Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Pengkhotbah 2:20-23 Pencapaian Hidup yang Sia-sia

Renungan Pengkhotbah 2:20-23 Pencapaian Hidup yang Sia-sia

Ayat Alkitab Pengkhotbah 2:20-23

Judul renungan; Pencapaian Hidup yang Sia-sia

Pengkhotbah 2:20-23 (TB) Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, makai a harus meninggalkan bagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. ini pun Kesia-siaan dan kemalangan besar. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha  yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tentram. Inipun sia-sia”

Pernahkah Anda setelah tuntas mencapai tujuan, hanya menemukannya tidak memuaskan jiwa? Tujuan apakah yang bisa bertahan di bawah matahari? Buatlah daftar. ~ Timothy Keller

Pada akhirnya semua hal yang Anda dan saya kerjakan sia-sia, hari ini saya menghasilkan banyak tulisan renungan, yang itu dibaca banyak orang. Dan ini pun sia-sia jika bukan Yesus yang hidup kekal itu yang saya beritakan pada setiap tulisan renungan saya. 

Bahkan ketika saya menyelesaikan setiap hari pekerjaan saya, ada jiwa yang lelah dan mengeluh. Benar kata Salomo, tidak ada jiwa yang dipuaskan tidak ada kekosongan yang dapat diisi oleh selesainya pekerjaan di bawah matahari.

Lalu apa yang harus kita lakukan, jika semuanya sia-sia belaka, jika pada akhirnya jerih payah kita menjadi milik orang lain. Jika pada akhirnya kita menjadi tua dan meninggalkan dunia ini. Apa gunanya hidup ini ketika direnungkan lebih lagi, semua itu yang kita kerjakan seolah-olah bahkan benar-benar tidak menghasilkan apa-apa.

Salomo melakukan banyak hal di dunia, Ia bahkan memberikan lebih banyak kepada Allah jika dipandang dari kacamata manusia. Ia mempersatukan kerajaan Israel tanpa perperangan, ia membangun rumah Tuhan dengan sangat megah, ia sangat berhikmat dan melakukan banyak hal yang ia sukai.

Ia membuat banyak kebun, ia membuat banyak pesta untuk bersukacita, ia melakukan segala hal selayaknya orang kaya, semua itu untuk mendapatkan kesenangan dan yang tidak sia-siaan.

Tapi akhirnya lahirlah kitab Pengkhotbah, kita rasa frustasi akan hidup, setiap keluhan yang terucap, setiap nasehat yang membukakan realita akan hidup. Bahwa untuk apa Anda mengejar yang sia-sia, untuk apa Anda berjerih lelah di bawah matahari. Pertanyaan yang sama ketika saya menulis dipertanyakan kepada diri saya sendiri.

Untuk apa? Jika pada akhirnya orang yang tidak melakukan apa-apa yang menerima apa yang kita kerjakan, mereka melakukan sama seperti yang bisa kita kerjakan. Tanpa berjerih kelah sedikitpun. Betapa hidup seolah menunjukkan sesuatu yang salah, sesuatu yang diinginkan tetapi tidak juga kita dapatkan.

Timothy Keller di dalam “ The Way of Wisdom” menjelaskan “kehidupan sekarang di bawah mata hari setiap pekerjaan yang dikerjakan akan selalu gagal dengan caranya sendiri. Pada akhirnya setiap pekerjaan tidaklah benar-benar mencapai sesuatu. Setiap pekerjaan dan hasilnya pada akhirnya akan dihapus oleh sejarah. Akan ada orang yang mengambil pekerjaan Anda setelah diri Anda tidak ada lagi di dalam dunia.

Pada akhirnya yang kita capai tidak memuaskan, semua pekerjaan menjadikan kita merasakan rasa sakit yang dalam. Anda seringkali tidak tidur untuk melakukan pekerjaan, saya seringkali berpikir keras apa yang salah dengan tulisan saya.

Saya harus mengecek Website saya, takutnya ada link-link yang mati di dalamnya. Saya seringkali lelah karena tidak tidur. Dan saya percaya Anda yang bekerja hari ini, berjuang hari ini, seringkali merasakan hal yang sama.  Kita bangun lebih pagi, dan kesulitan untuk tertidur dan menemukan setiap pekerjaan tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Ada wawasan yang baik Timothy Keller berikan kepada kita, ketika kita mempelajari kitab hikmat. Kita tidak dapat memisahkan Amsal dari kitab Pengkhotbah, keduanya pada dasarnya satu. Menunjukkan kepada kita dua sisi kehidupan yang dihasilkan oleh seseorang yang berhikmat dan orang yang bodoh.

