB) Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Apakah benar, kita harus selalu bersukacita dan menunjukkan sukacita di hadapan banyak orang, walau pun kita tidak baik-baik saja? Apakah kita harus berpura-pura kuat agar terlihat hebat? Dengan cara bersukacita senantiasa. Apakah kita berdosa jika kita berduka, sedih, tertekan, dan meratap karena hal-hal tertentu yang memang menyakitkan hati dan pikiran? Apakah ayat di atas, mengajari kita untuk menyangkal kesedihan kita, dan hidup dalam kepura-puraan? 

Kita akan merenungkannya, kita akan melihat latar belakang penulis Surat Filipi, kita akan belajar sukacita secara telogis, dengan melihat ayat-ayat lain dan akhirnya kita akan mengerti bahwa sukacita yang Paulus maksudkan pada ayat di atas tidaklah mutlak dan sukacita bukanlah pondasi dari keselamatan. Bukanlah alasan dari kita disalamatkan. Yang artinya bukan karena kita bersukacita senantiasa, maka Allah akan berkata pada kita, “kamu layak masuk surga, kamu aku kasihi karena bersukacita senantiasa.” Tidaklah demikian. Baiklah marilah kita dalami sukacita yang dimaksudkan oleh Paulus.

Kita juga akan belajar lawan makna dari sukacita yaitu dukacita, bagaimana sebenarnya dukacita oleh karena keadaan yang benar, oleh karena kita menyadari sesuatu yang memang harus membuat kita meratap. Bahkan Allah sendiri memerintahkannya.

Renungan Filipi 4:4 Perintah Untuk Bercukacita Senantiasa 

Bersukacita dalam penderitaan

Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi, ia sedang di penjara Roma, ada dalam ketidakpastian kapan akan dibebaskan. Yang pasti kita tahu, bahwa Paulus dipenjara bukan karena melakukan kejahatan, ia dipenjara karena memberitakan Injil, karena melayani, karena membawa pengharapan kepada dunia. 

Filipi 2:17 (FYH) Dan seandainya darah saya harus dicurahkan ke atas iman Saudara, sebagai kurban persembahan kepada Allah, yaitu seandainya saya harus mati untuk Saudara, saya akan tetap bersukacita bersama Saudara.

Namun, kita dapat belajar dari Paulus dalam pelayanannya yang dipenuhi penderitaan, dipenuhi pencobaan. Ia memberikan satu pernyataan yang sangat indah yaitu tetap bersukacita. Jadi dalam konteks ini, sukacita yang sejati dari orang Kristen yang telah ada di dalam Kristus dan berjuang bersama Kristus untuk memberitakan Injil adalah sukacita karena Yesus bersama kita.

Ini bukanlah sukacita tentang Anda mau pun saya, dunia mengajarkan kita untuk tetap kuat untuk diri sendiri, dunia mengajarkan kita untuk mengandalkan kekuatan sendiri untuk bersukacita. Tetapi Kekristenan memabawa kita mendasari setiap kekuatan yang menunculkan sukacita karena Kristus, karena orang-orang yang dilayani dan teman seiman bertumbuh terus terarah kepada Kristus iman yang benar dan sejati (Filipi 4:10).

Sukacita yang Paulus maksudkan adalah sukacita bukan karena Anda berjuang untuk terlihat kuat di dunia, ini salah. Ini bukanlah sukacita agar Anda terlihat hebat dalam kesendirian Anda sehingga Anda terlihat dapat menanggung beban Anda sendiri. tapi ini adalah sukacita yang senantiasa ada di dalam keluarga Allah oleh karena melayani Injil. Bersukacita senantiasa bersama komunitas Anda, karena saling melayani, di mana pelayanan yang dilaksanakan berpusat pada kasih karunia yang ada di dalam Kristus.

Sukacita senantiasa, karena ibadah yang benar, merenungkan Injil, mendapatkan pengajaran yang sehat dan hidup dalam sukacita yang lahir dari hati yang baru dan pikiran yang baru. Tidak akan pernah ada sukacita sejati dalam diri manusia tanpa adanya Roh Kudus, tidak akan ada kekuatan dalam kepura-puraan dengan berkata bahwa semuanya baik-baik saja. 

Kita tahu sekarang sukacita yang Paulus maksudkan, bukanlah sukacita seperti kita pikirkan, bukanlah sukacita yang terlepas dari Injil Yesus Kristus dan pengajaran yang benar. bukanlah sukacita yang lepas dari komunitas gereja yang sehat dan bertumbuh ke arah Kristus.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana Anda dan saya mendapatkan sukacita yang demikian indah, sukacita yang ada di dalam Kristus dan bukan sukacita agar terlihat kuat, tegar, dan tidak ingin dilihat orang jika bermasalah.

