Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Kristen Tentang Jatuh Cinta; Bagaimana Menyikapi Perasaan yang Jatuh Cinta?

 

Renungan Kristen Tentang Jatuh Cinta; Bagaimana Menyikapi Perasaan yang Jatuh Cinta?

Beberapa waktu lalu, renungan Amsal oleh Timothy Keller. Memurnikan saya secara pribadi. Dan saya harap juga membawa anda pada kemurnian hati untuk semakin berpusat pada Kristus saja. Dan menginginkan Dia dalam kehidupan sehari-hari anda untuk taat kepada-Nya sampai bertemu muka dengan-Nya. 

“Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati”  (Amsal 21:2) 

“Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati” (Amsal 16:2) 

NERACA ALLAH.  

Amsal 16:2 mengatakan kita pikir motivasi kita bersih padahal tidak.  Amsal 21:2 mengatakan sesuatu yang sedikit berbeda.  Kita pikir kita dapat menentukan apa yang baik, adil dan benar, tetapi manusia bukanlah penentu apa yang benar atau salah – melainkan Allah. Kita hidup di era yang memberitahu kita, "Tidak ada yang berhak memberi tahu orang lain bagaimana caranya hidup," bahwa kita dapat mendefinisikan benar dan salah untuk diri kita sendiri. Namun asumsi budaya ini penuh dengan kontradiksi. Kita menganutnya tetapi dalam tarikan napas berikutnya mengkritik orang atas kefanatikan atau keserakahan atau kekejaman. 

Keadilan memiliki satu set neraca – milik Allah. Dia belaka yang menimbang setiap hati. 

Jadi janganlah terlalu percaya pada naluri dan motivasi moral Anda. Kita mengatakan kita menegur orang "demi kebaikan mereka sendiri", tetapi apakah benar-benar motivasi kita hanya mencoba menghukum [demi kebaikan] mereka? Kita mengatakan pada diri sendiri bahwa kita tertarik kepada seseorang karena cinta, tetapi bukankah itu karena penampilan dan kecantikan mereka membangun ego kita?  Kiranya Firman Tuhan menyelidiki dan menyaring naluri dan motivasi Anda melalui pembelajaran dan doa. 

Apakah Anda terlalu cepat untuk menyimpulkan sebagai motivasi yang baik dari diri Anda sendiri? Ingat-ingatlah saat ketika Anda mendustai diri sendiri tentang alasan sebenarnya Anda mengejar sesuatu.

Doa:  Tuhan, saya bolak-balik antara terlalu banyak dan terlalu sedikit mengintrospeksi diri.  Sembuhkan hal ini dalam diri saya dengan Injil.  Kasih-Mu di dalam Kristus yang tanpa syarat bagi saya membuat saya tidak perlu berusaha untuk membeli kasih-Mu melalui pemeriksaan diri maupun takut untuk melakukannya sama sekali.  Amin. 

(Tim Keller: The Way of Wisdom)

Saya harus jujur, bahwa waktu paling menyenangkan dalam hidup saya, ketika saya menaruh perasaan dan perhatian pada seorang wanita. Karena saya seorang pria. Tetapi seketika otak saya berpikir, sehingga wanita tersebut tidak berlama-lama di hati saya, melainkan dipikiran saya. 

Hal ini membawa saya untuk berpikir logis, untuk mendekati seseorang dengan pemikiran yang tanpa mengharapkan balasan. Ya ini terjadi ketika saya ada di dalam Kristus. 

Sangat berbeda ketika saya tidak di dalam Kristus, saya akan memanipulasi, saya akan berjuang untuk mendapatkan balasan dan harapan saya, saya mendapatkan lebih banyak dari apa yang dapat saya berikan. 

Demikianlah pada dasarnya saya tidak sedang mengasihi wanita tersebut, saya mengasihi diri sendiri, karena di hati saya ada diri saya untuk kepuasan saya. Dan di pikiran saya ada dia yang saya sukai dan bagaimana saya mendapatkan lebih banyak dari apa yang dapat saya berikan. 

