Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Khotbah Ibadah Rumah Tangga; Bahan Refleksi Pribadi

Renungan Khotbah Ibadah Rumah Tangga; Bahan Refleksi Pribadi

Renungan Firman Tuhan kali ini Terdiri dari 5 renungan, dapat dipakai sebagai bahan renungan bersama-sama keluarga dan rumah tangga. 

Dapat juga dijadikan refrensi Khotbah Anda. Setiap renungan berpusat pada Injil dan membawa kita merenungkan kekudusan Allah dan bagaimana setiap sifat yang ada di dalam diri Allah mempengaruni hidup kita sebagai anak Tuhan.

Renungan kali ini, berdasarkan Ayat-ayat Alkitab kitab Kejadian, jika Anda ingin membaca renungan-renungan lainnya dapatkan di Blog agungraditiaw.com. Yang akan update setiap hari. Baik itu saat teduh pagi hari, artikel-artikel berpusat pada Injil. Dan pembahasan lainnya tentang zaman ini.

Saya berdoa, kiranya setiap renungan saat teduh yang telah saya tulis, dapat membawa Anda semakin mengenal Tuhan dan mengasihi Tuhan dan memberitakan Kristus di mana saja Anda berada saat ini. Roh Kudus memampukan kita semua.

Bersyukur kepada TUHAN yang telah mengaruniakan Kristus bagi kita, sehingga kita hari ini tetap dalam pengharapan. Maka saudaraku, temukanlah harapan itu melalui renungan-renungan yang berpusat pada Injil. Baca juga: Renungan Paskah 2022

Renungan Khotbah Ibadah Rumah Tangga 2022; Bahan Refleksi Pribadi

1. Hati yang panas dan muka yang muram

Renungan Rumah Tangga Berdasarkan Kejadian 4:6

Kejadian 4:6 (TB) Firman TUHAN kepada Kain: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? 

Apa yang menjadi pusat dari perasaan dan pikiran Anda, itulah yang akan menggerakkan tindakan Anda dan begitu juga dengan saya. Ketika Kain menjadi marah, ia tidak tahu mengapa Allah tidak menerima persembahannya. 

Saudaraku, paling tidak cerita Kain memberikan kepada kita satu contoh nyata dari hati dan pikiran Anda dan saya. Kita yang telah ada di dalam dosa karena kita adalah keturunan Adam sama seperti Kain. Demikianlah kita yang sedang bingung seringkali melakukan tindakan yang menyakiti sesama kita, di mana segala hal tentang kita dan perasaan kitalah yang menjadi pusat.

Kita yang juga seringkali ada di posisi Kain, memiliki hati yang panas dan muka yang muram. Kita yang merasa bahwa dunia dan keadaan sedang tidak mendukung kita, seolah-olah semuanya terlihat gelap dan menyesakkan hati. Mungkin ketika Anda ada di dalam keadaan yang paling susah, akan selalu ada himbauan bagi Anda, untuk belajar bersabar. Untuk tetap bersyukur. Untuk tetap berpikir positif. 

Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah semua ini cukup dengan bersabar mengendalikan emosi. Dengan bersyukur terima saja keadaan. Cukup dengan berpikir positif. Agar Anda tidak lekas marah, agar muka Anda tidak muram dan hati Anda tidak panas.

Lebih dari semua itu setiap hati yang panas, setiap muka yang muram. Satu hal yang sangat Anda dan saya perlukan ketika mengalami semua itu, yaitu  kasih karunia, kita membutuhkan kasih karunia dari Allah yang menciptakan kita, yang membentuk kita, Dia yang mengasihi kita dan napas kita dihembuskan oleh Dia.

Setelah rasa amarah yang menguasai Kain, setelah ia tidak mengindahkan teguran dari Allah untuk tidak panas  hati. Dan setelah ia tetap membiarkan dosa menguasainya. Ia membunuh adiknya dan darah adiknya beteriak kepada Allah.

Inilah titik di mana Anda dan saya dapat melihat Injil, kabar baiknya Kain adalah Anda dan saya, kita sama berdosanya dengan kain, kita sama bersalahnya dengan kain dan betapa kita sama layak binasa sama seperti kain. Kasih karunia yang melimpah dari Allah, Dia adil dan kudus, semua hukuman dosa kita dan dosa kita yang busuk ditimpakan kepada Kristus.

