Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Yakobus 2:1-13 Tentang Mematikan Kecenderungan Alami Diri

Renungan Yakobus 2:1-13 Tentang Mematikan Kecenderungan Alami Diri

Judul renungan; Mematikan Kecenderungan Alami Diri

Ayat Alkitab Yakobus 2:1-13

Yakobus 2:1 (TB) Saudara-saudara, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, jangalah iman itu memandang muka.

Yakobus 2:8 (TB) Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. kamu berbuat baik.

Yakobus 2:13 (TB) Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang idak berbelas kasihan, tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

Pertanyaan yang terus saya tanyakan kepada diri saya sendiri, apa yang membuat saya berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus? Mengapa saya percaya kepada Kristus? Apa yang membuat saya masih hidup sampai hari ini dan menaruh semua harapan saya pada seseorang Yahudi yang telah disalibkan dan bangkit pada hari ke tiga dan sejarah mengakui hal yang luar biasa ini? Apa?......... Saudaraku saya sangat berharap pertanyaan di atas dapat menolong Anda memikirkan kembali iman Anda. Dan Pertanyaan di atas juga yang menjadi pengantar kita bersama-sama merenungkan Yakobus 2:-13.

Kecenderungan manusia secara alami, selalu membeda-bedakan untuk mengasihi sesama kita manusia, ini tidak dapat terpungkiri. Bahkan terjadi di dalam Gereja sekali pun. Orang Kristen tidak akan luput dari kecenderungan yang salah ini, seorang pria Kristen tidak akan pernah dapat dengan mudah lepas dari pikiran yang cabul. 

Seorang Wanita Kristen abad 21 tidak mudah lepas dari kenyamanan dari kekayaan. Kehidupan yang berhalusinasi dan menginginkan ini dan itu, semua itu berpusat pada kekayaan dan kemegahan dunia.

Seorang muda (Pria) Kristen selalu mencari pasangan yang cantik untuk memuaskan keinginan mata dan keangkuhan hidupnya bahwa ia bisa menunjukkan. Ini pasanganku cantik dan beberapa orang muda menanfaatkan hal itu untuk memuaskan nafsunya. 

Beberapa orang berjuang keras untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Ada yang melalui jalur pendidikan dan jalur usaha tanpa adanya pendidikan forman. Dan semua ini berpusat pada keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup. Mereka menjadikan hal ini, sebagai indentitas diri yang seharusnya indentitas diri manusia adalah Tuhan.

Saudaraku, ada berjuta kecenderungan yang salah dalam diri Anda dan saya, saya ingin Anda yang membaca renungan ini dan sadar. Bahwa masalah terbesar kita adalah dosa. Bukan karena kita melakukan dosa tetapi kita pendosa maka kita suka melakukan dosa. Dan esensi dari dosa adalah melawan kehendak Allah, memberontak terhadap Allah, dan tidak menginginkan Allah. 

Alkitab Perjanjian Baru, telah menunjukkan secara jelas dengan cara yang Doktrinal. Tentang dosa manusia, tentang masalah kita dan tentang kecenderungan kita sebagai manusia-manusia yang cinta dosa, diperbudak oleh dosa dan tidak dapat lepas dari keinginan daging hanya dalam satu malam. Bacalah Alkitab, kenalilah Pusat dari Alkitab, Dia yang disalibkan itu.

Alkitab Perjanjian Lama juga dengan jelas memberitakan hal ini, yaitu manusia pendosa. Dengan cara Narasi (cerita kehidupan), Panggilan kepada para Nabi, dan nubuatan. Semua ini menjelaskan kepada kita Allah yang memanggil, Allah yang membenci dosa, Allah yang menghajar pendosa, dan Allah yang menebus orang berdosa untuk dijadikan umat-Nya, sebagai milik-Nya.

Pada hakekatnya, dosa adalah segala sesuatu yang bertentangan dengan Allah. Dosa menentang Tuhan; itu melanggar karakter-Nya, hukum-Nya, dan perjanjian-Nya. Gagal, seperti yang dikatakan Martin Luther, untuk 'membiarkan Tuhan menjadi Tuhan.' Dosa bertujuan untuk menjatuhkan Allah dan berusaha untuk menempatkan seseorang atau sesuatu yang lain di atas takhta-Nya yang sah. ~ Joel Beeke

Kita membutuhkan kuasa yang lebih, kita membutuhkan pembaharuan setiap waktu. Dan kita butuh pondasi yang kuat untuk dapat menghancurkan segala kecenderungan yang ada di dalam diri kita untuk kemuliaan Allah saja. Kita bukan hanya membutuhkan Allah, tetapi kita harus menjadi milik Allah. Keseluruhan kehidupan kita.

