Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan 1 Samuel 1:1-28 Teladan Iman Hana

 

Judul Renungan: Teladan Iman Hana

Ditulis Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali

Blog Penulis: GORESAN PENA BUNG DION ✍️

Bacaan Alkitab: 1 Samuel 1 :1-28

Pendahuluan

Shalom pembaca yang budiman, saya sangat bersyukur karena kita bisa bertemu melalui artikel ini. Ya, ini mungkin hanya sebuah artikel yang singkat ataupun renungan pribadi, tapi melalui tulisan ini, kita bisa sharing firman Tuhan dan membagikan pesan maupun pengalaman rohani.

Artikel ini adalah tulisan saya, yang lahir dari perenungan maupun pengalaman saya secara pribadi. Renungan ini, sengaja saya tulis, agar bisa dibagikan kepada Anda. Saya berharap renungan ini bisa menjadi berkat bagi siapapun yang membacanya.

Pada kesempatan ini, kita akan belajar dari salah satu tokoh Alkitab, seorang wanita yang namanya mungkin tidak terlalu populer dan disebut-sebut seperti nabi besar lainnya, namun dari rahimnya lahirlah salah seorang nabi besar dan tokoh hakim-hakim dalam PL. Kita akan belajar teladan iman dari wanita ini, namanya Hana.

Hana adalah salah satu tokoh Alkitab yang dikenal dengan iman dan nazarnya kepada Allah dalam pergumulannya untuk memperoleh anak. Saya kira, mungkin beberapa teman pembaca telah mengetahui cerita ini atau pernah membaca perikop ini, tapi pada kesempatan ini saya ingin membagikan lagi renungan singkat yang sederhana tentang kisah hidup Hana ini, dan sedikit membagikan kesaksian saya secara pribadi.

Saya berharap Roh Kudus memimpin kita dalam membaca renungan ini, sehingga melalui renungan ini kita bisa mendapat iluminasi yang baru, sesuai dengan apa yang ingin Tuhan sampaikan kepada kita saat ini. Mari kita mulai!.

Pembahasan

Perikop ini, mengisahkan tentang sebuah keluarga Ibrani, sebuah keluarga yang hidup dengan berpoligami. Walau demikian, keluarga ini adalah keluarga yang takut akan Tuhan, penganut agama Yahudi, hal ini bisa kita lihat di ayat 3.

"Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam TUHAN ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas".

Elkana adalah seorang suami yang hidup berpoligami dengan memiliki dua orang istri, Hana dan Penina. Poligami mungkin merupakan hal yang lazim saat itu, apalagi jikalau istri pertama tidak bisa memberikan keturunan, namun poligami memiliki sejumlah konsekuensinya yang berbahaya, seperti yang terjadi dengan kisah Hana ini, seorang istri yang akhirnya mengalami kepahitan dan sakit hati terus-menerus, karena direndahkan dan dibully oleh madunya (istri kedua suaminya).

Hana adalah seorang wanita yang beriman dan takut akan Tuhan, namun mengalami kehidupan rumah tangga yang menyedihkan, kendati dia sangat dicintai oleh suaminya, namun kemandulannya membuat hidupnya dirundung kesedihan. Kesedihan dari seorang wanita yang sangat mendambakan keturunan, sebagai pelengkap kesempurnaan sebagai seorang wanita dan seorang istri. Kesedihan dari seorang wanita yang selalu direndahkan oleh madunya, karena kegagagalan rahimnya dalam mengandung anak. Kesedihan dari seorang wanita yang hanya bisa pasrah dengan kehidupan yang dijalani. Dikatakan dalam ayat 7, Hana sangat sedih, Dia hanya menangis, bahkan tidak mau makan. Saat saya membaca ayat ini, saya membayangkan betapa sedihnya perasaan Hana saat itu.

Memang, dalam kebudayaan yang Patriarkat seperti Yahudi, seorang wanita yang tidak bisa mengandung dan melahirkan anak bisa dianggap sebagai aib, dan dianggap sebagai hukuman dari Tuhan (ay. 6-7). Tapi apakah benar bahwa Tuhan menutup kandungan Hana ini adalah sebuah bentuk hukuman? Kelihatannya tidak! memang Tuhan yang menutup kandungan Hana (ay. 5), namun tidak bisa ditafsirkan bahwa Tuhan menghukum Hana. Melalui peristiwa ini saya percaya bahwa, memang ada rencana Tuhan yang khusus untuk untuk Hana. Memang Tuhan terkadang berkerja tidak seperti apa yang manusia bayangkan, dan terkadang dengan cara yang tidak bisa kita pahami. Tapi, apapun itu, sebagai orang percaya kita harus yakin bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik bagi kita (Rm. 8:28).

Nah, sebenarnya menurut saya yang menarik di sini adalah respons Hana atas peristiwa ini. Ini kita bisa lihat di ayat 10 -18. Bagaimana respons Hana atas hinaan yang diterimanya? Apakah hana membalasnya? Jawabannya tidak! Hana bahkan tidak pernah mengadukan penghinaan terhadapnya kepada suaminya, walaupun kelihatannya, Elkana mengetahui kesedihan istrinya, sehingga beliau mencoba untuk menghiburnya (ay. 8).

