Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Mazmur 5:1-4 Saat Teduh Tentang Hubungan Pribadi Dengan Tuhan

Bacaan Injil Renungan Mazmur 5:1-4 Saat Teduh Tentang Hubungan Pribadi Dengan Tuhan

Judul Saat Teduh: Hubungan Pribadi dengan Tuhan

Bacaan Alkitab: Mazmur 5:1-4

Diciptakan dengan kesempurnaan yang hampir sama denga Allah, demikianlah manusia adanya. Sebelum adanya pemberontakan terhadap Sang Kudus, sebelum dosa menjadi darah dan daging manusia. Hubungan yang manis dan indah bahkan memuaskan terjadi antara manusia dan Allah. Kita dapat tahu semua ini, karena kitab Kejadian pasal 1 dan 2 memberitahukannya.

Namun, masalah terbesar masuk ke dalam dunia pada kejadian 3, manusia menjadi tuhan atas dirinya sendiri. Manusia tidak menginginkan Allah, manusia terpisah dari Allah dan manusia memilih jalannya masing-masing. Hubungan yang manis telah rusak, sebagaimana suami isteri yang menikah dengan kasih dan cinta, demikianlah sih isteri melacurkan dirinya kepada pria lain. Begitu juga kita yang memelacurkan diri kepada kefanaan.

Kejahatan yang tertanam di hati kita begitu rupa, dunia di mana Anda dan saya saat ini berada. Ada di bawah kutuk maut, berada di dalam kegelapan dosa dan dalam cengkraman maut. Akibat dari dosa, manusia yang melawan Allah, dari sinilah ada satu buah yang nyata-nyata hadir dikedalaman diri manusia, yaitu ketiadaan damai sejahtera.

Saya mengawali renungan ini dengan satu realita dari kehidupan, saya ingin Anda tidak lupa akan dosa-dosa, bahwa natur kita berdosa. Saudaraku tidak ada yang lebih berbahaya dari dosa, setan sang penguasa sementara dunia, memberikan kepada kita pilihan setiap saat untuk taat dan tunduk pada dosa. 

Memberikan penderitaan kepada kita, ia tidak akan tinggal diam untuk keberhasilannya. Jika gagal untuk memberikan penderitaan, ia datang sebagai malaikat terang. Memberikan kenyamanan kehidupan sebagai tuhan atas kehidupan kita. Satan, akan selalu ada cara untuk menempelkan satu racun kebinasaan untuk kita nikmati dan kita kejar. 

Entah itu melalui sesuatu yang baik, sesuatu yang sangat bermoral dan sesuatu yang berpusatkan kepada diri sendiri untuk meninggalkan Allah yang beranugerah. Semua itu ada untuk menghancurkan kita, membawa kepada kebinasaan, hati yang semakin menjauh dari Allah dan tidak pernah menginginkan Allah.

Apa yang saya tulis di atas, untuk memberitahukan Anda, bahwa pada dasarnya kita pendosa. Tetapi puji Tuhan kita diberitahukan oleh Alkitab. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia mengaruniakan Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari kekosongan, penderitaan, ketiadaan damai sejahtera dan kebinasaan kekal.  Ia yang mati merupakan kematian untuk kita atas dosa-dosa kita, oleh darah-Nya kita dikuduskan. Dan kebangkitan-Nya merupakan kebangkitan kita, kehidupan baru yang ada di dalam Kristus. Inilah Injil Yesus Kristus.

Saudaraku, kita yang ada di dalam Kristus telah masuk ke dalam kehidupan baru. Saya serukan kepada Anda saat ini, tanpa Kristus Anda binasa, bagaimana Anda bisa percaya Kristus. Maka, bergumullah, bukalah Alkitab, bacalah itu dan renungkan. Berdoalah dalam nama Yesus, saya  teramat  percaya Dia pribadi yang penyayang dan pengasih, Ia telah lama mengetok pintu hati Anda yang tersesat itu (Wahyu 3:20).