Baca Juga: Ciri orang saleh menurut Alkitab

Perjanjian Baru memberikan gambaran yang jelas, bahwa Kain adalah sih jahat (1 Yohanes 3:12), itu adalah Anda, dan darah Habel adalah gambaran dari darah Kristus  yang ditumpahkan untuk menguduskan pendosa seperti Anda dan saya. Kristus adalah jalan kebenaran, maka hanya ketika Ia membenarkan manusia berdosa yang percaya, kita yang pendosa sama seperti Kain dibenarkan karena Kristus bukan karena kita benar.

Kita dapat dilepaskan dari wajah muram dan hati yang panas, ketika Kristus menjadi pusat dari setiap tindakan dan cara berpikir. Kita sangat mengerti Yesus  yang disalibkan bagi saya, adalah Dia yang melihat manusia hina seperti saya, tetapi Ia mau menerima saya. Ini sangat indah, ini sangat berkesan dan membuat Anda dan saya berserah kepada-Nya. Ketika Roh Kudus bekerja di dalam diri kita maka kita bertobat kita sadar, hanya oleh kasih karunia saja kita memiliki pengharapan dan makna dari hidup.

Sehingga tidak ada yang perlu disalihkan, tida ada kemuliaan diri kita yang perlu kita pertahankan. Tidak ada rasa marah karena kita melihat orang lain lebih berkenan kepada Allah, karena pada realitanya Anda dan saya juga berkenan kepada Allah bukan kerena usaha kita  tetapi kerena kasih karunia. 

Sama seperti kain yang menerima kasih karunia, sebab ia telah Allah tegur, untuk tidak menjadi panas, untuk tidak menjadi muram. Untuk melawan dosa agar dosa tidak menguasainya. Meskipun kain jatuh ke dalam dosa dan telah membunuh Habel. 

Bukankah Ia tetap menerima belas kasih Allah, ini adalah Injil yang berasal dari Allah, bukan berarti dosa dibenarkan tidak, dosa tetap menerima hukuman, tetapi ketika Anda memperhatkan kasih karunia yang besar dari Allah di dalam cerita ini pada (Kejadian 4:15-16). 

Ketika saya merenungkan ayat ini, saya bertobat dan meminta rahmat dari Kristus yang disalibkan untuk dimampukan saya untuk melihat betapa hanya Yesus yang layak menerima kemuliaan dan diri saya  tidak ada samasekali kemuliaan yang dapat saya pertahankan. Segala kemuliaan hanya bagi Allah yang penuh rahmat dan kasih karunia. Amin.


2. Mencari penghiburan

Renungan Rumah Tangga Berdasarkan Kejadian 5:29

Kejadian 5:29 (TB) dan memberi nama Nuh kepadanya katanya: “Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN.”

Manusia berjuang untuk mendapatkan banyak hal, mengusahakan tanah dan hidup membentuk keluarga.  Mereka bertambah banyak dan beranak cucu. Di tanah yang terkutuk inilah manusia bersusah payah berharap akan adanya  penghiburan dan kesenangan. Tetapi semua itu sia-sia, bahkan sampai kematian menjemput, ketika manusia tidak berjumpa dengan Sang  Pencipta manusia tetap hidup tanpa makna dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan, keinginan terdalam jiwa mereka.

Ketika merenungkan ayat di atas, ketika saya yang saat ini berada di dalam Kristus dan menemukan semua kepenuhan hidup melalui pengorbanan Kristus. tetapi mereka berharap Nuh, anak yang baru saja dilahirkan memberikan penghiburan. Saya memikirkan bertapa banyaknya orang di luar sana membutuhkan Injil, saudaraku marilah kita menjadi pemberita Injil, marilah kita melihat dengan serius, betapa manusia  binasa, tersesat di luar Kristus.

Bukankah ini terjadi hingga masa kini, di mana banyak keluarga berharap anak merekalah yang menjadi pusat dari penghiburan, pusat dari setiap kebahagiaan di dalam keluarga mereka. Saudaraku semua hal yang terjadi dan menghasilkan hasil yang sia-sia ini, adalah akibat nyata dari manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. 

Ini adalah suatu kesalahan yang amat besar, kesalahan yang mungkin dianggap suatu kebenaran bahkan bagi Anda yang saat ini membaca renungan ini, suatu kesalahan yang menjadikan manusia tuhan, harapan palsu dan hasil dari pemberontakan manusia terhadap Allah. Apakah benar-benar anak Anda dapat menjadi penghiburan sejati? Apakah benar-benar mereka dapat melepas penat? Apakah benar-benar anak-anak yang lucu itu dapat menjadi juruselamat Anda?