Saya telah menjelaskan, bahwa sukacita yang dunia tawarkan dan ajarkan pasti bertentangan denga napa yang Injil tawarkan melalui surat Paulus kepada jemaat di Filipi. Anda harus merenungkan setiap perbedaannya. Dengan kata lain, dalamilah sumber sukacita yang ada di Alkitab, pelajari Alkitab Anda, bacalah itu! Anda tidak akan bersukacita dengan benar, jika pondasi Anda lemah, jika Alkitab Anda abaikan.

Selanjutnya, berdoalah, ini bukanlah doa yang seperti Anda seringa dengar. Tetap ini doa yang didasarkan pada teks Alkitab, setiap bacaan Anda, setiap firman yang Anda baca. Ubahlah itu menjadi doa, pujilah Allah karena telah mengaruniakan Kristus yang disalibkan, pujilah Allah karena Ia besar dan berkuasa. Dan pujilah Allah memberikan kemuliaan-Nya, sebab Dia mulia, indah dan berkuasa. Pujilah Tuhan karena kasih-Nya.

Selanjutnya, masuklah dalam komunitas gereja yang sehat, mengajarkan doktrin yang benar, membawa Anda untuk semakin mengerti firman, semakin mengasihi Kristus dan membenci dosa-dosa Anda, Anda bertobat karena Kristus dan pelayanan yang ada di dalam komunitas Anda.  

Larilah dari pengajaran yang tidak pernah menginginkan Kristus dan yang hanya memanfaatkan Yesus untuk mendapatkan ini dan itu, larilah dari pengajaran yang memuliakan diri manusia, yang memerintahkan Anda bersukacita dengan cara Anda sendiri dan tidak Alkitabiah, larilah dari setiap ajaran yang memerintahkan Anda untuk bersyukur agar Anda semakin dikasihi Allah, larilah dari pengajaran yang menyimpang. Dan pelajarilah Alkitab Anda!

Bailah dalam penderitaan kita, sukacita Kristus melimpah atas kita, sebab hanya di dalam Di akita mendapatkan sukacita, sebab di dalam Di akita beroleh pengampunan dosa. saudaraku, hiduplah dengan pengertian yang benar oleh karena kasih Kristus, Filipi 1:29 (TSI) “Karena kebaikan hati Allah, Dia memilih kalian – bukan saja untuk percaya kepada Kristus, tetapi juga untuk menderita demi kemuliaan-Nya.” Penderitaan ini, akan menghadirkan dukacita yang benar, baiklah kita mempelajari dukacita itu yang merupakan awal dari sukacita abadi dari Allah.

Berdukacita oleh karena dosa

Saya telah menjelaskan bahwa sukacita di dalam Kristus tidaklah mutlah hasil pekerjaan kita dan harus kita lakukan. Karena itu adalah karya Roh Kudus dan Allah sendiri pada saat-saat yang lain, memerintahkan kita untuk berdukacita, untuk melihat dunia dengan jelas dan menangis karena apa yang terjadi. 

Ini adalah dukacita karena pada realitanya kita adalah orang berdosa, karena kita telah melawan Allah dan tidak mau taat kepada-Nya, bahkan betapa layak dan pantasnya kita dibinasakan. Ini adalah rasa berduka karena Yesus yang telah menunjukkan betapa dosa adalah hal yang serius karena Ia disalibkan.

Duka karena penderitaan mengikut Yesus dan meminta Rahmat-Nya untuk dikuatkan, diberikan kemampuan dan merendahkan diri dihadapan-Nya. Tanpa kekuatan yang berasal dari Allah, tidak akan pernah ada sukacita, tanpa dukacita yang sungguh-sungguh karena kesadaran akan dosa, tidak akan pernah ada sukacita yang berasal dari Allah.

Karena itu Yesus menasehati kita dan layaklah nasehat ini kita renungkan dan bertobat karena kata-kata ini, Matius 5:4 (TB) “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Tidak ada sukaicita sejati yang berasal dari diri sendiri, karena sukacita yang sejati hadir dari dukacita karena dosa yang menekan berat dan kita sadar akan tekanan itu, kita jujur di hadapan kaki salib dan bertobat.

Selanjutnya Rasul Yakobus, yang memberikan arahan, bagaimana seharusnya Anda dan saya menyadari dosa dan meratap karena dosa, meratap karena penyesalan dan meminta ampun pada Allah, Yakobus 4:9 (TB) “Sadarilah kemalanganmu, berdukacitalah dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.” Bertobatlah, bertobatlah, lihatlah betapa gampangnya Anda dan saya berkawan dengan dunia ini dan hidup dalam hawa nafsu dunia dan tidak menginginkan Kristus samasekali. 

Selanjutnya berdukacitalah karena dosa umat, berdukacitalah karena kita sampai hari ini hidup di tengah masyarakat yang tidak mengenal Allah, berdukacitlah karena kita harus membawa Injil kepada mereka dan berdoalah untuk kemampuan dan kuasa dari Allah di dalam Kristus.