Sebesar apapun dosa Anda, walau Anda merasa tidak layak. Bukan kelayakkan Anda yang membuat  Dia menerima Anda, tetapi karena sebagaimana kasih anugerahnya yang menghancurkan hati, memberikan kesadaran akan dosa-dosa dan pertobatan dan melihat bahwa dengan mengenakan kebenaran Yesus, maka Anda dilayakkan. 

Datanglah pada-Nya Dia menerima Anda sebagai kerusakkan dan keterluakaan dan ketidaklayakan bahkan kebusukkan. Namun Dia yang mulia dan indah itu, memperindah Anda, Dia pasti memperbaharui Anda.

Saudaraku jika dilihat, saya adalah orang bejat dan pendosa, saya juga tidak layak untuk menerima kasih karunia. Hati saya dipenuhi kebusukkan, saya dipenuhi kemunafikan, saya orang berdosa yang berusaha bermoral untuk menutupi kebejatan saya. 

Tidak ada yang baik, sedikitpun tidak, ketika saya melihat kedalaman diri saya yang membuat saya layak menerima Kristus bahkan memanggil Dia TUHAN saya benar-benar tidak layak. Tetapi, bukan karena kebenaran dan kelayakkan saya, jika dilihat saya lebih pantas menderita dalam kekekalan dan api yang menyala, dalam kegelapan. Saudaraku kasih karunialah yang melayakkan saya. 

Inilah alasan saya terus menulis tentang Injil, karena melalui Injil Yesus Kristuslah  kita menerima pengampunan dosa, kita yang tidak layak dilayakkan, datanglah kepada-Nya, janganlah kita terus menerus sesat, marilah datanglah bersujud di kaki salib-Nya dan bertobat.

Melalui pertobatan sejati inilah kita masuk ke poin-poin singkat yang bisa kita renungkan bersama. Yaitu tentang hubungan yang intim bersama Allah, bagaimana kehidupan kita yang kudus dipersembahkan kepada-Nya dan untuk-Nya. Sampai  pada titik di mana kita kembali ke dalam hubungan yang manis bersama Allah.

Mari kita baca dan renungkan dasar ayat Alkitab kita!

Mazmur 5:1-4 (TB) Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan suling. Mazmur Daud. Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku. Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa. TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu. Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.

Ketika kita masuk ke dalam anugerah Allah yang mulia itu, kita diajak untuk memiliki hubungan yang intim dan indah bersama-Nya. Kehidupan yang seperti apa itu? Berdasarkan Mazmur 5:1-4 saya membagikannya dalam 3 poin, kita hidup dalam hubungan ini kita dengan TUHAN, kita diberikan hati nurani yang baru, kejujuran hati.

Diperkaya dengan  kekudusan dan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah.

Terakhir kita yang fasik dan jahat, menerima pemandian darah Kristus, kita dikuduskan dari segala kejahatan kita  dan menjadi berkenan di hadapan-Nya.

Bacaan Injil Renungan Mazmur 5:1-4 Saat Teduh Tentang Hubungan Pribadi Dengan Tuhan

1. Kejujuran hati

Daud menjelasakan hal ini dengan baik di dalam doanya pada ayat 2, berkeluh kesah kepada Tuhan yang kudus bukanlah dosa. Bagi Daud ini adalah kejujuran hati yang mengenal Allah yang penuh kasih. Berharap pada-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya sumber harapan kita. Tanpa ketakutan dan penuh rasa hormat datang kepada Dia yang kudus dengan hati yang hancur.

Dulu ketika saya percaya kepada Kristus, saya kira ketika  saya  datang kepada Yesus dalam doa, saya harus menunjukkan betapa berhasilanya saya melalui hari ini untuk menyenangkan Dia. Itu mengapa doa orang farisi di (Lukas 18:11-12) sangatlah realistis bagi saya. Ia berdoa denga napa yang bisa ia lakukan untuk Allah, ia memperlihatkan yang terbaik  untuk Allah, inilah yang saya lakukan. 

Tetapi, ketika saya gagal saya lebih memilih untuk mundur, saya lebih memilih untuk tidak memiliki hubungan dengan Allah. Hati saya dipenuhi dengan tuduhan dan rasa bersalah, saya rasa bukan waktu yang tepat untuk datang kepada-Nya. 