Kita membutuhkan Firman yang hidup, kita butuh pengudusan, pembenaran dan penubusan. Dan semua itu kita bisa dapatkan di dalam Yesus Kristus saja, di dalam Dia kita diperbaharui dan dibawa untuk bertobat. Itulah mengapa Yakobus memulai suratnya dengan cara mengingatkan penerima surat. 

Bahwa mereka adalah orang-orang yang menempatkan iman kepada Yesus, Yesus adalah satu-satunya pondasi utama untuk mereka (penerima surat); Anda dan saya untuk tidak sama dengan dunia, mematikan kecenderungan kita yang tidak memuliakan Allah dan berjuang bersama-sama orang-orang kudus milik Allah sampai kita tidak bernapas lagi.

Kita masuk ke dalam konteks dari perikop yang kita renungkan. Kecenderungan yang ditegur oleh Yakobus. Adalah kecenderungan yang merendahkan sesama manusia, terutama orang-orang yang tidak memiliki kedudukan, tidak banyak uang, dan orang yang dianggap oleh dua adalah orang rendah. Dan ini terjadi di Gereja yang sedang Yakobus layani. 

Mari kita masuk ke poin-poin yang telah saya bagikan untuk direnungkan dan menjadi penerapan praktis bagi kita sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia dari Allah pencipta langit dan bumi.

Renungan Yakobus 2:1-13 Tentang Mematikan Kecenderungan Alami Diri

1. Kecenderungan yang Yakobus Tegur

Yakobus memulainya di ayat satu, yaitu tentang jangan memandang muka. Untuk menghormati seseorang, menghargai seseorang dan memberikan salam yang ramah kepada seseorang kita jangan memandang muka. Pada dasarnya kita sama dengan orang-orang dunia, ketika kita memberikan salam dan ramah hanya kepada orang-orang kaya saja.

Kita tidak lebih dari penjilat, ya kita penjilat yang tidak pantas dipanggil sebagai murid Kristus, ketika hati dan pikiran kita menghormati manusia karena kita melihat dia sebagaimana penindas kata, Yakobus (Yakobus 2:6). Kita harus bertobat dari kecenderungan yang menghina sesama kita manusia, kita harus bertobat dari hati dan pikiran yang memandang rendah sesama kita.

Dunia mengajarkan kita, untuk menghormati benda, kemewahan, jabatan, kemakmuran, keindahan fana, dan segala kemegahan yang dapat kita lihat yang pada akhirnya semua itu hancur. Kita diajarkan untuk menghormati pakaian seseorang, apa yang ia kenakan. Kita menghormati orang-orang yang bercincin emas dan kita bahkan tunduk kepadanya. 

Ini adalah kecenderungan manusia, ia bermuka dua, tidak tulus hati. Suka pada kefanaan, karena manusia sangatlah fana. Saudaraku, marilah kita melihat hati dan pikiran kita, apa yang membuat kita terpesona hari-hari ini, ketika berhadapan dengan sesama kita.

Maukah kita melihat seseorang sebagaimana ia adalah ciptaan Tuhan, seseorang yang Allah kasihi dan ia gambar Allah. Sehingga ketika kita melihat seseorang yang paling hina kita masih dapat menghormati dia sebagaimana ia adalah manusia. Bukan karena ia kayak, bukan karena status sosialnya. Inilah yang Yakobus peringatkan, Yakobus ingin kita memperhatikan kedalaman diri kita sehingga kita tidak menjadi sama dengan manusia dunia yang tidak pernah percaya kepada Yesus.

Yakobus 2:2-4 (TB) 2Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, 3dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: ”Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: ”Berdirilah di sana!” atau: ”Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, 4bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

 

2. Melakukan Hukum yang Utama

Yakobus 2:5 (TB) Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? 