Setiap pemikiran yang salah, setiap pengertian yang tidak berpusat pada Allah dan pada manusia, baiklah kita bertobat dan mencari penghiburan sejati, penyembahan sejati dan pusat dari kekaguman hati dan pikiran kita kepada Allah yang telah menciptakan kita.

Manusia yang seharusnya binasa, tetapi karena kasih yang besar dari Allah, Ia mengaruniakan Anak-Nya, Kristus disalibkan untuk menerima semua kesalahan Anda dan saya, semua manusia. Umat-Nya,yaitu gereja-Nya agar kita dikuduskan, dilayakkan untuk menerima  semua janji Allah, yaitu keselamatan kekal, persekutuan yang indah bersama Sang Pencipta. Hidup untuk memuji dan memuliakan Allah dan dipuaskan di dalam Dia dan oleh Dia saja.

Baca Juga: 

Saudaraku, Anda dan saya diciptakan untuk Allah dan untuk memiliki hubungan yang erat dengan Dia dan dipuaskan melalui hubungan tersebut. Hanya ketika kita hidup bersama dengan Dia dan menikmati kehadiran-Nya maka kita benar-benar dipuaskan dengan cara hidup yang baru. 

Demikianlah saudaraku, kehidupan kita yang fana saat ini sebenarnya ada untuk menemukan kasih dari Allah, dipuaskan di dalam Allah dan benar-benar besekutu dengan Allah dan melalui persekutuan dengan Allah inilah, hubungan kita dengan sesama manusia akan menjadi lebih indah dan baik.

Karena dosa hubungan manusia dan Allah terputus, manusia dan manusia saling menyakiti dan membenci. Mereka memakai kebenaran masing-masing untuk mempertahankan kemuliaan diri dan tidak ingin  kalah dan sampai akhirnya saling membunuh. Maka di dalam ayat yang sedang direnungkan, orang tua Nuh berharap dari kelahiran Nuh akan datang satu penghiburan. Tetapi ini telah saya jelaskan suatu kesalahan.

Ketika kita sadar kita berdosa dan kita telah jauh dari Allah, sedangkan hanya Allah saja yang dapat memuaskan Anda dan saya. maka Kristus datang, Injil memberitakan kepada kita, bukan kita yang datang kepada Allah, tetapi Dia Allah yang datang kepada kita untuk membawa Anad dan saya kepada Allah yang benar, Allah yang kudus dan Allah yang telah menciptakan manusia. 

Hanya di dalam Kristus saja, kita dibenarkan untuk menikmati kemuliaan Allah dan didalam Dia penghiburan yang berasal dari Roh Kudus dinyatakan. Carilah Tuhan, temui Dia melalui ibdah pribadi Anda. Dan hanya Di dalam Dia kita hidup dalam kepenuhan, terpujilah Tuhan sampai selama-lamanya. Amin.


3. Tidak selamanya Allah tinggal di dalam manusia 

Renungan Rumah Tangga Berdasarkan Kejadian 6:3 

Kejadian 6:3 (TB) Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”

Ketika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan sangat merasa sedih, ketika melihat keterpisahan manusia dengan Allah, ketika Allah menghajar manusia tanpa putus-putusnya karena mereka melawan Dia. Manusia yang seharusnya memiliki hubungan yang indah dengan Allah, tetapi ia telah melawan Allah, memberontak terhadap Allah dan tidak ingin menyembah Allah.

Kemuliaan Allah yang telah hilang dari manusia merupakan konsekuensi yang mengerikan di mana manusia benar-benar mati dan binasa. Dan ketika merenungkan bagaimana Roh Kudus tidak selamanya tinggal di dalam manusia ini adalah masalah yang sangat serius sehingga menjadikan manusia semakin jahat.

Sudaraku, masalah Anda dan saya, semua umat manusia, kita adalah musuh Allah, kita telah melawan Allah, ya Allah itu baik. Tetapi ini menjadi masalah, karena Dia yang baik membenci kejahatan hati manusia, kebohongan hati manusia, membenci setiap pendosa yang selalu melawan Dia dan tidak ingin menyembah Dia dan tidak ingin bertobat. 

