Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Panggilan Untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia

Saya menemukan banyak orang berargumen, bahwa mereka tidak peduli dengan apa pun yang terjadi dan hanya akan benar-benar memperhatikan kehidupan mereka sendiri. cara berpikir semacam ini bermula pada realitas bahwa dunia di mana mereka tinggal, bukanlah dunia yang baik, ini adalah jenis dunia yang peracun dan tidak seperti yang dipikirkan, tidak seindah yang ada di alam pikiran mereka.

Dari buku yang ditulis oleh Steven Garber, saya belajar bahwa segala hal yang berpusat pada manusia meskipun itu baik bagi diri sendiri. Namun hal itu mematikan definisi asli saya sebagai manusia yang telah menjadi milik kepunyaan Allah di dalam Yesus Kristus.

Tidak ada yang salah dengan memperhatikan diri sendiri dan berhenti memperhatikan orang lain. Namun apakah Anda yakin Anda di dalam Yesus dipanggil untuk berhenti memperhatikan, jika demikian Anda telah mematikan esensi diri Anda sebagai manusia dan manusia berkaitan erat dengan yang namanya saling mengasihi. 

Kita tidak dapat terus-menerus memiliki pehaman yang menyamaratakan bahwa semua orang sama saja, meskipun realitasnya memang demikian. Bahwa semua orang telah menjadi dosa sejak dalam kandungan ibu mereka. Pada akhirnya kita harus memiliki pehaman yang mendalam akan panggilan kita sebagai manusia milik kepunyaan Allah (1 Timotius 6:11). 

Melalui buku Panggilan untuk mengenal dan mengasihi dunia, saya diajak untuk merenungkan bagaimana dunia ini benar-benar kacau. Dan bagaimana hati saya dipenuhi belas kasihan yang sama seperti yang Yesus miliki. Buku ini menceritakan banyak realitas yang mustahil untuk bisa hidup dengan kasih di dalamnya. Tetapi ada bagian dari buku ini yang memberikan pehamanan yang benar-benar berpusat pada Kristus dan inilah yang akan sama-sama kita renungkan. Sebagai seseorang yang telah menjadi murid Yesus dan kita dipanggil untuk mengasihi dunia yang kita kenal.

“Seringkali, orang ingin melakukan hal-hal yang benar. Mereka ingin agar hidup mereka berarti, visi merka adalah bentuk dunia agar hidup untuk kebaikan bersama, setidaknya mereka paham apa yang baik. Apakah ide-ide mereka cukup kuat, cukup nyata, bagi tantangan yang konteks di dunia? Bisakah engkau mengenal dunia dan tetap mengasihinya? Atau, dengan tajam. Bisakah engkau mengenalku dan tetap mengasihiku?” Hal. 19-21

“Sepanjang hari, setiap hari, ada luka-luka dan keajaiban-keajaiban di setiap inti kehidupan, jika kita memiliki mata untuk melihat. Dan melihat – apa yang disebut Weil belajar mengenal, memberikan perhatian – adalah awal dari vokasi (Vision Of Vocation = Visi Panggilan).” Hal. 33

Ide-ide harus menjadi hidup

Teman-teman saya tahu bahwa saya sangat mencintai buku mungkin agar keterlaluan. Tetapi sebenarnya, dengan berjalannya waktu saya menjadi yakin bahwa buku hanya bisa membawa kita secara  terbatas. Mereka bisa membuka jendela-jendela ke dalam kehidupan, memberikan ide-ide tentang dunia dan temoat kita di dalamnya yang bisa mentransformasikan – tapi kita butuh lebih dari itu. Sebagai manusia kita perlu melihat kata-kata menadiu daging untuk memahaminya.

Salah satu alasan saya sudah lama menyukai karya-karya Robert Coles adalah karena dia memahami hal ini dengan begitu mendalam dan baik. Bukunya The Call of Stories: Teaching and the Morak Imagination adalah buku yang hebat, terutama karena menungkinkan pembaca membaca dengan hati dan melirik keberadaan Coles yang adalah psikiater dan dosen yang berbakat, menderitakan tentang penggunaannta akan literatur untuk membangunkan imajinasi moral dari para mahasiswanya di Harverd. 

Dalam kelas-kelas S- 1 seperti “The Literature of Sosial Reflection” (Sastra Refleksi Sosial), ia meminta para mahasiswanya untuk membaca Jane Austen dan Leo Tolstoy, tapi juga Walker Percy dan Flannery O’Connor; tetapi dalam kelas-kelas S-2 seperti “Dickens and the Law: (Dickens dan Hukum), ia mengundang para mahasiswa hukum untuk membaca novel-novel Dickens bersamanya, mengeskplor makna hukum. (Seperti catatannta dala mengusulkan kelas itu kepada dekan, kurikulum secara keseluruhan tidak pernah membahas pertanyaannya itu).