Ini bukan cinta, ini adalah penyembahan berhala, narsis, cinta diri sendiri berlebihan dan nafsu yang dikendalikan kedagingan dan janji manis bahwa jika apa yang saya pikirkan terjadi, saya hidup bahagia. Tetapi realitanya kosong dan tidak ada kepuasan di sana, selain waktu yang terbuang dan saya tidak pernah mengenal Tuhan.

Sekarang, saya mengajak anda untuk lebih dewasa, dan memusatkan rasa yang ada di hati pada Alkitab dan bagaimana pemikiran anda berpusat pada Kristus yang telah disalibkan. Untuk sebuah pondasi relasi yang bertujuan untuk mencari kehendak Tuhan, hidup bersama-sama dengan visi yang jelas untuk melayani Tuhan. Dalam relasi yang diikat oleh firman TUHAN.

Bagaimana Seharusnya Seorang Pria Kristen Menyikapi Perasaannya yang Sedang Jatuh Cinta?

Jawaban yang sangat Kristiani, anda harus kembali ke Alkitab. Untuk menemukan apa itu cinta yang ada di Alkitab dan menikmati cinta itu, sampai anda benar-benar tahu caranya mencintai seseorang yang anda kenal, anda cintai yang di mana kalian bertemu, berteman, dan saling berbagi cerita.

Tulisan ini, hadir karena saya melihat diri saya sendiri, yang salah, memiliki kecenderungan berdosa, dan sangat egois. Saya tahu saya mengasihi teman wanita saya, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang di dalam diri saya yang salah. Itu menuntut perhatian dari Wanita yang saya kasihi. Ini mengerikan jika direnungkan, dirasakan, dan tidak disadari.

Saya rasa ini adalah akar dari hancurnya sebuah relasi yang indah, baik itu dengan orang tua, saudara, sahabat, teman dan orang-orang sekitar. Ketika “sih aku” menjadi pusat dari cinta, di mana ia mengaku bahwa ia mencintai seorang pribadi tetapi pada dasarnya ia mencintai dirinya sendiri dengan cara mencari kepenuhan dari orang yang ia katakan bahwa ia mencintai orang tersebut. Ya inilah yang saya lihat dalam diri saya.

Saya namakan, bagian ini adalah keinginan daging yang ada di dalam saya akar dari kerusakkan mental jika dibiarkan dan rusaknya sebuah relasi. Jika tidak adanya pertobatan. Setiap kita ada daging yang ingin diperhatikan, dipuaskan, dan tersesat pada keinginan atas nama cinta. 

Nafsu daging sangat pandai memanipulasi keadaan dengan kata indah, dengan janji manis demi kepuasan. seringkali mengintimidasi. Tetapi pada waktunya nafsu ini menghancurkan relasi, melalui merusak pasangan sendiri dan diri sendiri. Tidak ada Tuhan di sana, sebab keinginan kita atas nama cinta, jika bertindak ia benar-benar mengabaikan Tuhan. Dan ini mengerikan.

Cinta adalah perasaan yang menginginkan

Ada salahnya ada benarnya jika cinta didasarkan pada perasaan. Tetapi realitanya kita, seringkali mengidentikan cinta dengan perasaan yang menginginkan. Perasaan yang menyukai seorang wanita mau pun seorang pria dan semua itu didasarkan pada pandangan mata lalu turun ke hati dan naik ke pikiran kita. Ya begitulah teorinya menurut saya.

Ini bukan cinta pada sesama, ini adalah cinta pada diri sendiri, di mana pikiran dan kecenderungan kita selalu saya berpusat pada diri sendiri yang ingin disenangkan. Kita sebagai seorang pria ingin seorang wanita bersama kita, untuk memberikan kita kesenangan, kita berharap bahwa segala sesuatu seperti yang kita inginkan. Merupakan kesenangan yang sejati.

Ketika jatuh cinta, perasaan sangat kuat mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang munafik, bukan menjadi diri sendiri. Berjuang untuk mendapatkan yang diinginkan. Walau hanya sekedar perhatian dari seorang Wanita, ini didasarkan pada perasaan yang mengatakan kepada kita, “jika dia bersamamu kamu pasti akan bahagia, jika ia memberikamu perhatian maka kamu berhasil.” Jika dipikirkan dengan akal sehat, ini kesesatan.