Masalah kita, kita mati dalam dosa kita, kita binasa karena kita tidak pernah akan bisa datang kepada kemuliaan Allah, sebab kita yang adalah daging yang kotor, najis akan binasa oleh karena kemuliaan Allah, kemuliaan yang membakar setiap kenajisan yang ada di dalam diri manusia. Sebab natur kita yang berdosa tidak akan pernah hilang.

Tetapi puji Tuhan, kenaikan Kristus setelah Ia bangkit, memberitakan kepada Injil yang memberikan pengharapan baru akan hidup ini, di mana Roh yang dulunya tidak ada di dalam kita, kini ketika kita tinggal di dalam Yesus, kita percaya kepada Yesus, pada saat itulah Roh Kudus ada di dalam kita, Ia yang menginsapkan kita dari dosa dan memberikan kepada kita keberanian untuk memberitakan Kristsus. Semua ini adalah betapa besarnya kasih karunia Allah, di mana keadilan dan kasih ditegakkan bersama-sama di atas salib.

Baca Juga: Renungan Matius 4:4

Jika di Perjanjian Lama Roh Kudus tidak tinggal di dalam diri manusia, kita yang ada di dalam Kristus menjadi tempat di mana Roh Kudus dapat tinggal di dalam kita dan berkarya. Hanya melalui Roh Kudus kita memiliki kehidupan yang baru dan arah yang baru untuk melakukan visi Kristus, ketika Ia di dunia apa yang Ia lakukan, Ia memberikan kasih-Nya kepada banyak orang.

Setiap kita yang mengakui murid Kristus, setiap kita yang telah percaya kepada Dia dan telah menikmati dengan sungguh keseluruhan kasih-Nya yang sempurna. Karena Dia ada di dalam kita, Roh Kudus tidak lagi pergi dari kita, Ia menginsapkan dan memperlakukan kita sehingga kita bertobat. Kita dijadikan baru karena Roh Kudus di dalam kita, saat ini, sekarang dan tidakkah Anda menikmati-Nya.

Ia datang untuk mengajarkan segala sesuatu tentang Injil Yesus, memberikan kepada kita pengertian tentang kitab suci. Kasih yang abadi, kasih yang menyatakan Ia disalibkan untuk mengantikan kita segala hukuman dosa kita dijatuhkan kepada-Nya, padahal Yesus tidak pernah berdosa, Yesus diremukkan karena pelanggaran kita, karena kita telah memberontak kepada Allah.

Hanya melalui jalan pengorbanan yang sempurna dan pengorbanan ini kita dapatkan dari Kristus, untuk kemuliaan Allah. Karena Dia yang berkenan kepada Allah. Roh Kudus yang telah Kristus minta kepada Bapa, kini setelah Ia tidak lagi dibatasi oleh tubuh yang fana. Kristus mengirimkan Roh Kudus, sehingga Injil bukan hanya tentang Yesus disalibkan, Yesus bangkit, Yesus naik ke Sorga. 

Injil juga tentang Roh Kudus yang ada di dalam kita, memberikan kita kuasa untuk mengalahkan dosa, mematikan kekuatan daging, Roh Kudus juga yang mengajari bagaimana seharusnya kita berdoa di dalam nama Yesus dengan pondasi yang Alkitabiah.

Injil juga tentang Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita, sebagai berkat terbesar setelah Kristus, dan keduanya, baik itu penebusan yang sempurna yang dikerjakan Kristus dan Roh Kudus yang meneguhkannya. Tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya Roh Kudus memuliakan Kristus di dalam kita dan Kristus adalah jalan untuk membawa kita kembali kepada Bapa sehingga kita dinyatakan tidak bersalah karena kebenaran Kristus, kebenaran ini kita dapatkan karena Roh Kudus menjadikan kita baru ketika kita percaya kepada Yesus.


4. Keselamatan yang berasal dari Allah

Renungan Rumah Tangga Berdasarkan Kejadian 7:1 

Kejadian 7:1 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan  seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antaran orang zaman ini.

Nuh mendapatkan kasih karunia dari Allah, bukan karena Nuh orang benar, bukan karena dia layak. Nuh adalah orang biasa yang cinta pada Allah, kecintaan kepada Allah yang benar dan tidak berpusat pada diri dan keberhasilan. Nuh juga memberikan kepada kita gambaran yang utuh dari kehidupan Kristen tentang ketaatan kepada Allah, kedekatan dengan Allah, dan bagaimana hidup tidak sesuai dengan prinsip dunia ini.