Timothy Keller menjelaskan, “Amsal menunjukkan kepada kita adanya kepuasan yang dihasilkan oleh pekerjaan dan sebaliknya Pengkhotbah memberikan peringatan bahwa ada duri dan onak yang sering kita rasakan kita merasakan frustasi oleh karena pekerjana yang telah dikutuk (Kejadian 3:17-19).”

Faktanya dunia yang telah jatuh ke dalam dosa merupakan akar masalah yang menjadikan manusia tidak merasakan kepuasan. Pada akhirnya hikmat bukanlah tujuan yang akan memuaskan manusia, pekerjaan tidak dapat dibanggakan. Dan semua pencapaian seharusnya kita secara jujur menyatakan semua itu sia-sia.

Dosa membawa kita pada tuhan yang salah, menjadikan kita sangat idiot dengan cara menjadikan kita budak dari semua keinginan yang tidak ada habisnya. Menjadikan manusia yang seharusnya bersekutu dengan Allah yang menciptakannya, kini bersekutu dengan dirinya sendiri dan semua hal yang dia inginkan tetapi pada akhirnya semua itu sia-sia. Marilah kita bertobat dari persekutuan yang salah ini.

Adakah yang tidak sia-sia?

Tentu ada, di akhir kitab Pengkhotbah ada kabar yang indah disampaikan oleh Salomo yaitu agar kita selalu mengingat Sang Pencipta. Yesus Tuhan yang kita sembah Juruselamat kita berkata, “janganlah kita bekerja untuk makanan yang tidak kekal, melainkan bekerjalah untuk sesuatu yang kekal.” Ia melanjutkan di bagian lain kitab Injil. “carilah dahulu Kerajaan Allah dan Kebenarannya.” (Yohanes 6:27; Matius 6:33a).

Yesus telah melakukan semua itu dengan sempurna, Ia menunjukkan kepada kita bahwa ketaatan kepada Allah, jauh lebih berharga dari semua pencapaian yang kita bisa dapatkan di dunia yang fana saat ini. Kematian-Nya di kayu salib merupakan kuasa yang tidak dapat kita mengerti tetapi kematian inilah yang pada akhirnya memampukan kita untuk taat kepada Allah dan menginginkan Dia saja.

Kemuliaan yang hanya didapatkan melalui kuasa  Injil, kasih karunia yang didapatkan melalui Yesus yang Kristus, Dialah kepuasan, Dialah yang tidak sia-sia itu. Sekarang apa yang tidak sia-sia, yaitu jiwa-jiwa, pelayanan yang terus bergumul bersama Yesus membawa orang-orang kepada Yesus percaya Dia, menyembah Dia, dan menjadi pelayan-Nya.

Sekarang, kita dapat menemukan yang tidak sia-sia, yaitu Allah itu sendiri, ketika kita menjadi milik-Nya, ketika kita melakukan kehendak-Nya. Ketika kita hidup bagi Dia dan mati atas semua keinginan kita. Yesus merelakan nyawa-Nya untuk manusia.

Demikianlah Anda dan saya yang telah percaya kepada Yesus dengan penuh ucapan syukur memberikan hidup kita untuk menjangkau orang-orang dibawa untuk mengerti Injil. Bahwa Dialah tujuan hidup manusia. Sungguh ini berita baik dari Allah, bahwa dialah Yesus Kesia-siaan fana di dunia, menjadi sangat berharga, karena Dialah yang berharga.

Bapa yang baik, tolonglah kami untuk selalu berpusat pada Injil, untuk melihat kehidupan kekal adalah ketaatan kepada-Mu saja. Sehingga hari-hari kami yang kami kerjakan tidak sia-sia melainkan untuk melayani-Mu, bersenang-senang dalam Kristus dan terus membawa banyak orang-orang yang kami layani bertumbuh mengenal Yesus dan pada akhirnya mereka juga melayani-Mu. Segala pujian dan hormat hanya bagi-Mu. Dalam nama Yesus. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Pengkhotbah 2:20-23 Pencapaian Hidup yang Sia-sia"

 Dapatkan sumber daya berpusat pada Injil, melalui renungan-renungan yang berpusat pada Injil;

Klik Gambar di Bawah;