Tentang perasaan, ia tidak menentu, lagi pula Alkitab dengan jelas membukakan satu realita bahwa hati adalah sumber kerusakan relasi. Karena hati licik, telah jatuh dalam dosa dan di dalam hati manusia adalah pabrik dari penyembahan berhala. Di mana kita menjadikan segala hal yang kita lihat dan kita anggap dapat memberikan kepuasan. Yang terlihat itulah menjadi tuhan atas diri sendiri.

Ketika ini terjadi, kita memiliki kecenderungan benar-benar melupakan TUHAN, kita hanya menginginkan apa yang kita pikirkan terjadi. Jika itu tidak terjadi kita memasukkan realita ke dalam imajinasi liar yang merusak. Ini akan membawa kita pada relasi yang tidak sehat terhadap sesama kita, terutama teman Wanita yang kita sukai.

Kita menggerutu dengan diri sendiri, kita ingin kepuasan dari apa yang kita pikirkan. Kita pada akhirnya lupa panggilan hidup Kekristenan kita. Kita ada dalam lembah kekosongan yang menyedihkan tenggelam dalam perasaan yang merana dan tanpa arah. Kita harus segera bertobat saudaraku.

Jadi ketika cinta kasih didasarkan pada perasaan.

  • 1. Kita sedang cinta diri sendiri berlebihan
  • 2. Kita sedang mencari kepuasan pada seseorang pribadi yang juga pendosa
  • 3. Kita sedang melakukan penyembahan berhala
  • 4. Kita sedang melupakan panggilan hidup kita sebagai pria/wanita Kristen yang telah ditebus dengan darah yang mahal
  • 5. Kita sedang berpusat pada diri sendiri yang merusak relasi yang indah yang seharusnya diikat oleh cinta sejati berdasarkan salib. Tetapi kita sedang mendasarkannya pada perasaan yang tidak menentu. 

Cinta haruslah kembali pada esensi dari cinta di dalam kasih yang diberitakan melalui Injil. Di mana kita dapat menemukan esensi dari cinta yang benar-benar menyenangkan. Di dalam kehidupanlah kita dapat menemukannya. Kehidupan itu adalah Kristus yang telah disalibkan.

Pada poin berikutnya saya membawa anda pada pengertian yang lebih indah tentang mencintai tentang panggilan kita dalam cinta, lebih bertujuan dengan nilai kekal tentang mencintai, dan mecintai dalam kemuliaan dan perhatian dan pengertian yang utuh. Ini dapat dilakukan ketika kita merenungkan salib. Injil Yesus Kristus.

Kembali pada Sang Cinta

Perasaan jatuh cinta, haruslah kembali pada Sang Cinta, Dia adalah Tuhan Yesus Kristus. Dengan mengenal Dia, merenungkan Dia dan memiliki relasi dengan-Nya. Kita akan dibawa untuk peka pada apa itu mencintai sesama kita (seorang wanita/pria yang kita sukai), bukan cinta pada diri sendiri.

Mari kita merenungkan panggilan kita dalam kehidupan Kristen kita, kita dipanggil untuk hidup dalam pengudusan yang Allah kerjakan terus menerus. Ketika kita percaya kepada Yesus, kita dibenarkan, dikuduskan untuk hidup bagi Dia, merenungkan cinta-Nya yang sangat besar. 

Melihat visi Kristus bagi dunia ini, di mana Ia menginginkan orang-orang datang kepada-Nya untuk melawan dosa, melepaskan diri dari perbudakan dosa dan menyembah Dia. Yesus adalah Tuhan atas hidup kita dan kesenangan sejati didapatkan hanya ketika kita taat kepada Yesus dan untuk bisa taat kita harus benar-benar mengenal Dia, untuk dapat mengenal Dia, kita harus membaca dan merenungkan Alkitab.

Ketika kita telah sadar, bahwa hidup kita adalah milik Yesus, kita memiliki kecenderungan yang baru. Ini berlawanan dengan kecenderungan yang lama. Kehidupan lama dipusatkan pada diri sendiri, kehidupan baru dipusatkan pada Kristus yang telah mengasihi kita dan menjadi Tuhan atas hidup.