Tetapi jika buku itu merupakan suatu karunia kritis, juha penting untuk membacanya dalam kaitannya dengan bukunya yang berjudul The Call of Service, buku pendampingnya, di mana ia menyajikan suatu visi pembelajaran yang terkad dalam kehidupan.

Bagi coles ada suatu koherensi penting dalam kedua buku itu; tidak pernah yang satu lebiuh penting dari yang lain, tetapi lebih bahwa keduanya saling melengkapi – kata menjadi daging, memungkinkan kita melihat di dalam kisah-kisah yang satu cara-cara orang hidup di dalam kerumitan dunia narasi, dan dalam satunya lagi untuk melihat pentingnya komitmen kehidupan dijalankan dalam waktu dan tempat.

Bagi Coles, benang merah lebih dalam diu semua buku itu adalah gairah akan suatu jenis pembelajaran yang membagun imajinasi moral, memungkin melihat diri kita bertanggung jawab terhadap keadaaan dunia saat ini dan yang seharusnya. 

Injil melihat keadaan dunia

Injil seperti ini juga (seperti yang dijelaskan di atas). Kisah demi kisah, kita berjumpa dengan orang-orang dengan nama-nama dan sejarah-sejarah, tetapi kita juga bertemu dengan orang khayalan yang tampaknya mereka juga hidup di dunia yang sama dengan kita. Bagaimana pun Yesus mengajar bahwa ide-ide harus menjadi hidup, pada akhirnya bagi semua orang di mana pun, entah itu kisah Lewi si pemungut pajak atau kisah orang Samaria yang baik hati. Keduanya penting; mereka saling membutuhkan.

Dalam pembelajaran yang terbaik, dalam pembelajaran yang paling sejati, kita-kata harus menjadi kenyataan, dan sering kali di dalam pelayanan yang menjadi ceritalah mata hati dibangunkan.

Epistomologi perjanjian adalah suatu cara untuk mengetahui yang melihat dunia melalui lensa relasi. Aku mengenalmu, dan aku mengasihimu.

Mulai dari bapa-bapa bangsa, Allah mewujudkan suatu bangsa, menamainya sebagai miliknya, dan memanggil mereka untuk hidup di dalam dunia, ingat untuk mengingat hal-hal yang paling penting. Allah para nabi marah terhadap umat-Nya karena mereka gagal melihat diri mereka sebagai umat pilihan; mereka menolak memikili relasi dengan Allah yang memilih mereka karena Dia mengasihi, dan yang karenanya mengharapkan umat-Nya untuk memilih mengasihi juga, bertanggung jawab untuk mengasihi sesama seperti Dia telah mengasihi mereka.

Ini adalah suatu pengetahuan yang sangat pribadi, yang menanggung relasi, lalu tanggung jawab tentang makna relasi iu. Relasi, wahyu, tanggung jawab – hati dan jiwa perjanjian itu hidup di dalam dan melalui vokasi dari Adam, Nuh, Abraham, Musa, Daud – dan tentu saja hal yang sama juga berlaku bagi generasi yang akan datang diri mereka menjadi milik Allah, dikenal oleh-Nya dan dikasihi oleh-Nya.

Visi Ibrani akan kehidupan, didasarkan pada Allah yang telah “membentuk semesta karena kasih, bersifat kovenantal (perjanjian). Tidak ada kata lain yang begitu menangkap makna kehidupan yang dijalankan dihadapan wajah Allah, bertanggung jawab demi kasih kepada Allah bagi sejarah, bagi keadaan dunia sekarang dan seterusnya.

Visi Alitabiah adalah bahwa perjanjian telah menjadi manusia, inkarnasi dalam Yesus. hikmat dan keadilan, kedaulatan dan kemurahan, belas kasihan dan kebaikan, amarah dan kesabaran, semuya kareakteristik Yang Kudus dari Israelm menjadi daging dalam Yesus.

Hanya ketika kita mengerti Injil, bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang Yesus; Kuasa-Nya, kekekalan-Nya, kelahiran-Nya, kehidupan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan perintah-Nya ada perjanjian kekal di sana. Dan pernyertaan Roh Kudus, maka kita akan dapat mengasihi dunia dengan pengenalan yang benar akan dunia. Bahwa kitalah anugerah umum itu, bagi kebaikan bersama. Kita di dalam Yesus Roh Kudus memampukan kita menjadi berkat dan mampu memberitakan kata-kata yang telah menjadi daging, yaitu Yesus Kristus, kuasa Injil yang menyelamatkan dari dosa. Amin

_____________________

Penulis Buku Steven Garber

Judul Buku Vision of Vocation

Halaman 119-121

Penerbit Literatur Perkantas Jatim


Posting Komentar untuk " Panggilan Untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia"