Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mazmur 27:14 Nantikanlah Tuhan

Mazmur 27:14 Nantikanlah Tuhan

Mazmur 27:14 (TB) Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!

Kelihatannya menanti adalah hal yang mudah, namun ini adalah salah satu sikap yang mana seorang prajurit Kristen tidak akan dapat pelajari tanpa pengajaran bertahun-tahun. Berbaris dan berjalan cepat jauh lebih mudah bagi tentara Allah daripada berdiri diam. Ada jam-jam berisi kebingungan ketika jiwa yang paling rela, yang dengan gelisah berhasrat untuk melayani Tuhan, tidak tahu bagian apa yang harus diambil. 

Lalu apa yang harus ia lakukan? Menyusahkan diri dengan keputusasaan? Lari pulang dalam kekecutan, belok kanan dalam ketakutan, atau melaju ke depan dalam kepongahan? Tidak, menanti saja. Namun, menantilah dalam doa. Panggillah Allah, dan uraikan permasalahannya di hadapan-Nya; beritahukan kepada-Nya kesulitanmu, dan mohonkan janji pertolongan-Nya. 

Dalam situasi sulit antara satu tanggung jawab dengan yang lain, adalah manis untuk merendahkan diri seperti seorang anak, dan menanti Tuhan dengan kesederhanaan jiwa. Pasti baik bagi kita jika kita merasakan dan mengetahui kebebalan kita, dan dengan sepenuh hati rela dituntun oleh kehendak Allah. 

Tapi menantilah dalam iman. Utarakan keyakinanmu yang kokoh di dalam Dia; karena menanti tanpa kesetiaan dan tanpa kepercayaan tiada lain adalah sebuah penghinaan terhadap Tuhan. Percayalah bahwa jika Dia membuat engkau berlambat-lambat bahkan sampai tengah malam, Dia akan datang tepat pada waktunya; visi itu akan datang dan tidak akan terlambat. Menantilah dalam kesabaran yang tenang, bukan memberontak karena engkau sedang dalam penderitaan, namun pujilah Allahmu karena itu. 

Janganlah pernah mengeluh terhadap penyebab kedua, seperti yang umat Israel lakukan kepada Musa; jangan pernah berharap untuk kembali kepada dunia lagi, namun terimalah permasalahan ini sebagaimana adanya, serahkanlah sebagaimana ia ada, dan dengan sepenuh hatimu, tanpa kehendak diri apapun, ke dalam tangan Allah perjanjian, dengan berkata, “Sekarang, Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi (Luk 22:42). 

Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat; aku sudah tidak sanggup lagi, namun aku akan menanti sampai Engkau membelah Sungai (Mazmur 74:15), atau memukul mundur lawan-lawanku. Aku akan menanti, jika Engkau membiarkan aku hidup lama, sebab hatiku berpaut kepada Engkau saja, oh Allah, dan rohku menunggu Engkau dengan penuh keyakinan bahwa Engkau akan tetap menjadi sukacitaku dan keselamatanku, tempat perlindunganku dan menara kuatku.”

____________________

RENUNGAN PAGI (diterjemahkan dari Morning and Evening: Daily Readings, Charles H. Spurgeon).

Isi renungan ini bebas untuk disalin dan disebarluaskan.