Orang Yahudi sangat mengerti bahwa hukum yang utama adalah mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri. Demikianlah Allah lebih dulu mengasihi manusia yang berdosa, manusia yang terjebak dalam dosa. Tidak peduli ia kaya atau pun miskin. Bagi Allah semua manusia sama-sama miskin di hadapan-Nya. Maka harus menerima kasih karunia. Seperti yang telah saya jelaskan. Bahwa permasalahan terbesar Anda dan saya adalah dosa kita.

Dunia dan kemegahannya akan selalu memandang manusia miskin dan tidak berharga. Maka manusia harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari dunia. Itulah yang Yakobus jelaskan bahwa kita semua adalah orang miskin di mata dunia. Tetapi saudaraku, di dalam Yesus, kita menerima kekayaan yaitu iman.

Kita dipilih untuk sadar akan kemiskinan sejati yang ada di dalam diri kita, yaitu kita telah kehilangan kemuliaan Allah, kita telah berdosa dan layak binasa. Maka dari itu kita menerima kasih yang begitu besar. 

Ketika Anda dan saya telah menerima kasih itu, bukankah kita telah diubahkan. Maka pada ayat 8 Yakobus menjelaskan dasar dari tidak memandang muka dalam hal menghormati sesama. Adalah kasih, yaitu hukum yang utama. Di mana Anda dan saya diperintahkan, diajak dan berikan perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. ketika kita dapat mengasihi, maka pada dasarnya kita telah mematikan kecenderungan kita yang berdosa. Tapi tunggu dulu…..!

Mari kita pikirkan hal ini, sehingga renungan ini tidak hanya sekedar ajakan untuk Anda dan saya mengasihi dan menghormati orang yang rendah di mata dunia sehingga di mata kita mereka pun rendah.  

Di ayat selanjutnya Yakobus menjelaskan. Setiap orang yang hanya memperhatikan bagian, atau Sebagian dari hukum Taurat dan mengabaikan yang lainnya. Maka orang tersebut besalah atasnya, orang tersebut telah berdosa, orang tersebut layak untuk dihukum. Sehingga kita tahu, apa yang kita lakukan untuk mengasihi dan menghormati sesama kita bukanlah untuk menerima keselamatan.

Baca Juga: Kehidupan yang baru dengan cara pandang yang baru

Tidak ada satu pun manusia yang dapat sempurna, melakukan hukum dan hukum tidak menyelamatkan. Hukum adalah cermin yang menunjukkan kepada kita betapa berdosanya kita, kita gagal mengasihi sesama, kita gagal mengampuni dan kita banyak gagal untuk menuruti setiap hal  yang Allah inginkan kita lakukan.

Yakobus 2:10-11 (TB) Sebab barangsiapa menuruti hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan juga: “Jangan berzinah,” Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.

Penghormatan kepada sesama, haruslah berpusat pada Yesus, kita akan bersama-sama masuk ke poin yang ke 3. Di mana inilah dasar kita, untuk dapat mengasihi sesama kita dan melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Yaitu belaskasihan yang mengalahkan penghakiman.


3. Belas Kasihan Menang Atas Penghakiman

Yakobus 2:12 (TB) Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.

Yakobus 2:12 Indonesia Literal Translation (ILT) Berbicalah sedemikian rupa dan bertindaklah sedemikian rupa seperti orang yang akan segera dihakimi oleh torat pembebasan.

Yakobus 2:12-13 (FAYH) Saudara akan diadili atas dasar apakah Saudara melakukan kehendak Kristus atau tidak. Sebab itu, berhati-hatilah dengan apa yang Saudara lakukan dan pikirkan; karena tidak akan ada belas kasihan bagi mereka yang tidak menaruh belaskasihan. Tetapi jika Saudara berbelas kasihan, maka belas kasihan Allah terhadap  Saudara akan meniadakan hukuman-Nya terhadap diri Saudara.

Setiap perbuatan kita, setiap tingkah laku yang baik bukanlah dasar dari kebenaran kita, karena apa pun itu yang kita kerjakan. Haruslah dengan kesadaran bahwa Kristus telah mati atas segala dos akita, Dia yang telah menjadi dosa sehingga kita memiliki kehidupan yang baru.