Anda harus bertobat jika memiliki  hubungan  yang demikian dengan Allah, Dia tidak menginginkan keberhasilan Anda apalagi keberhasilan saya. Dia ingin kita menerima anugerahnya dan mengakui bahwa semua keberhasilan dan kebenaran kit itu pada dasarnya adalah kain kotor

Jika Anda dengan kebenaran Anda untuk bisa berhubungan dengan Allah, pada saat yang sama kasih anugrah bukanlah pemberian Cuma-Cuma tetapi hasil usaha Anda untuk membayar Allah. Kita harus sadar bahwa inilah akar dosa, ketika kita berjuang untuk benar bukan dengan keberan Kristus. Inilah yang Adam dan Hawa lakukan ketika berhadap Allah setelah mereka di dapati melangkar perintah Allah.

Mereka berdiri di atas kebenaran mereka sendiri dan tidak mengakui kesalahan untuk menerima anugerah Allah, Injil itu telah datang dan memanggil manusia berdosa. Mereka malu dan telanjang, dengan kebenaran yang rabuh dan menyedihkan melawan Allah yang kudus denga cara  menyalahkan satu  sama lain.

Saudaraku baiklah kita datang kepada Allah dengan hati yang hancur, dalam pertobatan yang sejati. Kita sering berzinah dalam hati, kita membunuh seseorang melalui hati kita; Kita membicarakan sesama kita dengan semena-mena untuk kesenangan kita, kita  telah berdosa.

Kita lebih suka dimuliakan atas semua kebaikkan kita, kita merasa layak untuk dihormati kita karena kebaikan dan pencapaian. Kita begitu dalam hidup di sungai penyembahan berhala diri  sendiri. Pada saat yang sama kita terluka dan hancur. Jiwa yang kudus menginginkan Kristus tetapi daging yang berdosa menginginkan nafsu untuk dipuaskan.

Saudaraku datanglah kepada Allah dengan kejujuran dan berkatalah seperti Daud ayat 2, “Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku. Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.”

Meminta tolong, dalam keluh kesah, akan kekuatan dosa yang mengikat kita, setiap persoalan akan selalu ada, iman yang lemah. “Jiwa yang hancur, hati yang patah, tidak akan Aku tolak bahkan tidak akan Aku pandang hina,” kata Allah yang kudus. (Mazmur 51:17) 

Ketidakpercayaan, bawalah semua itu di hadapan-Nya. Ia tidak memerlukan kehebatan Anda untuk memulihkan Anda, untuk menjadikan hati yang kotor dan rusak itu baru. Anda hanya perlu mengakui semua kelemahan itu dan berseru kepada Kebenaran itu, bersandar pada Salib Kristus. Melihat dan melekat  kepada-Nya sampai Anda benar-benar sadar, “Tuhan adalah bagianku kata jiwaku.”

Inilah hubungan yang manis itu, hubungan yang bersukacita dalam kasih yang indah dari Allah dan pengakuan dosa dan luka-luka yang dipulihan dan kehidupan yang baru dalam Dia menikmati Dia dan menerima keindahan-Nya. Terimakasih ya Allah yang kudus (Lukas 18:13).

2. Mempersiapkan dan Mempersembahkan

“Pada waktu pagi Daud mempersiapkan persembahannya bagi Allah,” ini adalah hubungan yang indah, satu kesatuan dari kasih anugerah dari Allah dan ucapan syukur dari Daud. Bagaimana dengan kita? Untuk masuk ke dalam kehidupan yang intim. Paulus memberikan satu definisi bahkan perintah agar kita memberikan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Itulah persembahan yang sejati.

Kehidupan yang dibenarkan dan dikuduskan oleh kematian dan kebangkitan Kristus Sang pengentara Agung. Kehidupan kita adalah milik-Nya, tidak bisa tidak, inilah yang harus kita persembahkan kepada Kristus, kehidupan kita untuk melayani Dia. Persiapkanlah diri kita pada pagi hari, untuk melayani Dia sepanjang hari, yaa kita sering gagal, terutama saya. Mari sungguh-sungguh berperang melawan berbagai cobaan.