Baca Juga: Saat Teduh tentang bersukacita

Kita harus tahu, masa di mana Nuh hidup, manusia semakin jahat, manusia semakin berdosa dan tidak terkendali. Manusia melakukan segala hal sesuai dengan apa yang ia pandang baik. Segala hal, asalkan itu menyenangkan hatinya, akan selalu ia lakukan. Demikianlah Allah muak melihat dosa, melihat segala kejahatan manusia.  

Allah memusnahkan manusia dengan air, tetapi Nuh mendapatkan belaskasihan Allah, belaskasihan yang sama Anda dan saya dapatkan sekarang. Bukan karena saleh, bukan karena kita layak, bukan karena kita benar dan sangat berharga dalam dosa. Tetapi ini kasih karunia (Efesus 2:8-9), sama seperti Nuh yang menjadikan bahtera untuk keselamatan bagi ia dan keluarganya dan orang-orang pada masanya yang ingin bertobat.

Pada masa kini, Kristus memberikan kepada kita kasih karunia melalui diri-Nya, Ialah yang menjadi Bahtera keselamatan bagi diri kita, keselamatan dari kebinasaan kekal, bahtera keselamatan yang memberikan kehidupan baru untuk hidup taat kepada Dia dan melakukan segala hal yang menjadi kehendak-Nya. 

Kita dibebaskan bukan hanya dari hukuman kutuk dosa, kita dibebaskan dari dosa yang memperbudak. Setiap kecenderungan yang jahat, pemberontak dan segala hal yang merugikan diri. Kita dibawa ke dalam kehidupan baru untuk memperjuangkan nilai-nilai hidup untuk sesuatu yang kekal. Keselamatan yang berasal dari Kristus, menjadikan kita duta kerajaan Allah, pemberita Injil, menyerukan betapa binasanya manusia tanpa Kristus.

Kasih yang berasal dari Allah melalui Kristus memberikan kita, pengharapan, bukan karena kebenaran Anda dan saya, bukan karena apa yang telah kita kerjakan. Ini semua karena apa yang Kristus kerjakan bagi kita dan kita menemukan diri kita aman dalam Kristus karena kita menjadi milik kepunyaan-Nya yang berharga, dikasihi dan ditebus dengan darah yang mahal.

Melalui salibnya, kita melihat dosa kita yang membinasakan jiwa, puji Tuhan pada saat yang sama kita tenang di dalam Kristus, kita sadar betapa kita harus bertobat dan menerima pengampunan dosa dari Kristus sebab di dalam Dia saja, melalui Dia saja kita diselamatkan.

Tuhan, terimakasih untuk keselamatan dan setiap sumber daya yang tersedia. Untuk setiap anugerah yang Kau berikan melalui anak-Mu Yesus Kristus yang telah disalibkan dan bangkit. Dan sampai hari ini, kami menunggu dan terus bekerja untuk kemajuan Injil-Mu. Segala pujian hanya bagi Allah saja. Di dalam nama Yesus. Amin.


5. Benar di mata Tuhan untuk menjadi milik-Nya

Ayat Alkitab Kejadian 7:1

Kejadian 7:1 (TB) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.

Saya ingin Anda menyadari hal ini terus-menerus, karena sangat gampang kita melupakannya. Dan ketika Anda dan saya ada di dalam dosa, kita lupa dan kita berpura-pura lupa. Kita merasa bahwa hidup kita adalah milik kita, kita merasa bahw semua hal yang sempurna Allah berikan kepada kita, baik itu setiap potensi dan semua sumber daya. Semua itu milik kita dan bukan milik Allah.

Memang ada beberapa orang mengakui bahwa apa yang ia miliki saat ini adalah titipan Tuhan, tetapi kesadaran yang demikian hanya untuk menunjukkan ia rendah hati dan layak untuk dikatakan orang baik dan sadar. Maka semua pengakuan itu sia-sia, karena ia tetap hidup bagi dirinya sendiri. 

Anda dan saya milik Allah, yang karena karunia-Nya kita mendapatkan semua hikmat untuk bebas dalam kehidupan, bebas untuk terus dalam kasih yang sejati melihat setiap kemuliaan-Nya. Dan bekerja hanya untuk memajukan Injil, hidup untuk memberitakan kasih karunia yang ada di dalam Kristus, yang telah disalibkan. 

Dia yang menjadi dosa agar sih pendosa diselamatkan dari murka yang akan datang, ketika pendosa ini sadar bahwa hidupnya milik Allah dan begitu menyedihkan dan tidak bergunanyan hidup, jika bukan Kristus yang menjadi pemilik kehidupan.