Hana adalah figur dari seorang wanita yang beriman, hidupnya selalu mengandalkan Tuhan. Kendati dia mengalami penghinaan, Hana tidak membalas kejahatan Penina, Hana tidak meminta Elkana untuk menceraikan penina, Hana juga tidak merajuk pada Elkana untuk menghukum atau minimal menegur Penina, melainkan Hana mengadukannya kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, Hana berkeluh-kesah, di hadapan Tuhan, Hana meluapkan segala uneg-unegnya, Di hadapan Tuhan, ia hanya menangis sejadi-jadinya (ay. 10).

Lalu apa yang kita pelajari melalui kisah ini? Melalui kisah kehidupan Hana ini, kita dapat belajar bahwa kita sebagai orang percaya tidak pernah terlepas dari masalah. Menjadi orang percaya tidak menjamin bahwa kita bebas dari masalah, Alkitab hanya memberikan kita jaminan bahwa apapun masalah kita, kita diberikan kemampuan untuk menanggungnya. Rasul Paulus menulis dalam 1 Korintus 10:13.

"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya".

Dalam keadaan-keadaan yang genting seperti ini, penting untuk memperhatikan apa respons kita terhadap masalah. Apakah kita akan menjauhi Tuhan? Atau malah mendekat dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan dengan hati yang hancur?

Pergumulan hidup yang dialami kita sebagai orang percaya pun bisa dalam bentuk yang berbeda-beda, ya mungkin dalam hal pergumulan untuk memperoleh anak seperti Hana ini, kehilangan pekerjaan, karena terdampak ekonomi oleh karena covid, terpapar virus covid dan lain sebaginya.

Saya ingin sedikit share pergumulan saya, bulan Februari kemarin, saya sempat mengalami sakit yang luar biasa. Saat itu, saya sempat berpikir mungkin saya akan mati, gejala sakit saya mirip Covid 19, hilangnya indera penciuman, sesak nafas, dan paling parah adalah saya tak bisa makan, setiap makanan yang dimasukan ke mulut pasti dikeluarkan kembali (muntah). Berat badan saya turun drastis 10 KG dari 85 menyusut ke 75 KG.

Saat itu, Covid adalah penyakit yang dalam benak mayoritas orang Indonesia masih dianggap semacam aib, sekarang mungkin karena sudah banyak yang terpapar dan sembuh, jadi pengidap Covid sudah dianggap biasa, karena sudah banyak orang yang mengalami sakit ini.

Saya saat itu, tidak bisa makan makanan yang lain, hanya bisa makan bubur dicampur garam, itupun tidak bisa satu porsi sepiring penuh, seperti porsi makanan orang dewasa pada umumnya. Kaki dan tangan lemas, bahkan tidak kuat untuk bangun berdiri. Kalau untuk bangun dan berjalan saja susah, lalu bagaimana bisa bekerja? Nah, dalam keadaan keputusasaan inilah, saya meminta resign dari pekerjaan. Untungnya, saat itu pimpinan tempat saya bekerja tidak mengijinkan saya untuk resign, beliau malah menyarankan saya untuk berobat, dikarantina dan dirawat sampai sembuh, setelah itu kembali bekerja. Semua beban biaya pengobatan ditanggung oleh perusahaan.

Saat itu, saya tinggal di rumah seseorang, dan karena sakit ini, saya dianggap Covid (padahal belum terkonfirmasi oleh hasil Rapid Antigen ataupun Swab PCR). Saya diminta untuk cari rumah yang lain, (mungkin ini bahasa pengusiran secara halus). Saudara, bayangkan dalam keadaan sakit, saya disuruh harus keluar dan cari kost, dikucilkan di perumahan dan sebagainya. Saya sangat terpukul saat itu, saya menangis di hadapan Tuhan, puji Tuhan, saya dibawa ke rumah sakit oleh sanak keluarga, dirawat di ruangan ICU, 2 hari di sana, sesak nafas mulai hilang, akhirnya diijinkan pulang ke rumah, setelah itu diminta untuk Rapid Antigen dan Swab PCR oleh petugas gugus Covid 19 kota Batam, dan hasilnya saya dinyatakan negatif dari Covid 19. Dan bisa kembali bekerja.

Saudaraku melalui kisah Hana ini, kita dapat melihat bahwa orang beriman tidak luput dari berbagai situasi sulit yang harus dihadapi. Dalam situasi demikian, bisa saja kita merasa sedih atau gusar. Namun, janganlah putus asa, apalagi mundur dari Tuhan. Pada saat seperti itu, kita harus datang kepada Allah dengan membawa seluruh masalah atau pergumulan kita. Serahkanlah diri kita sepenuhnya kepada Allah, melalui doa-doa kita. Namun, yang kita cari di dalam doa kita adalah agar kehendak-Nya dinyatakan di dalam diri kita (Mat. 6:9-10). Karena doa dimaksudkan untuk memampukan kita melaksanakan maksud-maksud Allah dan bukan hanya meminta Allah melakukan apa yang kita inginkan saja. Selain itu, kita harus berdoa dengan bersungguh-sungguh. Niscaya Allah akan memampukan kita mengalami damai sejahtera dalam setiap pergumulan kita (Flp. 4:6-7).

Penutup

Kisah Hana mengajarkan kita satu hal bahwa tidak ada tempat terbaik untuk mengadu persoalan hidup kita, selain kepada Allah dan Allah akan mendengar setiap persoalan kita tersebut. Jika saudara diberkati dengan tulisan ini, saya berharap jangan berhenti di sini, jangan disimpan sendiri, saudara boleh share tulisan ini, sehingga semakin banyak yang diberkati. Tuhan Yesus memberkati.

Posting Komentar untuk "Renungan 1 Samuel 1:1-28 Teladan Iman Hana"