Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Mazmur 3:6-7 Rasa Tenang yang TUHAN Berikan

Judu Renungan Kita; Rasa Tenang yang TUHAN Berikan

Bacaan Alkitab; Mazmur 3:6-7

Salah satu hal yang penting yang dapat kita rasakan adalah ketenangan jiwa. Bagi seorang manusia yang ada di dunia, ketenangan jiwa sangatlah penting. Di tengah-tengah dunia yang dipenuhi kesesakan seperti saat ini.  Kita butuh ketenangan, tetapi ahhh rasanya mustahil untuk bisa mendapatkan ketenangan.

Setiap kita, seringkali berada dalam titik kelam, pada titik merasa bahwa kehidupan yang kita jalani adalah kehidupan yang benar-benar membosankan, bahkan menyedihkan. Kita seringkali dikejar-kejar oleh banyak tugas, kita begitu sibuk dengan semua tuntutan hidup yang memaksa kita harus melakukan ini dan itu.

Dunia mendorong kita begitu keras untuk melakukan banyak hal, sampai-sampai kita seringkali lupa apa itu kehidupan? Itulah sedikikit pendahuluan tentang realita hidup yang mendorong kita untuk terus menerus sibuk, sehingga kita butuh ketenangan.

Saya mengajak Anda kembali meneruskan perenungan Mazmur 3, bagaimana Mazmur ini menunjukkan kepada kita, sebuah persoalan hidup yang lebih sulit, dialami oleh Daud. Jika dibandingkan dengan hanya sekedar kelelahan dari setiap kesibukkan. Dan segala rasa bosan di dalam diri. Bukan berarti saya mengajak Anda untuk mengabaikan setiap perasaan yang demikian. 

Mazmur 3 : 1-5, saya telah membuatkan renungannya. Link akan saya taruh di akhir renungan ini jika Anda belum sempat membacanya.

Sedikit saya mengulang, apa latar belakang dari Mazmur 3; ini merupakan persoalan yang cukup kompleks. Dimulai dengan keluhan Daud, lalu seruan kesedihan yang mendalam pada ayat 2. Dan rasa keputusasaan karena Allah seolah-olah berdiam diri, ayat 3.

Pada ayat 4-5 kita melihat satu titik terang, tentang pengharapan yang ada di dalam Allah, pasal 3 pada dasarnya memperkenalkan kepada kita siapa Allah yang Daud sembah? Siapa Dia yang menjadi pengharapan Daud? Allah sedang menyatakan diri-Nya melalui Mazmur 3 kepada Anda dan saya.

Cerita yang buruk jika kita melihat latar belakang dari Mazmur 3, sebuah realita dari setiap kejahatan yang dihasilkan hati manusia. Rasa ingin memiliki, dendam, ketakutan, dan keserakahan. Setiap kita ada pada titik tertentu dari setiap realita yang ada di dunia.

Pada satu titik kita ada dalam ketakutan, pada satu titik kita dendam. Sewaktu-waktu kita penuh nafsu untuk memiliki sesuatu. Kita ingin berkuasa dan hidup dalam kebebasan yang ada di dunia. Baru-baru ini saya merenungkan satu pernyataan dari penginjil terkenal; D. L. Moody.

Seorang pria mengatakan mereka tidak ingin melepaskan kebebasan mereka. Tidak ada kebebasan sampai seorang pria mengenal Tuhan Yesus Kristus. Seorang pria adalah budak dosa, untuk gairah melawan nafsunya sampai Kristus melepaskan ia dari belenggu dan membebaskannya.”~D.L. Moody (1937-1999)

Saudaraku saya kembali mengingatkan Anda bahwa setiap renungan yang saya tulis. Akan selalu berpusat pada Injil Yesus Kristus, siap-siaplah hati Anda akan dikoyak, pada saat yang sama Anda akan menemukan satu pengharapan kekal dari Yesus Kristus saja.

Sebelum masuk ke poin-poin dari renungan kali ini, marilah kita baca dasar renungan kita;

Mazmur 3:6-7 (TB) "Aku membaringkan diri, lalu tidur;  aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku."

Ketenangan bersama TUHAN merupakan ketenangan yang sejati, berdasarkan Mazmur 3:6-7, ini adalah ketenangan yang membaringkan diri lalu tertidur lelap. Saya menemukan alasan mengapa ketenangan dari Tuhan adalah sejati. Karena, pertama Tuhan yang menopang kita, kedua ketika Tuhan menopang kita, kita memiliki keberanian yang di dalam Dia.

Dua poin inilah yang akan kita dalami bersama, kiranya Allah Roh Kudus memberikan kepada kita pengertian yang melimpah, ketika merenungkan sifat-sifat Allah melalui dua poin di atas. 