Tuhan atas hidup kita, artinya Yesuslah yang harus menguasai semua emosi kita, pikiran kita, dan tindakan kita. Inilah kesenangan sejati, ketika kita benar-benar dikendalikan oleh Kristus, hidup bagi kemuliaan-Nya. 

“Tidak ada kesenangan dalam hidup yang didasarkan pada perasaan. Saya harap anda jujur pada diri sendiri.”

Cinta kita kini didasarkan pada cinta yang Yesus telah lakukan. Yesus mengasihi manusia dengan perhatian yang utuh. Saya dicintai oleh Yesus, diangkat dari kebusukan hidup saya, dibersihkan dari semua kerak hidup, dari semua perasaan yang salah dan dikuduskan untuk memikirkan Dia, Sang Cinta, dan hidup untuk visi-Nya, panggilan mulia untuk membawa jiwa-jiwa pada keselamatan yang ada di dalam Kristus, dalam Injil yang menjadi pusat hidup saya sekarang.

Hari ini, di mana saya menulis artikel ini. Saya menemukan esensi dari cinta yaitu perhatian kepada sesama. Cinta bukanlah saya harus dipuaskan, mendapatkan, dan menerima. Tapi cinta adalah saya telah dipuaskan oleh Kristus, lalu saya dapat melihat cinta itu sangat indah. Dan bergumul untuk memuaskan sesama saya dengan cinta yang berasal dari Sang Injil Yesus Kristus.

Lalu saya menemukan bahwa cinta adalah bagaimana saya dapat lebih dulu memberikan perhatian sebanyak-banyaknya kepada seseorang yang saya cintai. Ini bukanlah perhatian buta, karena jatuh cinta. Ini adalah perhatian yang mengalir karena saya telah dipenuhkan oleh Injil. 

Selama orang yang saya cintai, menerima saya, mau berelasi dengan saya, dan dengan tulus menerima kekurangan saya. Mengapa saya tidak memberikan kasih Kristus kepadanya, sama seperti saya telah dikasihi oleh Kristus. Melalui orang-orang yang sudah lebih dulu mendidik saya, membawa saya pada Kristus.

Ini dapat kita lakukan, hanya ketika kita merenungkan Kristus setiap saat. Memiliki obrolan yang terus menerus di dalam pikiran dan hati kita, di mana kita dapat berbicara kepada Yesus tentang apa yang kita pikirkan dan rasakan. Berdoa agar Dia mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya kita bersikap ketika jatuh cinta, ketika kita tertarik untuk mengenal seseorang wanita/pria lebih dalam lagi.

Saya selalu kembali ke Roma 12: 9-15. Tentang bagaimana saya menanggapi perasaan saya tentang jatuh cinta. Cinta pada dasarnya tidak pernah benar-benar mengendalikan saya. Ketika Injil, cinta Kristus kepada saya yang direnungkan setiap saat.

Jika bukan Injil yang saya renungkan. Maka perasaan sayalah yang membuat saya sering jatuh pada keegoisan yang merusak sebuah relasi. 

Cinta adalah komitmen yang ada dalam kendali saya dimampukan oleh Roh Kudus, untuk terus merenungkan Injil, sadar bahwa saya harus berbagi Injil kepada orang yang saya kasihi, orang yang telah membuat hati saya berdebar tanpa alasan ketika didekatnya. Ya begitulah gambarannya.

Ya meskipun saya tidak tahu, dia memiliki perasaan yang sama atau tidak. Tetapi yang terpenting, sebagai Pria/wanita, kita harus secara tulus dan kudus, berjaga-jaga senantiasa dalam doa. Untuk memimpin orang yang kita kasihi, walaupun tidak berpacaran hanya dalam pertemanan. 

Memimpin ia kepada Kristus, kepada Injil, untuk bertumbuh dan semakin mengasihi Yesus, bukannya memimpin dia untuk jatuh cinta kepada kita, kalau pun ia suatu saat tertarik untuk memiliki relasi yang lebih, itu pun harus digumulkan di hadapan Allah, apakah berpacaran dengannya, hingga menikah. Itu adalah panggilan untuk bersama-sama melayani Allah. Jika tidak, tindakan yang bijak untuk melepaskan berdasarkan firman TUHAN.

