Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Disiplin Rohani yang Paling Penting

Menurut Charles R. Swindoll berkata bahwa salah satu disiplin rohani yang paling penting untuk kita miliki adalah penyerahan diri pada Tuhan. Penyerahan diri dalam hal ini menyangkut penyerahan keakuan/ego diri sepenuhnya pada Tuhan. Kehendak, rencana, impian bahkan apa yang kita genggam dan kita ikat di hati harus kita serahkan semuà dalam berkat dan kehendak-Nya. 

Kristus dalam hal ini telah menjadi teladan bagi kita ketika Ia datang ke dalam dunia mengosongkan diri hingga tergantung di kayu salib, Ia kemudian berkata, "Bapa ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku." Ia yang adalah berkuasa atas surga dan dunia bahkan yang setara dengan Allah itu sendiri, mau menaklukan kehendak-Nya di dalam kehendak Bapa yang mulia.

Kalau demikian apakah berlebihan jika kita diminta untuk menaklukan diri? Tentu saja tidak! Kaum Puritan paling mengerti akan arti penyerahan diri. Dalam doa yang diberi judul: "Manusia, Bukan Apa-apa." Kalimat demi kalimat sangat indah di tulis oleh kaum Puritan. Semua kata tepat dan sangat mendalam bagi siapa saja yang mau jujur untuk mengakui pentingnya penyerahan diri:

“Ketika Engkau mau membimbingku,

aku mengatur diriku sendiri.

Ketika Engkau mau berdaulat,

aku memerintah diriku sendiri.

Ketika Engkau mau memeliharaku,

aku mencukupi diriku sendiri.

Ketika aku harus bergantung kepada-Mu,

aku mensuplai diriku sendiri.

Ketika aku harus tunduk kepada-Mu,

aku mengikuti kehendakku sendiri.

Ketika aku harus belajar, mengasihi, menghormati, dan mempercayai Engkau,

aku justru melayani diriku sendiri.

Aku menyalahkan orang lain dan menyesuaikan hukum-hukum-Mu agar cocok dengan diriku.

Aku mencari persetujuan manusia, bukan persetujuan-Mu—

pada dasarnya aku adalah penyembah berhala.”


Doa itu berlanjut dengan pengakuan yang menampar namun menyembuhkan:

“Tuhan, keinginanku yang utama ialah membawa hatiku kembali kepada-Mu.

Yakinkan aku bahwa aku tidak dapat menjadi tuhan atas diriku sendiri,

atau membuat diriku sungguh bahagia.

Aku tidak dapat menjadi Kristus bagi diriku sendiri

yang memulihkan sukacitaku.

Aku tidak dapat menjadi Roh bagi diriku sendiri

yang mengajar, membimbing, dan memerintah aku.

Tolong aku melihat bahwa hanya kasih karunia

yang bekerja, bahkan melalui penderitaan.

Ketika aku menjadikan diriku pusat, aku justru terpuruk.

Ketika aku menjadikan kekayaan sebagai allahku, Engkau merenggutnya.

Ketika kesenangan menjadi segalanya, Engkau mengubahnya menjadi pahit.

Ambillah mataku yang tamak, telingaku yang dangkal, seleraku yang rakus,

dan hatiku yang penuh hawa nafsu.

Tunjukkan bahwa semua itu tidak sanggup memulihkan nurani yang terluka,

menopang hidup yang rapuh, atau menguatkan jiwa yang lemah.

Bawalah aku ke kayu salib,

dan biarkan aku tinggal di sana.”

Swindoll kemudian menutup dengan satu kalimat yang tajam:

Kepentingan diri sendiri adalah musuh bebuyutan penyerahan diri.”

Namun menyerahkan diri dan bergantung pada-Nya dalam kerendahan hati adalah jawaban indah sebagai penangkal racun kepentingan diri.

Belajar pada Kristus dan mengikuti teladan-Nya itulah panggilan kita. Itu sebab Yesus Yesus telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita waktu kita masih lemah, masih berdosa dan masih seteru dengan Allah (Roma 5:5-10). Lalu Yesus memberikan suatu syarat yang sangat penting bahwa kita yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Menurut saya inilah wujud penaklukkan kehendak diri dan penyerahan total dalam hidup orang percaya.

Markus 8:34 : Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Mari kita bersama menyerahkan hidup dalam tangan-Nya sepenuhnya maka di sana ada rasa aman sentosa dan bahagia yang tak dapat diambil dan diberikan oleh dunia ini.


Posting Komentar untuk "Disiplin Rohani yang Paling Penting"