Renungan Mazmur 3  6 – 7 Rasa Tenang yang TUHAN Berikan
agungraditiaw.com

Renungan Mazmur 3 : 6-7 Rasa Tenang yang TUHAN Berikan

1. Tuhan yang menopang

Sebuah rumah harus memiliki tiang yang kokoh sehingga rumah tersebut dapat berdiri dengan megahnya. Kata menopang yang dipakai di dalam Mazmur ini, memberikan kepada kita satu penghiburan yang pasti, Tuhan tempat di mana kita akan puas dengan pertolongan-Nya (Matius 7:24-25).

Pertolongan yang seperti apa? Apakah ini sebuah pemulihan keadaan, sesuatu seperti yang kita rindukan. Padahal sesuatu yang kita rindukan, seringkali hal itulah yang mengacaukan kehidupan kita, kehidupan kita tidak memuliakan Allah. Setiap hal yang kita rindukan begitu gampang membawa kita pada penyembahan berhala yang mendalam.

Ini adalah perjalanan bersama-sama Allah, Ia yang membekali kita dengan segenap kekuatan yang berasal dari Dia. Segenap kemampuan untuk kita tetap bisa bertahan di dalam kesesakan kehidupan. Ini adalah perjalanan yang mendidik kita, sehingga kita memiliki kehidupan yang berpusat kepada Kristus dan kerinduan kita adalah kehendak Kristus.

Allah menjadi tempat kita meletakkan kepala, ketika kelelahan melanda kehidupan kita, ketika luka ada di dalam diri, akibat dunia yang mengerikan. 

Tuhan sendirilah yang memberikan kesembuhan mental dan perasaan. Ketika Anda memutuskan untuk hidup sebagai seseorang yang akan mengikuti jalan salib. Ada kekuatan di dalam hati, bagaikan kobaran api, di sisi lain akan ada ketakutan yang membawa Anda pada doa-doa yang berpenyerahan kepada Kristus.

Ada satu quote dari Charles Spurgeon seorang penginjil. Quote ini sangat berarti bagi saya, “Ingatlah ini wahai orang Kristen biarlah ini menentramkan kalian. Betapapun sulitnya jalan yang kalian lalui, jalan itu telah ditandai oleh jejak kaki Juruselamatmu.”

Ooooo, ini perjalanan dipenuhi luka dan tetesan darah, kegelapan dan kesulitan. Saudaraku Kekristenan adalah jalan mematikan keinginan daging, Kekristenan adalah kehidupan yang dibenci oleh kuasa kegelapan dan dunia, Kekristenan bukan hal yang indah, ini adalah kengerian, bukan pemulihan, bukan kenyamanan, bukan segala hal yang seperti kita pikirkan dan inginkan.

Kekristenan adalah jalan Salib, jalan penderitaan, meninggalkan apa yang kita anggap baik, benar, dan menyenangkan. Dan menyerahkan semuanya kepada TUHAN, biarlah Dia yang bekerja di dalam hati dan mengubahkan kita, memampukan kita untuk dapat tunduk dan taat kepadanya. Maka pada saat inilah kita akan menemukan, bagaimana Allah menjadi penopang kita, kita dapat menidurkan diri dengan tenang di dalam Dia.

Untuk dapat lebih mengerti bahwa topangan TUHAN sangatlah nyata. Dan ini bukanlah topangan seperti yang dijanjikan dunia. Karena ini semua penyertaan yang bertujuan untuk kemuliaan nama TUHAN. 

Penyerahan yang akan membawa Anda pada kerugian yang besar di mata dunia dan Anda akan dianggap sangat bodoh. Ini adalah perjalanan membawa jiwa-jiwa kepada Kristus.

Doa seorang misioaris Betty Stam, biarlah doa ini menggetarkan hati Anda untuk menutup poin ini sebelum kita masuk ke poin yang ke dua;

“Tuhan, aku menyerahkan rencana dan tujuanku sendiri, semua keinginan, harapan, dan ambisiku sendiri, dan aku menerima kehendak-Mu untuk hidupku. Aku menyerahkan diriku, hidupku, semua milikku, sepenuhnya kepada-Mu, untuk menjadi milik-Mu selamanya, Aku serahkan kepada-Mu untuk semua persahabatanku; semua orang yang aku cintai akan menempati posisi kedua di hatiku. Penuhilah aku sekarang dan meteraikan aku dengan Roh-Mu. Kerjakan seluruh kehendak-Mu dalam hidupku bagaimanapun caranya, karena bagiku hidup adalah Kristus. Amin.” ~ Betty Stam

Inilah adalah kehidupan yang menerima topangan TUHAN, membawa hati dan pikiran Anda pada penyerahan total kepada Kristus dan melihat Kristuslah sebagai keindahan dan jalan keselamatan, Kebenaran dan hidup, untuk sampai pada Dia dan bertemu muka dengan Dia dan menikmati kemuliaan-Nya dan memuliakan Dia.


2. Kehilangan ketakutan

Karena bagi orang percaya sejati hidup adalah Kristus, yaa untuk kemuliaan Kristus dan menikmati kemuliaan tersebut. Tidak ada ketakutan untuk orang-orang seperti ini (Filipi 1:21). Semua ketakutan di taruh di dalam Kristus, berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Kristus Sang Penguasa dunia.