Sama seperti Kristus yang berdukacita oleh karena dosa orang Israel. Markus 3:5 “Ia berdukacita karena kedegihan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang-orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya,maka sembuhlah tangan itu.” Saudaraku, kita harusnya peka pada keadaan, mintalah hati yang demikian kepada Allah, mintlah Rahmat Allah untuk menerima kasih yang sama seperti kasih Yesus, kita perlu kekuatan dari Allah.

Selanjutnya Paulus berduka karena penyembahan berhala yang dilakukan di Athena, mereka melakukan segala hal dan berkorban untuk sesuatu yang bukan Allah. Betapa kita harus berduka melihat sesama kita manusia binasa, karena mereka berjuang untuk sesuatu yang fana dan tidak pernah mengenal Allah, mereka sombong karena sesuatu yang benar-benar rapuh dan tidak bernilai kekal. Kita seharusnya sedih karena banyak orang yang ke gereja entah mereka sadar atau tidak, mereka masih bermegah pada kemewahan diri mereka. Entah itu pekaian mereka, tubuh mereka dan segala hal yang miliki.

Kita seharusnya berduka sama seperti Paulus, betapa sesat dan binasanya manusia di luar Kristus dan tidak pernah merasakan kemegahan dan keindahan Yesus, betapa kita harusnya berduka karena semua realita ini, realita dosa dan terus berjuang untuk hidup bagi kemajuan Injil. Kisah Para Rasul 17:16 (TB) “Sementara Paulus menantikan mereka di Antena, sangat sedih hatinya karena melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung berhala.” Saudaraku, tidak ada yang lebih menyedihkan dari realita dosa, baik itu saudara (sesama kita disekitas kita) kita yang masih ada di dalam dosa dan diri kita sendiri yang masih begitu mudah jatuh dalam dosa.

Untuk menutup artikel ini, saya ingin Anda bersama saya merenungkan Injil Yesus Kristus berdasarkan Filipi 2:5-7 dan Roma 8:1-2 Terjemahan Firman Allah yang hidup.

Filipi 2:5-7 (FAYH) Hendaklah Saudara bersikap seperti Kristus, yang tidak menuntut dan tidak berpegang kepada hak-hak-Nya sebagai Allah, meskipun sebenarnya Dia Allah. Ia mengesampingkan kuasa serta kemuliaan-Nya dan mengambil sikap seorang hamba dan menjadi seperti manusia.

Roma 8:1-2 (FAYH) DENGAN demikian, sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang menjadi  milik Yesus. Roh yang memberi hidup itu, yang menjadi milik saya oleh karena Yesus Kristus, telah membebaskan saya dari hukum dosa dan maut yang sangat mengerikan.

Hanya karena Kristus telah menjadi sangat berdosa, disalibkan karena menerima hukuman dosa dan dosa saya dan saudara, seolah-olah Dialah yang melakukan dosa, maka saat ini kita beroleh kepastian kehidupan kekal di dalam Kristus, bukan hanya itu kita lepas dari penghukuman. 

Kita selayaknya binasa, karena dosa-dosa kita, kita yang pada dasarnya telah melawan Allah dan tidak ingin hidup taat kepada Dia, telah menjadikan diri kita tuhan, kita suka mengatur hidup kita sendiri. Kita berlagak kuat dan bisa hidup tanpa kasih karunia dari Allah dan betapa kita telah melawan Dia dan tidak ingin hidup melayani Dia.

Kita telah menjadi penyembah berhala, kita menginginkan yang fana dengan cara menanfaatkan Allah, kita berdoa untuk mendapatkan ini dan itu, tetapi tidak pernah benar-benar menginginkan Allah, kita harusnya bertobat dan berhenti untuk menginginkan apa yang dunia dapat tawarkan. 

Baca juga:

Kita harus memandang kepada Dia yang disalibkan, betapa mengerikannya hukuman dosa yang seharusnya kita terima, tetapi karena kasih karunia Yesus menjadi dosa dan kebenaran-Nya diberikan kepada kita, dan oleh karena itulah tidak ada lagi penghukuman bagi yang ada di dalam Yesus, bagi yang bertobat dan mengaku tanpa Yesus kita hanyalah orang sukses yang binasa, terhilang, tersesat dan tidak akan pernah dapat menyembah Allah yang benar.

Kita pada dasarnya diciptakan untuk menyembah Allah, hanya ketika Dia menjadi satu-satunya keinginan terdalam kita, pada saat itulah sukacita dari Allah mengalir dalam hidup kita dan ini terjadi karena Roh Kudus bekerja dalam kita, baiklah Anda dan saya sekarang bertobat, bukan hanya itu kita bersama-sama berdoa meminta rahmat Tuhan, kita bersama-sama memuji Dia karena kebesaran-Nya, sebab kita diciptakan untuk Dia dan memuji Dia sampai selama-lamanya. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Filipi 4:4 Perintah Untuk Bercukacita Senantiasa "