Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kedua Pasang Mata Melihat Kabut Kelam

 

Memandang sekeliling, akan terpaan badai kematian

Badai kehidupan yang tidak memberikan ampun

Melangkah dalam cambukan kesakitan jiwa

Kelamnya kehidupan ditutup kabut 


Kabut ketiadaan harapan, jantung yang berdebar

Seolah tak akan lagi berdetak

Melihat kebohongan dari indahnya kilauan dunia

Kelam……… dalam tikaman kawan


Penghianat jiwa, penghianat akan diri dan perasaan dan pikiran

Diri sendiri yang menghancurkan

Ketenangan yang seharusnya ada, dalam taman yang indah

Dengan segala ketersediaan cinta dan kebutuhan


Namun kesempurnaan untuk memilih

Menjadi Tuhan atau ciptaan

Membawa pada tulang belulangan kering

Yang mengelilingi pikiran

Mata yang diterangi oleh kabut kebinasaan


Tidak akan menemukan kepuasan

Jiwa manusia yang terhempas oleh ombak

Mengalirkan darah kematian menabrak karang


Oooooooooooo inilah awal dari segala jenis kesakitan yang ada dalam dunia

Inilah awal dari ciptaan menjadi tuhan

Ia mati, dia menjadi tidak lebih dari ulat yang menjijikkan

Hancur tanpa sisa, yang ada hanya perang, keserakahan, dendam, dan benci


Wahai kawan tidakkah kau sadar bahwa dirimu dikelilingi oleh tulang

Tulang yang akan menjadi abu, tidak adanya harapan ini

Membuat hati benar-benar sakit 

Bukan hanya sakit,  tapi seperti hancur ditimpa oleh palu


Perjalanan yang terus dilanjutkan, yang dipandang hanyalah kematian

Harapan, motivasi, moralitas, kebijaksanaan hanyalah kebohongan

Untuk mencapai sebuah makna dalam kehidupan

Berjalan mencari kabar baik, tidak akan pernah menemukan


Tidak adakah kabar yang baik?

Tidak adakah harapan akan datang?

Tapi masih ada, karena kabar itu datang sampai ke ujung dunia


Ada kuasa yang dilimpahkan kepada orang pilihan

Roh yang berkuasa membangkitkan jiwa

Melihat paku yang menancap pada kaki dan tangan

Melihat darah yang mengalir, daging yang pecah

Wajah yang serupa dengan ulat yang menjijikkan


Seseorang yang tergantung

Disebuah tiang, dipermalukan

Seakan ia merasakan semua keluhan hati 

Yang telah dipuisikan


Dia merasakan semua itu

Dia tahu apa itu sakit?

Ia merasakan apa itu hati yang bergetar ketakutan

Karena tidak ada harapan, untuk dapat lari dari cawan kesakitan

Cawan yang akan ditumpahkan kepada-Nya


Cawan yang harusnya diterima oleh aku dan kamu

Tapi dia menerimanya, jangan bodoh jika kamu mengira kamu terlalu berharga

Dia yang berharga, Dia yang mulia, Dia yang benar

Bukan kamu dan aku, tidakkah kamu mau menyadari hal ini


Mengembalikan sukacita yang hilang sejak nenek moyang

Memulihkan hati yang hancur

Aliran darah, oleh karena daging yang diremukkan


Memulihkan hubungan, menyadarkan bahwa aku dan kamu adalah ciptaan

Ciptaan yang harus tunduk pada Dia, Sang Pencipta

Ciptaan yang harus memuliakan Dia


Maka inilah Injil, akan selalu mengoyak hatimu yang sombong

Akan selalu mematikan dosamu yang merajalela

Akan selalu mengabarkan bahwa Yesus telah menang atas maut


Yesus talah bangkit

Kubur telah kosong

Dia menyediakan tempat bagi kita 

Di kekekalan yang mulia

Kita diajak untuk bertobat.


Saudaraku mari bawa hati dan pikiran kita

Bergetar memikirkan dan merasakan Injil sejati dalam Yesus

Sehingga hidupmu tidak cinta pada daging yang kembali kepada debu

Tapi kamu sadar bahwa ada jiwa yang kekal

Dan untuk itu Yesus hadir dan membawa aku dan kamu kepada pertobatan

Terimakasih telah membaca puisinya sampai selesai, saudaraku yang seiman maupun yang tidak seiman. Aku harap melalui puisi ini, menyadarkan kita akan akar dari semua kebobrokan dunia ini (Anda dan saya) adalah dosa. 

Maka kita sangat membutuhkan Yesus. Bukan hanya membutuhkan, sadarilah bahwa kehidupan ini adalah Kristus, karena hidup tanpa Yesus sama dengan kematian kekal baik daging maupun jiwa.

Karena dosa adalah kematian kekal, hanya Yesuslah kebangkitan dan hidup, jika ingin kehidupan maka mintalah anugerah-Nya dengan sungguh. 

Roh Kudus menyatakan Injil kepada diri kita setiap hari, membawa kita kepada damai sejahtera Injil Yesus Kristus. AMIN

Posting Komentar untuk "Kedua Pasang Mata Melihat Kabut Kelam"