Saudaraku marilah kita berdoa untuk keberanian ini, sama seperti Daud di dalam pasal 3, ia memberikan dirinya kepada Allah. Ia percaya bahwa Allah yang menopang Dia, Allah yang memberikan kepada-Nya keberanian.

Baiklah setiap doa kita adalah doa-doa yang jujur di hadapan Allah, doa dengan hati yang hancur dan penuh ketakutan akan gelapnya dunia. Perjalanan yang menyakitkan, perjalanan yang dikejar-kejar oleh kuasa dosa yang selalu ingin membinasakan. Berdoalah sampai sejahtera Allah melimpah atas kehidupan Anda dan begitu juga dengan saya, inilah yang kita perjuangkan (Filipi 4:6-7).

Saudaraku Allah yang menjadi tempat di mana Daud berharap adalah Dia yang sama. Ia telah menjadi daging dan merasakan semua kelemahan kita, hanya saja Ia tidak pernah berdosa. Yesus Kristus yang telah merasakan semua kerusakkan, kengerian dan kebinasaan.

Dalam galapnya malam, hati yang bergetar, Yesus berkata, “Aku mau mati rasanya,” (Matius 26:38). Ketakutan ini mewakili kita orang-orang berdosa yang berteriak kesakitan di kedalaman diri kita akibat kutuk dosa yang menjadikan kita orang-orang yang layak dimurkai Allah.

Tetapi puji Tuhan, Yesus Kristus dengan segala kekayaan kasih-Nya, anugerah dan kekayaan rahmat-Nya. Memberikan diri-Nya, di dalam daging dan darah, mengalir kekudusan yang menguduskan kita. seketika Ia harus menerima semua kengerian murka terhadap dosa-dosa manusia.

Murka Allah ditimpakan kepada-Nya, kematian Yesus di atas kayu salib bukanlah sekedar, penderitaan daging, ini adalah kematian yang menggantikan kematian kita karena dosa. Yesus menerima semua hukuman dosa kita, Yesus menerima semua murka Allah, cawan yang memberikan penderitaan kekal, keterpisahan dari yang Ia kasihi. Inilah yang menimpa Yesus.

Jika saja kita dapat mengerti hal ini dengan baik. Jika saja kita mengerti betapa pantasnya diri Anda dan saya menerima murka Allah tetapi karena Kristus kita menerima kebenaran-Nya. Tentulah hal ini memberikan kepada kita keberanian dan ketenangan yang kekal, yang berasal dari Kristus.

Daud sangat mengerti arti dari kasih karunia Allah, Daud percaya bahwa kasih karunia ini nyata adanya. Ia mendapatkan pengampunan yang nyata-nyata dari Allah.

Saudaraku kepercayaan kita pada Kristus adalah kepercayaan yang didahului dengan rasa berduka yang teramat dalam akibat dosa. Kita akan dengan jelas melihat dosa-dosa ini, kita akan menyesali setiap dosa-dosa ini, kita akan berteriak untuk diselamatkan dari dosa, perbudakkan dosa.

Pertobatan sejati bukan hanya ingin diselamatkan dari hukuman dosa, lalu Anda tetap mencintai dosa-dosa Anda. Anda harus membenci dosa Anda, Anda akan semakin jijik kepada semua dosa itu, bertobat berarti miminta untuk bebas dari kecenderungan berdosa Anda, bertobat berarti bergumul untuk lepas dari jerat dosa yang menjadi kecenderungan Anda.

Pada saat inilah ketenangan yang dari Allah akan kita nikmati, karena kekudusan, kebenaran Kristus yang ada di dalam kita melayakkan kita untuk dapat berharap kepada Allah. 

Tanpa kekudusan yang Kristus berikan setelah pertobatan sejati. Tidak akan pernah Anda dan saya mendapatkan ketenangan yang berasal dari TUHAN.

Karena ketenangan yang berasal dari Allah, menghilangkan ketakutan, adanya harapan untuk berjalan bersama-sama Yesus, melakukan kehendak-Nya. Mengabarkan Dia dan kehidupan yang hanya untuk Dia sampai selama-lamanya. 

Baca Juga:

Hidup saya bukan saya lagi, Yesuslah yang hidup di dalam saya dan saya mendapatkan kemurahan oleh karena karya keselamatan yang Yesus kerjakan di atas kayu Salib sempurna.

Baca Juga: 

Yaa Tuhan tidak jarang kami ada di dalam kegelapan yang pekat, dalam perjalan kami untuk melaksanakan kehendak-Mu dan berdoa untuk kehendak itu dan kami dimampukan untuk menyangkal diri kami dan taat kepada-Mu. Jujur kami takut, kami lemah, kami tidak berdaas

Posting Komentar untuk "Renungan Mazmur 3:6-7 Rasa Tenang yang TUHAN Berikan"