Namun, sekali lagi anugerah Allah memberikan kesempatan untuk melihat kegagalan kita sebagai kasih yang melimpah dari Allah dan mengulang hal yang benar itu dengan bersandar pada Kristus. Mempersembahkan kehidupan kepada Kristus berarti berpenyerahan kepada Dia dan tidak menginginkan yang lain selain Kristus.

Saya mengajak Anda untuk mengerti arti terdalam dari mempersembahkan, bukan kefanaan dan keberhasilan Anda, apalagi uang Anda. Yesus tidak mati disalibkan untuk mendapatkan semua itu dari dari Anda. Ia menebus Anda untuk kehidupan Anda, untuk jiwa Anda. Agar hubungan yang rusak itu kembali sebagai mana tujuan utama Anda dan saya/manusia diciptakan (1 Yohanes 1:3).

Datanglah persembahkanlah hidup, datanglah untuk sujud dan taat dan menyembah Dia. Datanglah dalam kekudusan Kristus untuk sebuah pelayanan yang memberitakan Kristus dan memancarkan kasih Kristus kepada sesama. Datanglah dan persiapkan hidup Anda beguti juga dengan saya untuk melayani Dia sampai napas tidak berhembus lagi.

Mari kerjakan penerapan praktis;

Kehidupan yang meninggalkan kemalasan, dalam kasih karunia dan sungguh-sungguh berdoa untuk sebuah kemampuan. Meminta hikmat (Yakobus 1:5) sehingga terus belajar, mengembangkan potensi di dalam diri dan berikanlah semua keahlian dan potensi itu untuk melayani Allah. 

Setiap kita memiliki keahlian itu, setiap kita diciptakan untuk melayani dari melalui keahlian yang kita meliki, jangkaulah jiwa-jiwa untuk Kristus dan inilah persembahan itu, kehidupan yang dikuduskan untuk Kristus bagi kemuliaan Allah.

Pesembahkanlah Tubuhmu setiap pagi, tubuh yang kudus itu, di dalam Kristus yang kudus Sang Penebus. Terpujilah Yesus Kristus Sang Hikmat Allah.

3. Menjadi Berkenan

Sangat jelas bahwa Allah membenci kefasikan dan kejahatan, kita adalah orang jahat itu, kita adalah orang yang Allah benci. Tetapi inilah Injil, Kabar Baiknya kebencian Allah terhadap dosa telah ditimpakan kepada Kristus di bukit tulang belulang. 

Ini adalah kematian yang sangat tidak wajar, Ia yang baik dan kudus menerima hukuman dosa. Dia yang tidak pernah melakukan kejahatan apalagi dosa. Menjadi dosa karena kita (2 Korintus 5:21). Supaya kebencian Allah di dalam Mazmur 5:4, kebencian-Nya yang kudus terhadap kejahatan kita, telah diperdamaikan dengan ada-Nya Kristus pengantara kita, dengan darah yang mahal. Kita menerima pengampunan dosa (1 Yohanes 1:9).

Mengakui dosa, kita dikuduskan dan disucikan untuk memiliki hubugan yang indah, hubungan yang murni dengan hati yang jujur dihadapan Allah. Menjadi berkenan untuk mempersembahkan kehidupan. Tanpa belaskasihan Allah, tenpa perkenanan ini, kita tetaplah orang jahat yang dimurkai, tetapi puji Tuhan, inilah kita ada dalam pengharapan sejati.

Baca Juga:

Marilah datang kepada-Nya, melepaskan jubah kain kotor kita dan bermandikan darah Kritsus untuk untuk mengenakan kebenaran Yesus, masuk ke dalam ruangan hubungan yang intim, bersama Allah Bapa. Tunduk taat, berpenyerahan dan hidup hanya untuk menikmati kemuliaan itu dan memberitakan kemuliaan itu melayani jiwa-jiwa dari pribadi ke pribadi. Inilah kehidupan kita, kehidupan baru yang ada di dalam Yesus. Segala pujian hanya bagi Allah sampai selama-lamanya. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Mazmur 5:1-4 Saat Teduh Tentang Hubungan Pribadi Dengan Tuhan"