Ketika Nuh dibenarkan, kebenaran itu berasal dari Allah yang benar, Allah yang berkuasa, Allah yang meciptakan kehidupan. Sehingga yang harus kita mengerti bahwa kebenaran berasal dari Allah bukan diri manusia. Dan Nuh dan keluarganya yang telah diselamatkan melalui kayu yang dijadikan bahtera, sehingga mereka tidak tenggelam dalam air murka Allah yang kekal dan kudus. Kita dapat menyadarinya sekarang bahwa kasih karunia dan keadilan hanya Allah yang memiliki-Nya.

Demikianlah keselamatan Anda dan saya, hanya melalui salib, hanya ketika Anda dan saya bersama-sama Yesus menyalibkan dengan sengaja setiap daging. Kita dimatikan atas dosa-dosa kita sehingga kita tidak mendapatkan murka. Maka kebenaran yang berasal dari Kristus adalah kebenaran kita, karena kita bukan hanya mati bersama Yesus, tetapi juga dibangkitkan bersama Yesus, mendapatkan kehidupan yang baru (2 Korintus 5:17).

Melalui kehidupan yang baru inilah kita mendapatkan cara pandang yang baru, kita hidup untuk pekerjaan yang kekal. yaitu sama seperti Kristus yang mengorbankan diri-Nya untuk menyelamatkan orang bedosa. Demikianlah kita ditantang untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman tanpa memperdulan keselamatan sesama. Dan hidup untuk kemajuan pemberitaan Injil bagi kemuliaan Kristus.

Membawa lebih banyak orang untuk menyalibkan diri mereka bersama Yesus, untuk menjadi pekerja Kristus yang dengan setia terus selama hidup, hidup hanya untuk sistem nilai yang kekal. Saudaraku, saya sedang mengarahkan Anda untuk hidup dalam permuridan, kehidupan yang diubahkan oleh Injil dan untuk memberitakan Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang memberikan Anda dan saya kekuatan. 

Demikianlah Injil yang diberitakan secara murni, bahwa manusia berdosa dan sangat berdosa lebih berdosa dari yang dapat mereka pikirkan. Tetapi pada saat yang sama mereka lebih dikasihi dari yang dapat mereka pikirkan, hanya melalui Kristus maka kehidupan menjadi sangat bermakna, menjadi sangat bergua dan tidak sia-sia.

Saudaraku, keyakinan akan Injil, adalah keyakinan yang benar, keyakinan yang membuat orang-orang abad pertama banyak mati dan tanpa rasa takut. Karena pengharapan mereka terletak pada Kristus yang berjanji bahwa Ia menyertai kita sepanjang zaman, Ia bersama-sama mereka memberikan jiwa yang tenang dan berani menerima setiap maut. Asalkan Injil dapat sampai ke ujung bumi. 

Pelajaran yang berharga ini kita dapatkan juga dari Nuh, untuk mempertahankan imannya, ia tetap membangun Bahtera yang jika dipikir secara logika hal yang aneh dan tidak masuk di akal.

Tetapi demikianlah Injil yang berasal dari Allah, kematian dan kesengsaraan yang ada di dunia, Ia pakai untuk kita dapat melihat kehidupan kekal yang di dalam kemuliaan yang berasal dari Allah. Salib yang adalah lambang kematian yang memalukan, menjadi pengharapan yang sejati dan abadi, ketika Kristus mati di atasnya.

Baca Juga: Renungan Matius 5:13

Semua yang benar dan baik di mata manusia, selalu bertentangan denga napa yang benar dan baik menurut Allah, Ia membenarkan kita, karena kasih karunia, hanya ketika kita mengenakan kebenaran Kristus, maka kita benar. Dan karena kasih karunia, oleh darah yang mahal itu, kita menerima kebenaran Allah dan kita dapat menayangkal diri kita dan hidup hanya bagi Kristus sampai kita bertemu muka dengan Dia.

Tuhan, terimakasih yang menebusku yang bedosa, aku yang tidak berguna menjadi sangat berguna dan bermakna ketika Kristus menjadi pemilik hidupku dan aku memiliki Kristus. Biarlah hidupku terus bermegah karena Kristus adalah kemegahanku dan yang paling berharga. Segala pujian bagi Allah saja. Amin.

Posting Komentar untuk "Renungan Khotbah Ibadah Rumah Tangga; Bahan Refleksi Pribadi"