Kita haruslah kembali kepada iman yang benar, iman yang berpusatkan pada Injil. Di mana kita bukan mengasihi untuk diselamatkan. Tetapi kita mengasihi karena kita telah dikasihi oleh Allah, karena Kristus telah disalibkan. Yesus adalah pusat dari semua kebaikan kita, karena nama Dialah yang harus dikabarkan di balik semua kebaikan kita.

Pada akhirnya, tujuan utama Kekristenan kita adalah mengenal Yesus, untuk menjadi seperti Kristus dan memberitakan Kristus kepada dunia yang telah mati. Dan tidak mengenal Dia dan ada di dalam kegelapan dunia dan begitu frustasi. Sama seperti kita ketika kita belum berjumpa dengan Yesus.

Yesus menerima semua penghakiman kita, Yesus dihancurkan karena dosa kita, Yesus inilah yang harus disembah dan wujud dari penyembahan kita adalah mengasihi sesama kita. 

“Aku mengasihi sesamaku karena Kristus telah mengasihi aku, karena Kristus  telah disalibkan untuk menjadikan aku anak Allah. Yesus bukan memberkan berkat fana, tetapi berkat sejati yaitu diri-Nya ada bersama-sama dengan aku yang berdosa.” Baiklah kita berkata demikian dan dengan pengakuan iman. Bahwa kasih kita adalah tentang Yesus yang disalibkan.

Dia yang telah berbelas kasihan kepada manusia berdosa. Jiwa-jiwa yang merasakan lapar dan haus dan penderitaan akibat dosa yang mengerikan dan mematikan.

Matius 9:13 (TB) Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku dayang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Markus 6:34 (TB) Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Lukas 10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya:” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Saudaraku baik Anda orang kaya, bertobatlah Anda adalah orang miskin tanpa Yesus Anda benar-benar tidak berguna. Anda hanya bernapas namun mati. Saudaraku yang hidup ada di dalam kemiskinan, jangalah takut, karena Yesus adalah kekayaan sejati Kekristenan kita, ketika Anda dan saya melayani Dia, mengabarkan nama-Nya tidak peduli Anda miskin mau pun kaya. 

Petani biasa mau pun pengusaha dan pegawai. Ketika kita mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Ia disalibkan untuk memenerima semua hukuman dosa kita, maka kita satu, kita ada di dalam persekutuan yang satu di dalam Yesus Kristus.

Pada akhirnya, baiklah kasih Yesus melimpah di dalam hati dan pikiran kita sehingga kita mengasihi sesama kita yang paling hina. Kita mengasihi sesama karena mereka ciptaan Allah, bukan karena mereka kaya dan memiliki benda fana. 

Bertobat berarti mengakui bahwa kita miskin, tidak berdaya dan tidak benar. pada saat inilah kita dibenarkan karena kebenaran Kristus bukan. Semua ini semata-mata adalah pemberian Cuma-Cuma.

Baiklah kita dengan berani menegakkan kebenaran Injil dan hidup hanya berpusat pada Injil, menginginkan Yesus yang disalibkan dan melakukan apa yang Yesus lakukan dan inginkan kita lakukan. Pada saat-saat kehidupan sekarang ini, kehidupan yang benar-benar fana dan tidak berguna di luar Kristus. 

Baca Juga:

Sebab karena belaskasihan, maka penghakiman atas orang-orang percaya tidak lagi ditimpakan kepada-Nya. Karena penghakiman kekal yang membinasakan telah diberikan kepada Yesus dan semua itu sudah selesai. Kita ada di dalam kemah fana/tubuh kita saat ini, hanya untuk Dia dan memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, karena Yesus mati untuk banyak orang bukan hanya untuk kita.

Bapa yang baik, terimakasih untuk pemberian terbesar dari-Mu, yaitu Yesus Krisus yang telah disalibkan itu. Yesus yang telah menerima kutuk dosa. Dan Dia kini dimuliakan di dalan Engkau dan kemuliaan Allah yang telah hilang kini ada bagi kami yang berdosa ini. Segala pujian dan kemuliaan hanya bagi Allah sampai selama-lamanya. Kasih-Mulah dasar dari kasih yang dapat kami berikan kepada dunia yang binasa tanpa-Mu. Di dalam nama Yesus. Amin.

Posting Komentar untuk " Renungan Yakobus 2:1-13 Tentang Mematikan Kecenderungan Alami Diri"