Intinya, jangan pernah mendasari relasi pada perasaan, karena perasaan itu jahat. Dasarkanlah relasi pada kasih Kristus, pada salib yang terus direnungkan. Saya harap anda dapat memahami apa yang saya maksud. 

Agar anda menjadi pria/wanita yang dimiliki Kristus dan tidak melakukan hal-hal yang sia-sia yang tidak membuat anda bertumbuh, baik itu iman kepada Yesus watak yang cantik dan keahlian praktis yang berguna bagi pelayanan dan pekerjaan anda. 

Relasi yang indah berpusat pada Injil tidak hanya berlaku bagi kita seorang pria/wanita yang sedang jatuh cinta pada lawan jenis, di mana ia memenuhi hati dan pikiran kita. Tetapi ini berlaku dalam semua konteks relasi kita dengan sesama manusia yang dikasihi oleh Kristus. 

Dengan orang tua kita, dengan saudaraku kita, dengan teman kita, sahabat kita, dan kakasih kita jika kita telah berpacaran. Ini juga dapat diterapkan dalam konteks kasih yang terjalin antar suami isteri.

Tentang Relasi Berpacaran Pria Kristus dan Wanita Kristus

Tentang relasi berpacaran sendiri, itu adalah panggilan yang mulia terhadap pria Kristus dan Wanita Kristus, di mana mereka dapat saling mengenal, bertumbuh, saling mengkritik dalam kasih, dan memutuskan untuk tetap lanjut ke pernikahan atau berhenti karena alasan-alasan yang dapat diterima kedua belah pihak.

Pacaran Kristen seharusnya, membawa satu sama lain untuk semakin serupa dengan Kristus, penuh kesabaran, tanpa memaksa dan menghakimi untuk menjatuhkan. Mendoakan dengan kasih yang nyata dan perenungan yang memikirkan kasih Yesus yang begitu besar bagi diri sendiri dan pasangan, yang seharusnya binasa tetapi dikasihi dan menjadi milik Allah.

Jika melayani Tuhan adalah panggilan, pacaran yang indah berdasarkan Injil  bagi saya adalah panggilan untuk menemukan kawan sekerja Allah yang siap melayani Kristus dalam konteks pelayanan yang telah disepakati apa pun konsekuensinya di masa depan.  

Saya berdoa, kiranya anda yang membaca artikel ini, dapat semakin terpesona pada keindahan Yesus yang disalibkan. Dan memberikan perhatian yang tulus pada seorang Wanita yang anda cintai. Meskipun ia bukanlah pacar anda. Amin.

Roma 12:9-15 TSI

9 Janganlah kamu hanya berpura-pura mengasihi orang lain, tetapi kasihilah dengan tulus. Lakukanlah hanya yang baik dan bencilah semua jenis kejahatan. 

10 Sebagai saudara-saudari seiman yang sudah bersatu dengan Kristus, hendaklah kamu semua saling mengasihi dengan sepenuh hati. Juga, hendaklah kamu berusaha menghormati semua saudara seiman melebihi diri sendiri. 

11 Rajinlah bekerja dan jangan malas! Dengan kekuatan dari Roh Allah, hendaklah kamu melayani Tuhan dengan penuh semangat. 

12 Bersukacitalah, karena kita yakin bahwa harapan sebagai pengikut Yesus pasti terwujud. Saat menghadapi kesusahan, berdirilah teguh. Dan dalam keadaan apa pun, tetaplah berdoa! 

13 Ketika saudara-saudari seiman kita perlu bantuan, tolonglah mereka. Dan kalau mereka memerlukan tumpangan, hendaklah pintu rumahmu terbuka bagi mereka. 

14 Kalau ada orang yang menyakitimu, mintalah Allah untuk memberkati orang itu. Ya, mintalah berkat baginya, dan jangan meminta Allah mengutuk dia! 

15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita. Menangislah bersama orang yang menangis. 

Posting Komentar untuk "Renungan Kristen Tentang Jatuh Cinta; Bagaimana Menyikapi Perasaan yang Jatuh Cinta?"